5 Cara Meningkatkan Kesehatan Mental Anak agar Tumbuh Kuat

Endah WijayantiDiterbitkan 15 Januari 2026, 14:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Moms, masa kanak-kanak sering dianggap sebagai fase paling bahagia dalam hidup. Hanya saja ternyata pada kenyataannya, anak-anak juga bisa mengalami stres, rasa takut, kecemasan, hingga luka emosional meski dalam bentuk yang lebih sederhana dibandingkan orang dewasa. Perpisahan dengan orangtua, konflik dengan teman, tekanan di sekolah, atau tuntutan untuk selalu “berperilaku baik” bisa menjadi beban yang tidak terlihat.

Karena itulah, kesehatan mental anak perlu mendapat perhatian yang sama seriusnya dengan kesehatan fisik. Rumah dan keluarga memegang peran penting sebagai fondasi utama. Dari cara kita mendengar, merespons, hingga memperlakukan anak sehari-hari, semuanya berpengaruh besar pada pembentukan mental yang sehat dan kuat.

Berikut ini lima cara penting yang bisa Moms lakukan untuk meningkatkan kesehatan mental anak sejak dini, dirangkum dari laman imom.com tentang pendekatan parenting yang berfokus pada hubungan emosional yang sehat.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

1. Jadikan Rumah sebagai Tempat Paling Aman Secara Emosional

1. Jadikan Rumah sebagai Tempat Paling Aman Secara Emosional./Copyright depositphotos.com/siriwat.tree

Setelah seharian berada di sekolah, mengikuti aturan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, anak sering kali merasa lelah secara emosional. Di sinilah rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka untuk “melepaskan topeng”.

Moms bisa membantu dengan menciptakan suasana rumah yang bebas dari penghakiman. Anak tidak harus selalu tampil manis, pintar, atau kuat. Mereka boleh sedih, marah, kecewa, bahkan melakukan kesalahan. Ketika anak tahu bahwa perasaan mereka diterima dan tidak akan ditertawakan atau diremehkan, rasa aman emosional pun tumbuh.

Rasa aman ini adalah fondasi penting bagi kesehatan mental. Anak yang merasa aman akan lebih percaya diri, berani mengekspresikan emosi, dan tidak takut menjadi dirinya sendiri.

3 dari 6 halaman

2. Memberi Ruang untuk Gagal dan Tidak Harus Selalu Sempurna

2. Memberi Ruang untuk Gagal dan Tidak Harus Selalu Sempurna./Copyright depositphotos.com/geargodz

Moms, tanpa sadar kita sering mendorong anak untuk selalu tampil maksimal: tulisan harus rapi, nilai harus bagus, atau kemampuan harus terus meningkat. Niatnya baik, tetapi tekanan berlebihan justru bisa membuat anak merasa tidak pernah cukup.

Konsep good-enough parenting menekankan bahwa anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna, melainkan orangtua yang hadir, konsisten, dan penuh empati. Dalam buku Good Enough Parenting, dijelaskan bahwa memilih kompetisi dengan bijak dan menerima ketidaksempurnaan dapat menciptakan hubungan orangtua dan anak yang lebih sehat.

Ketika Moms memberi ruang bagi anak untuk gagal dan belajar dengan ritme mereka sendiri, anak akan tumbuh dengan mental yang lebih tangguh, tidak mudah cemas, dan tidak takut mencoba hal baru.

4 dari 6 halaman

3. Hadir Sepenuhnya dan Menjadi Pendengar Aktif

3. Hadir Sepenuhnya dan Menjadi Pendengar Aktif./Copyright depositphotos.com/geargodz

Anak-anak sangat peka terhadap perhatian orangtuanya. Mereka tahu kapan Moms benar-benar mendengarkan dan kapan perhatian teralihkan oleh ponsel atau pekerjaan lain. Ketika Moms hadir secara utuh mendengar dengan telinga dan mata anak merasa dihargai dan penting.

Menjadi pendengar aktif tidak selalu berarti memberi solusi. Terkadang, anak hanya ingin didengar dan dimengerti. Dengan mengangguk, menatap mata mereka, dan merespons dengan empati, Moms sedang mengirim pesan kuat: “Perasaanmu penting.”

Perasaan dihargai ini menjadi penopang besar bagi kesehatan mental anak, membantu mereka membangun harga diri dan kepercayaan pada hubungan interpersonal.

5 dari 6 halaman

4. Dorong Anak Berpikir Mandiri dan Mengenal Nilainya Sendiri

4. Dorong Anak Berpikir Mandiri dan Mengenal Nilainya Sendiri./Copyright depositphotos.com/220selfmadestudio

Keinginan untuk menyenangkan orang lain adalah hal yang wajar. Akan tetapi, jika dibiarkan berlebihan, anak bisa tumbuh menjadi people pleaser yang mengorbankan kebutuhan dan perasaannya sendiri.

Moms bisa mulai dengan memberikan pilihan sederhana dalam keseharian anak, seperti memilih menu makan atau aktivitas. Selain itu, dalam mendisiplinkan anak, fokuslah pada nilai dan alasan yang benar, bukan semata emosi orang lain.

Misalnya, anak diminta meminta maaf bukan hanya karena temannya sedih, tetapi karena meminta maaf adalah hal yang benar secara moral. Pendekatan ini membantu anak membangun kompas nilai internal dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan dua hal penting untuk kesehatan mental jangka panjang.

6 dari 6 halaman

5. Bangun Ikatan Emosional Lewat Empati, Teladan, dan Keceriaan

5. Bangun Ikatan Emosional Lewat Empati, Teladan, dan Keceriaan./Copyright depositphotos.com/igorvetushko

Anak belajar bukan hanya dari apa yang Moms katakan, tetapi dari apa yang Moms lakukan. Cara Moms memperlakukan diri sendiri, merespons kesalahan, dan mensyukuri hal kecil akan direkam oleh anak.

Jika Moms terbiasa mengkritik diri sendiri dengan keras, anak pun bisa meniru pola tersebut. Sebaliknya, ketika Moms menunjukkan belas kasih pada diri sendiri dan mengekspresikan rasa syukur, anak belajar bahwa emosi negatif bisa dikelola dengan sehat.

Selain itu, jangan remehkan kekuatan bermain dan bersenang-senang bersama. Waktu berkualitas meski singkat seperti tertawa bersama, bernyanyi di mobil, atau bermain sederhana di rumah, adalah “tabungan emosional” yang sangat berharga bagi anak. Anak yang merasa diperhatikan dan dicintai akan lebih siap menghadapi tantangan hidup.

Moms, kesehatan mental anak yang sehat bisa diupayakan melalui ragam rutinitas kecil, respons sehari-hari, dan kualitas hubungan yang Moms bangun bersama anak. Dengan menjadikan rumah sebagai tempat aman, mengurangi tuntutan kesempurnaan, hadir secara emosional, mendorong kemandirian, serta memperkuat ikatan lewat empati dan keceriaan, Moms telah memberikan bekal yang sangat berharga bagi masa depan anak.

Anak yang sehat secara mental bukanlah anak yang tidak pernah sedih atau marah, melainkan anak yang tahu bahwa perasaannya valid, diterima, dan didukung. Dan itu semua, berawal dari Moms di rumah.