Sukses

FimelaMom

Cara Mengajarkan Anak Toilet Training yang Efektif, Orangtua Wajib Tahu

ringkasan

  • Toilet training berhasil saat anak menunjukkan kesiapan fisik, kognitif, dan perilaku, bukan karena usia tertentu.
  • Proses toilet training melibatkan persiapan alat, rutinitas, pemodelan, kemandirian, dan dukungan positif yang konsisten dari orang tua.
  • Mengatasi tantangan seperti penolakan atau kecelakaan dengan tenang dan sabar adalah kunci untuk keberhasilan toilet training anak.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, melatih anak untuk menggunakan toilet atau yang dikenal dengan toilet training adalah salah satu tonggak perkembangan penting bagi si kecil. Proses ini membutuhkan kesabaran luar biasa dari orang tua dan pemahaman mendalam mengenai kesiapan anak. Tidak ada usia pasti yang 'benar' untuk memulai toilet training, karena setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang unik dan berbeda satu sama lain.

Meskipun demikian, sebagian besar anak umumnya mulai menunjukkan tanda-tanda kesiapan antara usia 18 bulan hingga 3 tahun. Memaksakan toilet training sebelum anak benar-benar siap justru dapat menyebabkan frustrasi, baik bagi anak maupun orang tua, serta berpotensi menunda keberhasilan proses ini. Oleh karena itu, mengenali sinyal dari si kecil adalah kunci utama kesuksesan.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai cara mengajarkan anak toilet training, mulai dari mengenali tanda kesiapan, langkah-langkah praktis, hingga mengatasi berbagai tantangan yang mungkin muncul. Dengan panduan yang tepat, proses toilet training bisa menjadi pengalaman positif bagi seluruh anggota keluarga.

Tanda-tanda Kesiapan Si Kecil untuk Toilet Training

Toilet training paling berhasil ketika anak menunjukkan tanda-tanda kesiapan yang meliputi aspek fisik, kognitif, dan perilaku. Memaksakan proses ini sebelum anak siap justru bisa menimbulkan tekanan dan menghambat kemajuan mereka. Penting bagi Sahabat Fimela untuk jeli melihat sinyal-sinyal ini.

  • Kesiapan Fisik: Anak menunjukkan popok kering selama setidaknya satu atau dua jam pada siang hari, atau setelah tidur siang, menandakan kontrol kandung kemih yang lebih baik. Mereka juga memiliki pola buang air besar yang teratur dan dapat diprediksi. Si kecil sudah mampu berjalan ke toilet dan duduk di atasnya, bahkan menarik celana ke bawah dan ke atas sendiri. Fungsi neurologis untuk merasakan dorongan buang air kecil atau besar dan memiliki waktu untuk mencapai toilet biasanya tercapai antara 24 hingga 36 bulan.
  • Kesiapan Kognitif: Anak mampu memahami dan mengikuti instruksi sederhana, seperti instruksi dua langkah. Mereka menunjukkan kesadaran akan fungsi tubuh dan dapat mengomunikasikan kebutuhannya, serta menunjukkan rasa ingin tahu tentang kamar mandi dan apa yang terjadi di sana.
  • Kesiapan Perilaku: Si kecil mulai menunjukkan ketidaknyamanan dengan popok basah atau kotor, mungkin mencoba melepasnya atau meminta untuk diganti. Mereka juga menunjukkan minat untuk menggunakan pispot sendiri, ingin tetap bersih dan kering, serta meniru perilaku orang lain, seperti menggunakan toilet. Keinginan untuk menyenangkan orang lain atau mencari pujian, serta kemampuan untuk mengatakan 'tidak' yang menunjukkan tingkat kemandirian, juga merupakan tanda penting. Anak mungkin menunjukkan tanda-tanda visual bahwa mereka perlu ke toilet, seperti gelisah atau pergi ke tempat yang tenang atau tersembunyi.

Panduan Langkah Demi Langkah dalam Mengajarkan Toilet Training

Setelah anak menunjukkan tanda-tanda kesiapan yang jelas, Sahabat Fimela dapat memulai proses toilet training dengan langkah-langkah yang terstruktur dan penuh kesabaran. Persiapan yang matang akan membantu kelancaran proses ini.

Pertama, siapkan peralatan yang tepat. Gunakan pispot ukuran anak atau dudukan toilet yang pas di atas toilet dewasa, dilengkapi dengan bangku kecil. Bangku membantu anak merasa stabil dan mendapatkan posisi terbaik untuk buang air besar. Biarkan anak duduk di pispot kapan pun mereka mau, baik berpakaian maupun telanjang, tanpa ada paksaan. Mengajarkan anak cara menggunakan pispot adalah tahap penting dalam perkembangan mereka, umumnya dimulai antara 18 hingga 36 bulan saat otot pengontrol buang air sudah berkembang. Letakkan pispot di tempat yang mudah dijangkau dan biarkan anak membiasakan diri dengannya, jelaskan fungsinya dengan bahasa sederhana, dan ajak anak duduk di pispot dengan pakaian lengkap terlebih dahulu agar terbiasa.

Cara Menggunakan Pispot untuk Anak (Toilet Training)

Kedua, ajarkan kosakata sederhana dan sesuai usia yang dapat digunakan anak untuk mengungkapkan kebutuhannya, seperti "pipis", "pup", atau "pispot". Dorong anak untuk mengomunikasikan kebutuhannya secara verbal. Ketiga, buat rutinitas yang konsisten dengan menetapkan waktu-waktu tertentu sepanjang hari untuk mendorong anak menggunakan toilet, misalnya setelah bangun tidur, sebelum dan sesudah makan, serta sebelum tidur. Ajak anak ke toilet setiap dua jam sekali dan perhatikan tanda-tanda bahwa anak mungkin perlu pergi ke toilet.

Keempat, modelkan perilaku dengan membiarkan anak melihat Anda menggunakan toilet jika Anda merasa nyaman, ini membantu mereka memahami prosesnya. Gunakan buku cerita atau video yang menjelaskan proses toilet training untuk memberikan pemahaman visual. Kelima, dorong kemandirian dengan memilih pakaian yang mudah dilepas dan dicuci, serta biarkan anak memilih celana dalam mereka sendiri untuk memberi rasa bangga. Ajarkan anak untuk menyeka pantatnya dan tunjukkan cara menyiram toilet, namun perlu diingat beberapa anak mungkin takut dengan suara siraman, jadi biarkan mereka melihat apa yang terjadi. Terakhir, berikan pujian dan dukungan positif untuk setiap usaha anak, bahkan hanya duduk di toilet, dan hindari memberikan tekanan atau menunjukkan frustrasi jika terjadi kecelakaan.

Mengatasi Tantangan Umum dalam Proses Toilet Training

Toilet training tidak selalu berjalan mulus, dan banyak keluarga menghadapi tantangan umum yang memerlukan kesabaran ekstra. Kecelakaan adalah hal yang tidak dapat dihindari dan merupakan bagian normal dari proses pembelajaran, bahkan hampir sepertiga orang tua melaporkan bahwa anak mereka yang sudah terlatih kemudian mengalami kemunduran.

Jika anak menolak untuk menggunakan toilet, tetaplah sabar dan tawarkan dukungan tanpa memaksa. Penolakan bisa disebabkan oleh berbagai alasan, termasuk ketakutan terhadap suara siraman yang keras atau toilet ukuran dewasa. Tangani kecelakaan atau kemunduran dengan tenang; reaksi negatif dapat membuat anak merasa kalah, jadi yakinkan bahwa itu tidak apa-apa dan terus perkuat prinsip pelatihan yang sama. Jika anak tampak stres atau cemas, berikan jeda pada pelatihan.

Beberapa anak mungkin menahan buang air kecil atau besar untuk menghindari toilet. Untuk ini, tetaplah tenang saat anak berhasil buang air kecil dan jangan mengejutkan mereka dengan sorakan sampai mereka selesai sepenuhnya, serta tingkatkan asupan cairan sepanjang hari. Masalah perilaku seperti buang air kecil di lantai dengan sengaja atau hiperaktivitas di kamar mandi bisa diatasi dengan memahami penyebabnya, fokus pada emosi anak, bersikap positif dan meyakinkan, serta mengurangi kebisingan dan gangguan.

Infeksi Saluran Kemih (ISK) lebih sering terjadi selama toilet training karena anak mungkin menahan buang air kecil lebih lama, jadi dorong anak untuk buang air kecil setiap satu hingga dua jam dan konsultasikan dengan dokter jika ada keluhan sakit. Untuk masalah basah di malam hari, yang sering terjadi jauh setelah anak menggunakan pispot di siang hari, kurangi asupan cairan anak di malam hari, hindari kafein, dan biarkan anak menggunakan toilet tepat sebelum tidur.

Toilet Training Saat Bepergian dan Perbedaan Budaya

Bepergian dengan anak yang sedang dalam proses toilet training bisa menjadi tantangan, namun dengan persiapan yang tepat, prosesnya bisa lebih mudah. Pastikan Sahabat Fimela membawa pispot perjalanan portabel atau dudukan toilet lipat, serta kenakan pakaian yang mudah dilepas pada anak. Bawa banyak persediaan seperti tisu basah, pembersih tangan, kantong sekali pakai, pakaian ganti ekstra (termasuk untuk orang tua), dan tas basah untuk pakaian kotor. Jika memungkinkan, tunda toilet training sampai setelah perjalanan jika Anda belum memulainya.

Selama perjalanan, pertahankan rutinitas toilet anak sebisa mungkin dengan mendorong mereka untuk duduk di pispot setelah makan atau setiap dua jam. Tunjukkan lokasi toilet segera setelah tiba di akomodasi atau tempat baru. Siapkan diri untuk toilet umum, karena beberapa anak mungkin cemas dengan suara siraman yang keras atau toilet otomatis. Jaga hidrasi anak tetap konsisten sepanjang hari, dan yang terpenting, tetaplah sabar dan positif karena kecelakaan akan terjadi, dan sikap tenang serta meyakinkan sangat diperlukan.

Praktik toilet training juga bervariasi di seluruh dunia, dipengaruhi oleh budaya dan kebutuhan. Di Vietnam, beberapa orang tua menggunakan siulan sebagai isyarat bagi bayi untuk buang air kecil, sehingga bayi seringkali sudah tidak memakai popok pada usia 9 bulan. Anak-anak di Kenya memulai toilet training sebelum mereka bisa berjalan, dengan orang tua memegang anak menjauh dari tubuh mereka saat anak buang air, seringkali dikaitkan dengan suara tertentu.

Di Jerman, anak laki-laki diajarkan untuk duduk di toilet bahkan saat buang air kecil untuk menguasai dasar-dasar penggunaan toilet, dan banyak anak berhenti memakai popok sesuai kecepatan mereka sendiri, biasanya sekitar usia 3 tahun. Sementara itu, di daerah pedesaan Tiongkok, anak-anak sering memakai celana berbelah (split pants) yang memiliki celah di area selangkangan, memungkinkan mereka untuk buang air kecil atau besar dengan mudah, dan toilet training sering dimulai sejak usia sangat muda, bahkan beberapa bulan. Orang tua Jepang memprioritaskan kemandirian, dengan toilet training biasanya dimulai sekitar usia 1 hingga 1,5 tahun, dan banyak toilet umum dilengkapi dengan toilet ukuran anak.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading