Fimela.com, Malang - Ekspresi kemarahan setiap orang berbeda-beda. Ada yang meluapkannya dengan kata-kata tegas, ada pula yang lebih memilih diam sebagai bentuk protes atau perlindungan diri. Diam bukan berarti tidak marah, justru bagi beberapa tipe kepribadian, diam adalah pertanda bahwa mereka sedang memproses emosi dengan intensitas yang jauh lebih dalam.
Beberapa MBTI menunjukkan kemarahan melalui ketenangan yang mengintimidasi. Bukannya berteriak, mereka justru menarik diri, membatasi interaksi, atau berhenti berbicara sama sekali. Sikap ini sering membuat orang di sekitar merasa cemas karena sulit menebak apa yang sebenarnya sedang berlangsung. Reaksi seperti ini juga menunjukkan bahwa kemarahan mereka tidak sekadar emosi sesaat, tetapi sesuatu yang sedang dipertimbangkan secara serius.
Artikel ini membahas lima tipe MBTI yang dikenal memiliki “silent anger” paling kuat. Bukan karena mereka tidak mampu mengekspresikan diri, tetapi karena mereka memilih untuk menjaga kendali dan memikirkan situasi sebelum mengambil tindakan. Memahami pola ini dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih bijaksana.
INFJ
INFJ cenderung menahan emosi demi menjaga harmoni, tetapi ketika batas mereka terlampaui, diam menjadi mekanisme pertahanan utama. Mereka menarik diri karena membutuhkan ruang untuk memproses perasaan yang kompleks.
Ketika marah, INFJ jarang meledak, mereka hanya berhenti berbicara dan menunjukkan jarak yang sangat terasa. Diamnya INFJ sering membuat orang lain kebingungan karena biasanya mereka sangat hangat. Setelah emosi mereda, barulah mereka kembali berbicara dengan jelas dan terarah.
INTJ
INTJ mengelola kemarahan secara rasional, sehingga mereka lebih memilih diam daripada bereaksi impulsif. Ketika marah, mereka akan menutup diri dan menyelami pemikiran internal untuk menilai sumber masalah.
Keheningan mereka terasa tegang karena INTJ biasanya sangat ekspresif dalam hal logika, tetapi menjadi sangat dingin ketika emosinya tersentuh. Mereka tidak ingin konflik memengaruhi objektivitas, sehingga memilih mengambil jarak. Diamnya INTJ sering menjadi tanda bahwa mereka sedang mengevaluasi situasi dengan sangat serius.
ISTJ
Sebagai pribadi yang disiplin dan menghargai keteraturan, ISTJ mudah kecewa ketika prinsipnya dilanggar. Saat marah, mereka tidak akan berteriak, mereka hanya berhenti berbicara dan menunjukkan ketegasan melalui sikap.
Diamnya ISTJ terasa berat karena biasanya mereka cukup komunikatif dalam konteks tugas atau rutinitas. Mereka menggunakan keheningan untuk menghindari kata-kata yang mungkin mereka sesali. Setelah tenang, ISTJ akan menyampaikan keluhan dengan sangat terstruktur dan jelas.
ISFJ
ISFJ jarang menunjukkan kemarahan secara langsung karena mereka sangat menjaga hubungan interpersonal. Namun, ketika benar-benar tersakiti, mereka menarik diri dan menjadi sangat pendiam. Keheningan ini bukan manipulasi, melainkan bentuk kebutuhan untuk melindungi diri dari emosi yang terlalu besar.
Diamnya ISFJ sering membuat orang terdekat merasa ada jarak yang tiba-tiba muncul. Mereka hanya akan kembali berbicara ketika merasa aman dan siap menyampaikan perasaan dengan tenang.
INTP
INTP menghindari konflik karena mereka lebih nyaman dengan diskusi yang logis dan netral. Saat marah, mereka cenderung menarik diri sepenuhnya dan memusatkan energi pada pikirannya sendiri.
Diamnya INTP bukan hanya tentang kemarahan, tetapi juga kebingungan terhadap emosi yang mereka tidak biasa hadapi. Keheningan mereka terasa menegangkan karena tiba-tiba menjadi sangat tidak komunikatif. Setelah proses internal selesai, barulah mereka kembali berdialog dengan pendekatan yang lebih objektif.
Diam bukan selalu tanda kelemahan, terutama bagi lima tipe MBTI di atas. Bagi mereka, keheningan adalah cara menjaga kendali, memahami emosi, dan mencegah konflik menjadi lebih besar. Dengan memahami pola ini, kita dapat lebih bijak dalam menghadapi situasi emosional dan memberi ruang yang mereka butuhkan. Pada akhirnya, komunikasi yang baik dan saling menghargai tetap menjadi kunci dalam setiap interaksi manusia.