Tanda Burn Out pada Anak dan Remaja yang Tidak Boleh Diabaikan

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 09 Juni 2026, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, membesarkan remaja di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan bukanlah hal mudah. Jadwal sekolah yang padat, tugas akademik, kegiatan ekstrakurikuler, tekanan pergaulan, hingga paparan teknologi tanpa henti membuat anak-anak masa kini menghadapi tekanan yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Dilansir dari kidsvillepeds.com, stres sesekali memang bagian dari proses tumbuh kembang anak, terutama remaja. Namun ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa jeda, kondisi ini bisa berkembang menjadi burn out. Burn out pada anak dan remaja bukan sekadar lelah biasa, melainkan kelelahan mendalam secara mental, emosional, dan fisik yang dapat memengaruhi kesejahteraan serta pandangan mereka terhadap masa depan.

Sayangnya, banyak anak memilih memendam perasaan atau mengecilkan masalahnya. Karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenali tanda anak mulai frustasi dan burn out agar dapat memberi dukungan yang tepat sebelum dampaknya semakin besar.

1. Kelelahan Terus-Menerus Meski Sudah Istirahat

Salah satu tanda paling umum dari burn out adalah kelelahan yang tidak kunjung hilang. Anak mungkin terlihat selalu lemas, sulit bangun pagi, sering mengantuk di siang hari, atau merasa tidak bertenaga meski sudah tidur cukup.

Kelelahan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional. Anak bisa tampak tidak bersemangat berbicara, sulit berkonsentrasi, dan enggan terlibat dalam aktivitas keluarga. Jika kondisi ini berlangsung selama berminggu-minggu dan mengganggu keseharian, bisa jadi ini merupakan tanda bahwa stres telah berkembang menjadi burn out.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

2. Prestasi Akademik Menurun Secara Drastis

Saat burn out terjadi, kemampuan otak untuk fokus, mengingat, dan memecahkan masalah ikut menurun. [Dok/freepik.com]

Tekanan akademik menjadi salah satu pemicu utama burn out pada remaja. Anak yang sebelumnya berprestasi bisa tiba-tiba mengalami penurunan nilai, lupa mengumpulkan tugas, atau kesulitan memahami pelajaran meski sudah belajar.

Saat burn out terjadi, kemampuan otak untuk fokus, mengingat, dan memecahkan masalah ikut menurun. Penting bagi orangtua untuk tidak langsung menganggap anak malas. Penurunan akademik sering kali merupakan sinyal bahwa anak sedang kewalahan secara mental dan emosional.

3. Mudah Marah dan Perubahan Suasana Hati yang Tajam

Perubahan hormon memang membuat emosi remaja cenderung naik turun. Namun, jika anak menjadi sangat mudah tersinggung, sering marah tanpa sebab jelas, atau menunjukkan kesedihan berkepanjangan, hal ini patut diperhatikan.

Burn out menguras kemampuan anak untuk mengelola emosi. Akibatnya, hal-hal kecil pun bisa memicu ledakan emosi. Inilah salah satu tanda anak mulai frustrasi dan burn out yang kerap disalahartikan sebagai “sikap remaja biasa”.

 

 

3 dari 3 halaman

4. Keluhan Fisik yang Datang Berulang

Anak yang mengalami burn out mungkin sering mengeluh sakit kepala, sakit perut, mual, nyeri otot, atau pusing, terutama saat menghadapi tekanan seperti ujian atau tenggat tugas. [Dok/freepik.com]

Stres emosional seringkali muncul dalam bentuk keluhan fisik. Anak yang mengalami burn out mungkin sering mengeluh sakit kepala, sakit perut, mual, nyeri otot, atau pusing, terutama saat menghadapi tekanan seperti ujian atau tenggat tugas.

Meski tidak selalu ditemukan penyebab medis yang jelas, keluhan ini nyata dan perlu divalidasi. Tubuh anak sedang memberi sinyal bahwa beban emosional yang mereka rasakan sudah terlalu berat.

5. Kehilangan Motivasi dan Rasa Putus Asa

Tanda burn out yang cukup mengkhawatirkan adalah ketika anak mulai kehilangan motivasi dan harapan. Mereka bisa bersikap apatis terhadap sekolah, masa depan, atau tujuan hidup yang sebelumnya penting.

Ucapan seperti “percuma”, “aku nggak bisa”, atau “nggak ada gunanya” perlu menjadi alarm bagi orangtua. Kondisi ini, jika dibiarkan, dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi.