Sukses

FimelaMom

1 dari 5 Balita Alami Keterlambatan Bicara, Ini yang Perlu Orangtua Ketahui Tentang Speech Delays

ringkasan

  • Keterlambatan bicara adalah kondisi umum yang memengaruhi hingga 1 dari 5 balita, di mana anak tidak mencapai tonggak perkembangan bicara sesuai usia.
  • Penyebabnya bervariasi dari masalah pendengaran, oral-motor, gangguan perkembangan, hingga faktor lingkungan, sehingga diagnosis dini oleh ahli sangat penting.
  • Intervensi seperti terapi wicara dan stimulasi aktif dari orang tua di rumah dapat secara signifikan membantu mengatasi keterlambatan bicara pada balita.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, memahami perkembangan bicara si kecil adalah hal penting bagi setiap orangtua. Keterlambatan bicara atau speech delay merupakan kondisi umum saat anak tidak mencapai tonggak perkembangan komunikasi pada usia yang diharapkan. Kondisi ini memengaruhi hingga 10% anak prasekolah dan seringkali menjadi perhatian utama orangtua.

Penting untuk membedakan antara keterlambatan bicara, yang berfokus pada kesulitan menghasilkan suara, dan keterlambatan bahasa, yang berkaitan dengan pemahaman dan penggunaan kata. Meskipun berbeda, kedua masalah ini sering tumpang tindih dan memerlukan perhatian serius. Intervensi dini sangat krusial untuk memastikan anak mendapatkan dukungan yang tepat.

Sekitar 1 dari 5 anak mengalami keterlambatan bicara, menjadikannya jenis keterlambatan perkembangan yang paling umum. Mengenali tanda-tandanya sejak dini dan mengetahui langkah yang harus diambil dapat membuat perbedaan besar dalam kemampuan bahasa dan kognitif anak. Deteksi dini sangat penting untuk mendukung anak mencapai potensi terbaiknya.

Mengenali Tanda Keterlambatan Bicara pada Balita Berdasarkan Usia

Sahabat Fimela, perkembangan bicara anak memiliki rentang waktu yang bervariasi, namun ada beberapa tonggak penting yang perlu diperhatikan. Mengidentifikasi tanda-tanda awal speech delays dapat membantu orangtua mengambil tindakan lebih cepat. Perhatikan pola komunikasi si kecil sejak usia dini.

Pada usia 6-9 bulan, bayi seharusnya sudah mulai mengoceh atau babbling, serta merespons suara di sekitarnya. Jika bayi Anda tidak menunjukkan tanda-tanda ini, atau tidak mengeluarkan suara sama sekali, ini bisa menjadi indikasi awal. Saat mencapai 12 bulan, balita diharapkan sudah bisa mengucapkan “mama” atau “dada” dan menggunakan isyarat seperti melambaikan tangan.

Memasuki usia 18 bulan, balita dengan perkembangan normal seharusnya sudah bisa menunjuk bagian tubuh, berkomunikasi saat membutuhkan bantuan, dan memiliki kosakata yang berkembang. Jika si kecil lebih sering menggunakan isyarat daripada vokalisasi atau kesulitan memahami permintaan sederhana, ini patut diwaspadai. Pada usia 24 bulan, anak diharapkan memiliki setidaknya 50 kata dan mampu menyusun kalimat dua kata.

Saat menginjak usia 30 bulan, anak seharusnya sudah bisa menggunakan kalimat sederhana dua hingga empat kata dan mengajukan pertanyaan. Pada usia 3 tahun, anak sudah mampu menyusun frasa pendek dan menceritakan cerita sederhana, sementara di usia 4 tahun, ucapannya harus sebagian besar dapat dipahami orang lain.

Faktor Penyebab dan Diagnosis Keterlambatan Bicara pada Balita

Memahami akar masalah keterlambatan bicara pada balita adalah kunci untuk penanganan yang efektif, Sahabat Fimela. Berbagai faktor dapat berkontribusi pada kondisi ini, mulai dari masalah fisik hingga lingkungan. Identifikasi penyebabnya memerlukan evaluasi menyeluruh.

Salah satu penyebab umum adalah masalah pendengaran, karena anak tidak dapat belajar bicara jika tidak mendengar dengan jelas. Infeksi telinga berulang juga bisa memengaruhi pendengaran. Selain itu, masalah oral-motor, di mana ada kesulitan mengoordinasikan bibir, lidah, dan rahang, dapat menghambat produksi suara bicara. Kondisi seperti apraksia atau disartria termasuk dalam kategori ini.

Gangguan perkembangan seperti Autism Spectrum Disorder (ASD) dan disabilitas intelektual juga seringkali berkaitan dengan speech delay. Faktor lingkungan, seperti kurangnya stimulasi bahasa atau paparan media layar berlebihan, serta riwayat keluarga, juga berperan. Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah pun menjadi faktor risiko.

Jika Anda memiliki kekhawatiran, segera temui ahli patologi wicara-bahasa (SLP) untuk diagnosis. Proses ini melibatkan skrining awal, tes pendengaran, dan evaluasi SLP yang akan menilai bahasa reseptif dan ekspresif anak, serta skrining ASD. Intervensi dini sangat penting untuk hasil terbaik.

Langkah Intervensi dan Peran Orangtua dalam Mengatasi Speech Delay

Intervensi yang tepat dan dukungan dari orang tua memegang peranan vital dalam membantu anak mengatasi speech delay, Sahabat Fimela. Perawatan akan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik anak dan penyebab yang mendasarinya. Jangan ragu mencari bantuan profesional.

Terapi wicara adalah perawatan umum di mana seorang SLP akan bekerja dengan anak untuk meningkatkan keterampilan bicara dan bahasa. Terapis juga akan membimbing orang tua tentang cara melanjutkan stimulasi di rumah. Untuk anak di bawah 3 tahun, program intervensi dini yang didanai pemerintah dapat menjadi pilihan yang sangat membantu. Pendekatan berbasis permainan sering digunakan agar terapi terasa menyenangkan bagi balita.

Peran orangtua di rumah sangat signifikan. Fokus pada komunikasi dengan berbicara, bernyanyi, dan mendorong peniruan suara. Bacakan buku sejak dini dan gunakan situasi sehari-hari untuk memperkaya kosakata anak. Bermain permainan sederhana juga efektif dalam mengajarkan pengambilan giliran dan interaksi.

Modelkan bicara yang jelas, perluas kata-kata anak, dan berikan perhatian penuh saat mereka mencoba berkomunikasi. Batasi waktu layar dan gunakan teknik penundaan waktu untuk memberi anak kesempatan berbicara. Terapkan bicara paralel (membicarakan apa yang anak lakukan) dan bicara diri (membicarakan apa yang Anda lakukan) untuk memperkaya lingkungan bahasa si kecil.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading