Didominasi Wisatawan Korea Selatan, Sanggraloka Ubud Bali Jadi Barometer Baru Eco-Luxury Retreat di Indonesia

Nabila MecadinisaDiterbitkan 20 Februari 2026, 12:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di tengah pergeseran pasar pariwisata Bali menuju segmen wellness danretret premium, Sanggraloka Ubud mencatat dominasi wisatawan Korea Selatan sebagai pasar utamatamu asing sepanjang akhir 2025, menandai perubahan pola permintaan yang signifikan di pulaudewata. Berdasarkan estimasi internal, tingkat hunian Sanggraloka Ubud pada akhir 2025 telahmencapai kisaran 65-70 persen pada masa soft-opening yang mencerminkan kuatnya penerimaan pasarterhadap konsep eco-luxury wellness retreat yang mengedepankan privasi, alam, dan budaya Bali.

Momentum ini hadir di tengah tren pariwisata Bali yang menguat pada periode Natal dan Tahun Baru2025/2026. Gubernur Bali I Wayan Koster menyampaikan bahwa kunjungan wisatawan mancanegaratelah menembus lebih dari 20.000 kedatangan per hari, meningkat dari kisaran 17.000 kedatangan perhari sebelum Natal dan Tahun Baru. Secara akumulatif, Bali telah menerima sekitar 6,7 juta kunjunganwisman dari Januari hingga pertengahan Desember 2025, naik sekitar 400.000 kunjungan dibandingkanperiode yang sama tahun 2024 yang mencatat 6,3 juta wisatawan.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Mengedepankan slow dan meaningful journey

Retret premium jadi barometer baru wisata eco-luxury di Indonesia.

Sebagai retret yang mengedepankan slow dan meaningful journey, Sanggraloka Ubud merancang alurpengalaman tamu sebagai sebuah perjalanan utuh, dimulai dari Forest Path dan kawasan sungai sebagaifase healing & emotional cleansing. Melalui outdoor escalator, tamu diarahkan turun perlahan menujujalur hutan dan area sungai untuk mengikuti melukat dan sound bath by the river, membantu tubuh danpikiran kembali ke kondisi seimbang.

Setelah fase pemulihan ini, tamu memasuki kebun organik sebagai ruang connection & meaningmaking, mengenal proses tanam, lebah penyerbuk, hingga panen bahan segar yang menjadi intipengalaman Sanggraloka Ubud. Perjalanan ini kemudian berpuncak pada farm-to-table dining dancooking class, di mana makanan tidak lagi sekadar hidangan, melainkan perayaan atas alam, budaya,dan proses yang telah dialami tamu sejak awal. Rangkaian pengalaman berurutan ini terbuktimendorong length of stay, kunjungan berulang, serta memperkuat positioning Sanggraloka Ubudsebagai destinasi retret bernilai lebih dari sekadar akomodasi.

Prospek industri 2026 juga menunjukkan ruang pertumbuhan yang kuat. Pemerintah menargetkan16–17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026 serta 1,18 miliar perjalanan wisatawannusantara, sejalan dengan arah quality tourism dan minat khusus. Outlook regional Asia Pasifikmengindikasikan pemulihan dan pertumbuhan perjalanan lintas negara yang ditopang konektivitas danpergerakan intra-Asia, sementara indikator permintaan perjalanan menuju paruh pertama 2026 tetappositif, memperkuat relevansi destinasi yang menggabungkan alam, budaya, dan wellness.

3 dari 3 halaman

Turis Korea Selatan Mendominasi

Retret premium jadi barometer baru wisata eco-luxury di Indonesia.

Tren pasar Asia juga menunjukkan momentum kuat. Di tingkat properti, Sanggraloka Ubud mencatatmeningkatnya kontribusi tamu asal Korea Selatan dengan proporsi sekitar ±28–32 persen dari totaltamu asing di akhir 2025. Pola ini menegaskan meningkatnya minat pasar Asia terhadap destinasiwellness dan retreat berbasis alam dan budaya, selaras dengan pengalaman yang dikurasi SanggralokaUbud. Minat wisatawan Korea Selatan terhadap Sanggraloka Ubud selaras dengan karakteristik pasarKorea yang sangat menghargai privasi, estetika alam yang tenang, pengalaman healing, serta perjalananbernilai emosional, di mana vila privat, lanskap hijau Ubud, ritual wellness Bali, dan suasana retret yangeksklusif menjadi faktor utama dalam keputusan berlibur mereka.

“Kami melihat bahwa tamu kini datang dengan ekspektasi yang lebih dalam. Mereka menginginkanpengalaman yang menenangkan, autentik, dan bermakna. Capaian akhir 2025 menjadi validasi bagi arah yang kami pilih. Masuk 2026, kami akan memperdalam kualitas pengalaman, bukan sekadar mengejarvolume,” ujar Komang Kariyana, General Manager Sanggraloka Ubud.

Selain segmen wellness, fasilitas family-friendly dan celebration-ready, mulai dari kids playground,wedding chapel, hingga ruang budaya, turut memperluas jangkauan segmen tanpa menghilangkankarakter Sanggraloka Ubud sebagai retret yang tenang dan privat.Memasuki 2026, Sanggraloka Ubud memproyeksikan pertumbuhan yang terukur dengan menjagakeseimbangan antara okupansi, tarif premium, dan pengalaman bernilai tambah. Fokus diarahkan padapenguatan wellness retreat, culinary experience, dan boutique events melalui paket terkurasi untukmendorong diversifikasi pendapatan di luar kamar.

Sejalan dengan strategi tersebut, Sanggraloka Ubud menyiapkan sejumlah pengembangan fasilitas danpengalaman baru sepanjang 2026, termasuk rencana pembangunan Wellness Pavilion (yoga &breathwork), pengembangan Forest Path sebagai ruang kontemplatif di tengah alam, serta Art & CraftStudio untuk kolaborasi perajin dan seniman lokal. Seluruh pengembangan dirancang bertahap denganprinsip keberlanjutan dan sensitivitas lingkungan.

“Bagi kami, 2026 bukan tentang ekspansi agresif, melainkan pendalaman kualitas, baik dari sisipengalaman tamu, keberlanjutan operasional, maupun dampak positif bagi komunitas,” tutur Komang.Dengan fondasi okupansi akhir 2025 yang solid, tren Nataru Bali yang menguat, prospek industri 2026yang positif, serta rencana pengembangan yang terukur, Sanggraloka Ubud memasuki 2026 sebagairetret mewah yang siap memperkuat posisinya dalam ekosistem pariwisata berkelanjutan Bali.