Fimela.com, Jakarta - Rasa percaya diri merupakan fondasi penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang percaya diri cenderung lebih berani mencoba hal baru, mampu bersosialisasi dengan baik, serta tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan. Sikap ini terbentuk dari pengalaman sehari-hari, terutama dari cara orangtua berinteraksi, memberi respons, dan memberikan dukungan terhadap anak.
Sahabat Fimela, banyak orangtua yang sudah berusaha memberikan yang terbaik. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan kecil justru dapat memengaruhi cara anak menilai dirinya sendiri. Cara berbicara, memberi arahan, hingga bentuk perhatian yang diberikan dapat membentuk keyakinan anak tentang apakah dirinya cukup mampu dan layak dihargai.
Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa menurunkan rasa percaya diri anak secara perlahan. Anak mungkin menjadi ragu mengambil keputusan, takut mencoba hal baru, atau merasa dirinya tidak cukup baik. Berikut beberapa kesalahan kecil orangtua yang perlu diperhatikan, dilansir dari Times of India, karena dapat berdampak pada kepercayaan diri anak.
1. Terlalu Sering Mengkritik dan Mengoreksi
Kritik yang terlalu sering, terutama jika disampaikan tanpa disertai apresiasi terhadap usaha anak, dapat membuat anak merasa bahwa hasil kerjanya selalu kurang baik. Ketika anak lebih sering mendengar kesalahan dibandingkan pujian, ia akan mulai mengaitkan usahanya dengan kegagalan, bukan proses belajar.
Dalam jangka panjang, anak dapat mengembangkan pola pikir bahwa dirinya sulit melakukan sesuatu dengan benar. Hal ini membuat anak cenderung ragu mencoba tantangan baru karena takut kembali disalahkan. Kepercayaan terhadap kemampuan diri pun perlahan menurun karena anak terbiasa melihat dirinya melalui sudut pandang kesalahan.
2. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain sering dianggap sebagai bentuk motivasi. Namun, bagi anak, perbandingan ini justru menimbulkan perasaan bahwa dirinya selalu berada di posisi kurang unggul dibandingkan orang lain.
Setiap anak memiliki kecepatan belajar dan keunikan masing-masing. Ketika pencapaiannya terus diukur berdasarkan standar orang lain, anak bisa kehilangan kepercayaan pada potensi dirinya sendiri. Ia mungkin merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan pernah cukup baik, sehingga rasa percaya diri semakin sulit terbentuk.
3. Terlalu Melindungi dan Selalu Mengambil Alih Tugas Anak
Keinginan untuk membantu anak agar tidak mengalami kegagalan sering membuat orangtua tanpa sadar mengambil alih banyak hal yang sebenarnya bisa dipelajari anak sendiri. Mulai dari memilihkan semua keputusan hingga menyelesaikan tugas-tugas kecil, semua dilakukan demi kenyamanan anak.
Padahal, pengalaman mencoba, gagal, lalu mencoba kembali merupakan bagian penting dari proses belajar. Jika anak jarang diberi kesempatan untuk menghadapi tantangan kecil, ia bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup mampu untuk menyelesaikan sesuatu tanpa bantuan. Hal ini berdampak langsung pada rasa percaya diri dan kemandirian anak.
4. Menetapkan Harapan yang Terlalu Tinggi
Harapan orangtua yang tinggi sering kali muncul dari keinginan agar anak memiliki masa depan yang baik. Namun, ketika target yang diberikan tidak sesuai dengan kemampuan atau minat anak, tekanan yang dirasakan justru bisa semakin besar.
Anak yang terus berusaha memenuhi standar yang terlalu tinggi berisiko merasa gagal meskipun sudah berusaha keras. Perasaan tidak pernah cukup baik ini dapat memicu kecemasan dan membuat anak meragukan nilai dirinya sendiri. Kepercayaan diri pun tergantikan oleh rasa takut mengecewakan orangtua.
5. Mengabaikan atau Meremehkan Perasaan Anak
Respons seperti menyuruh anak berhenti menangis atau mengatakan bahwa masalahnya tidak penting dapat membuat anak merasa emosinya tidak dihargai. Padahal, bagi anak, perasaan sedih, kecewa, atau takut adalah pengalaman yang nyata dan bermakna.
Ketika perasaan anak sering diabaikan, ia bisa belajar untuk memendam emosi dan tidak mengekspresikan apa yang dirasakan. Hal ini dapat memengaruhi cara anak membangun hubungan sosial dan menilai dirinya sendiri. Anak yang tidak merasa didengar cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah karena merasa tidak dianggap penting.
6. Pentingnya Lingkungan yang Mendukung Kepercayaan Diri Anak
Kepercayaan diri anak tumbuh dari pengalaman merasa diterima, dihargai, dan dipercaya mampu. Lingkungan keluarga yang memberikan ruang untuk mencoba, belajar, dan mengekspresikan perasaan akan membantu anak membangun keyakinan terhadap dirinya sendiri.
Dengan lebih menyadari kebiasaan-kebiasaan kecil dalam pengasuhan, orangtua dapat menciptakan suasana yang lebih sehat secara emosional. Dari sinilah anak akan belajar bahwa dirinya berharga, memiliki kemampuan, dan pantas untuk percaya pada potensi yang dimilikinya.
Penulis: Siti Nur Arisha