Kenali 7 Kesalahan Pola Asuh Sepele Orangtua yang Berdampak Panjang pada Mental Anak

Siti Nur ArishaDiterbitkan 06 Mei 2026, 19:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menjadi orangtua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membangun kesehatan mental dan emosionalnya sejak dini. Cara orangtua merespons emosi anak, menghadapi kesalahan, hingga membentuk kebiasaan sehari-hari akan sangat memengaruhi kepribadian anak di masa depan. Anak dengan ketahanan mental yang baik cenderung lebih mampu mengelola stres, percaya pada kemampuannya sendiri, serta tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, anak membutuhkan kemampuan berpikir mandiri, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan masalah. Sayangnya, banyak orangtua tanpa sadar melakukan kesalahan kecil dalam pengasuhan. Kesalahan ini kerap dianggap sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang, padahal jika dilakukan terus-menerus dapat menghambat perkembangan mental anak.

Fenomena ini menjadi perhatian berbagai sebagian banyak orang khususnya pengamat bidang parenting. Dilansir dari Miduty.com terdapat sejumlah kesalahan pola asuh yang umum terjadi dan dapat memengaruhi kondisi emosional anak dalam jangka panjang. Berikut tujuh di antaranya yang perlu dihindari oleh orangtua, perlu kamu simak!

2 dari 3 halaman

1. Meremehkan Perasaan Anak

Masih banyak orangtua yang tanpa sadar menyepelekan perasaan anak dengan kalimat seperti, “Ah, itu tidak penting,” atau “Jangan terlalu sensitif.” Sikap ini membuat anak merasa emosinya tidak dihargai dan belajar untuk memendam perasaan. (foto/dok: freepik)

Ucapan seperti “Jangan lebay” atau “Itu sepele” kerap terlontar tanpa disadari. Padahal, sikap ini dapat membuat anak merasa emosinya tidak valid dan memilih memendam perasaan. Mengakui emosi anak dan mengajaknya berbicara adalah langkah awal membangun ketahanan emosional.

2. Tidak Mendengarkan Anak dengan Sungguh-sungguh

Anak ingin merasa didengar dan dipahami. Ketika orangtua terlalu sibuk atau menganggap cerita anak tidak penting, anak bisa merasa tidak dihargai. Mendengarkan dengan penuh perhatian membantu membangun rasa aman dan kepercayaan diri.

3. Terlalu Sering Menyelamatkan Anak dari Kegagalan

Niat melindungi anak memang wajar, tetapi selalu turun tangan saat anak menghadapi masalah justru menghambat kemandiriannya. Kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang penting untuk membentuk mental tangguh.

4. Terlalu Memanjakan Anak

Memberikan semua yang diinginkan anak tanpa batas dapat membuat mereka kurang menghargai usaha dan sulit mengendalikan diri. Orangtua perlu mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan konsep menunggu melalui aturan sederhana di rumah.

3 dari 3 halaman

5. Selalu Membuat Anak Berada di Zona Nyaman

Keinginan orangtua untuk melindungi anak sering kali membuat anak jarang menghadapi tantangan baru. Padahal, pengalaman baru membantu anak mengembangkan keberanian dan kemandirian. (foto/dok: freepik)

Keinginan orangtua untuk melindungi anak sering kali membuat anak jarang menghadapi tantangan baru. Padahal, pengalaman baru membantu anak mengembangkan keberanian dan kemandirian.

Mendorong anak mencoba hal baru akan memperkaya pengalaman dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.

6. Tidak Menetapkan Batasan yang Jelas

Anak membutuhkan aturan dan batasan agar merasa aman dan memahami tanggung jawab. Aturan yang tidak konsisten dapat membuat anak bingung dan memicu konflik. Batasan yang jelas dan konsisten membantu anak belajar disiplin dan menghargai aturan.

7. Mengabaikan Perawatan Diri Orangtua

Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orangtua tidak menjaga kesehatan fisik dan mentalnya, anak bisa meniru kebiasaan tersebut. Menunjukkan kebiasaan hidup sehat dan cara mengelola stres akan menjadi contoh positif bagi anak.

Penulis: Siti Nur Arisha