Loss Aversion saat Sesuatu Tak Lagi Memiliki Arti tapi Tetap Ingin Memperhatikannya

Ayu Puji LestariDiterbitkan 20 Januari 2026, 16:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pernahkah kamu bertahan pada sesuatu yang sebenarnya sudah tak lagi memberi makna, tetapi terasa terlalu sulit untuk dilepaskan? Entah itu hubungan, pekerjaan, peran sosial, atau bahkan versi diri sendiri. Di balik keputusan-keputusan itu, ada satu mekanisme psikologis yang sering bekerja secara diam-diam: loss aversion.

Istilah loss aversion diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky dalam Prospect Theory. Mereka menemukan bahwa secara psikologis, rasa sakit karena kehilangan terasa sekitar dua kali lebih kuat dibandingkan rasa senang karena mendapatkan sesuatu yang setara. Artinya, manusia cenderung lebih fokus pada apa yang bisa hilang, ketimbang apa yang mungkin didapatkan. Dan dalam kehidupan sehari-hari, loss aversion sering muncul secara halus, dipengaruhi emosi, relasi sosial, serta ekspektasi budaya—terutama pada perempuan.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

Bertahan dalam Hubungan karena Takut Kehilangan

Ketakutan lepas dari hubungan yang salah./https://www.freepik.com/pressfoto 

Dalam hubungan dan percintaan, loss aversion kerap membuat banyak perempuan bertahan pada relasi yang tidak sehat. Bukan karena masih bahagia, melainkan karena takut kehilangan pasangan, takut semua waktu, tenaga, dan emosi yang sudah dicurahkan menjadi sia-sia, serta takut harus memulai dari nol lagi.

Rasa takut kehilangan ini sering kali jauh lebih besar daripada potensi kebahagiaan di masa depan. Akibatnya, perempuan memilih bertahan, meski hubungan tersebut perlahan menggerus harga diri dan ketenangan batin. Yang dipertahankan bukan lagi cinta, melainkan ketakutan.

3 dari 6 halaman

Pernikahan, Keluarga, dan Ketakutan akan Label Sosial

Pernikahan dan label sosial. (unsplash/sandy miliar).

Dalam konteks pernikahan dan keluarga, loss aversion bisa terlihat saat perempuan menoleransi konflik berulang demi menjaga keutuhan rumah tangga. Ada ketakutan dicap “gagal”, “egois”, atau “tidak bersyukur” jika mengambil keputusan besar untuk diri sendiri.

Tak jarang, mimpi pribadi dikorbankan karena takut kehilangan peran sebagai istri atau ibu yang “ideal” menurut standar sosial. Kerugian emosional jangka panjang—kelelahan mental, kehilangan identitas, atau rasa hampa—sering tidak disadari karena fokusnya hanya pada apa yang bisa hilang secara sosial, bukan apa yang bisa diselamatkan secara personal.

4 dari 6 halaman

Karier dan Keuangan: Memilih Aman daripada Bertumbuh

karier dan keuangan. (ijeab/depositphotos.com)

Dalam dunia karier dan keuangan, loss aversion juga bekerja kuat. Banyak perempuan ragu mengambil peluang kerja baru karena takut kehilangan stabilitas. Ada pula yang enggan menegosiasikan gaji karena takut dianggap terlalu agresif atau tidak tahu diri. Bahkan dalam hal investasi, ketakutan akan kerugian sering membuat langkah tertunda, meski potensi keuntungannya besar.

Sayangnya, pola ini bisa membuat peluang berkembang terlewat begitu saja. Bukan karena kurang mampu, tetapi karena rasa takut kehilangan lebih dominan daripada keyakinan akan potensi diri.

5 dari 6 halaman

Saat Loss Aversion Menyentuh Kepercayaan Diri

Yang sering luput disadari, loss aversion juga bekerja di level internal. Perempuan bisa takut mencoba hal baru karena takut gagal, menahan diri untuk bersuara karena takut penolakan, atau bertahan di zona nyaman yang sebenarnya tidak membahagiakan.

Rasa takut kehilangan penerimaan, validasi, atau rasa aman sering kali lebih kuat daripada keinginan untuk berkembang. Padahal, bertumbuh hampir selalu membutuhkan keberanian untuk menghadapi kemungkinan kehilangan.

6 dari 6 halaman

Peran Sosial dan Beban Ekspektasi Budaya

Beban ekspektasi dari orang lain./Copyright Fimela - Guntur Merdekawan

Ekspektasi budaya menambah lapisan lain pada loss aversion yang dialami perempuan. Ada ketakutan kehilangan citra baik, mengecewakan keluarga, atau keluar dari peran yang sudah lama dilekatkan. Akibatnya, banyak perempuan memilih “aman” daripada jujur pada kebutuhan diri sendiri.

Pilihan-pilihan ini sering terlihat rasional di permukaan, tetapi sebenarnya didorong oleh rasa takut yang tidak pernah benar-benar dihadapi.

Memahami loss aversion bukan tentang menyalahkan diri sendiri. Justru, ini adalah langkah awal untuk lebih sadar pada pola yang selama ini memengaruhi keputusan hidup. Saat kamu mulai bertanya, “Apakah aku bertahan karena masih bermakna, atau hanya karena takut kehilangan?” di situlah ruang perubahan mulai terbuka. Terkadang melepaskan bukan berarti kalah. Bisa jadi, itu adalah cara paling jujur untuk menyelamatkan diri sendiri—dan membuka ruang bagi makna baru yang lebih sehat dan membahagiakan.