Fimela.com, Jakarta - Kelahiran seorang bayi sering digambarkan sebagai momen paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan. Hanya saja, kenyataannya tidak selalu demikian. Di balik senyum, ucapan selamat, dan ekspektasi untuk segera merasa bahagia, sebagian ibu justru mengalami pergulatan emosional yang berat. Salah satu kondisi yang masih kerap disalahpahami adalah depresi pascapersalinan. Kondisi ini bukan tanda kelemahan, bukan pula kegagalan menjadi ibu, melainkan gangguan suasana hati yang nyata dan membutuhkan perhatian serius.
Agar orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar dapat lebih peka dan suportif, berikut lima hal penting yang perlu diketahui tentang depresi pascapersalinan seperti yang dirangkum dari laman Brown Health. Simak uraiannya berikut ini.
1. Depresi Pascapersalinan Berbeda dengan Baby Blues
Banyak orang masih menyamakan depresi pascapersalinan dengan baby blues. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Baby blues umumnya dialami oleh banyak ibu baru dalam beberapa hari setelah melahirkan. Gejalanya berupa perubahan suasana hati, mudah menangis, cemas, atau merasa kewalahan, namun kondisi ini biasanya ringan dan akan membaik dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari hingga satu minggu.
Depresi pascapersalinan jauh lebih serius, Moms. Perasaan sedih, hampa, putus asa, atau cemas yang dirasakan berlangsung lebih lama dan lebih intens, bahkan bisa bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan ibu untuk menjalani aktivitas sehari-hari, merawat diri sendiri, dan merawat bayinya. Dalam beberapa kasus, ibu bahkan merasa sulit atau tidak mampu menjalin ikatan emosional dengan anaknya.
Memahami perbedaan ini penting agar gejala depresi pascapersalinan tidak dianggap sebagai hal “wajar” yang dibiarkan begitu saja.
2. Depresi Pascapersalinan Bisa Terjadi Kapan Saja di Tahun Pertama
Depresi pascapersalinan tidak selalu muncul segera setelah melahirkan. Meskipun paling sering terjadi dalam tiga minggu pertama pascamelahirkan, kondisi ini sebenarnya bisa berkembang kapan saja dalam satu tahun pertama setelah kelahiran bayi. Inilah alasan mengapa banyak kasus tidak terdeteksi, karena gejalanya muncul saat ibu dianggap sudah “seharusnya baik-baik saja”.
Gejala depresi pascapersalinan mirip dengan depresi klinis, seperti perasaan sedih yang mendalam, kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya menyenangkan, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan ekstrem, rasa bersalah berlebihan, hingga kesulitan berkonsentrasi. Pada tingkat yang lebih berat, bisa muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, serta pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
Dalam kasus yang jarang namun sangat serius, dapat terjadi psikosis pascapersalinan, ditandai dengan halusinasi, delusi, paranoia, dan perilaku yang membahayakan bayi. Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan segera.
3. Penyebabnya Kompleks, Bukan Sekadar Kurang Bersyukur
Hingga saat ini, tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan mengapa seorang ibu mengalami depresi pascapersalinan. Kondisi ini biasanya muncul akibat kombinasi faktor hormonal, fisik, emosional, lingkungan, dan genetik.
Setelah melahirkan, tubuh mengalami perubahan hormon yang sangat drastis, terutama penurunan kadar estrogen dan progesteron. Pada sebagian perempuan, perubahan ini dapat memicu gangguan suasana hati, terutama jika mereka sensitif terhadap fluktuasi hormon. Selain itu, kelelahan fisik, kurang tidur, dan tuntutan merawat bayi yang terus-menerus juga berkontribusi besar.
Faktor risiko lainnya meliputi riwayat depresi atau gangguan kecemasan sebelumnya, stres berat selama kehamilan, pengalaman persalinan yang traumatis, kelahiran prematur, bayi yang membutuhkan perawatan intensif, kurangnya dukungan sosial, masalah dalam hubungan, hingga tekanan finansial. Semua faktor ini saling berinteraksi dan dapat meningkatkan kerentanan terhadap depresi pascapersalinan.
Penting untuk dipahami bahwa depresi pascapersalinan tidak ada hubungannya dengan rasa syukur atau kekuatan mental seseorang, ya Moms.
4. Kondisi Ini Cukup Umum, tetapi Sering Tidak Terungkap
Sekitar 10 persen ibu baru mengalami depresi pascapersalinan. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan angka yang lebih tinggi, dengan sekitar 1 dari 7 ibu mengalaminya. Namun, jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena banyak perempuan enggan mengakui perasaannya atau takut dicap sebagai ibu yang buruk.
Stigma sosial, rasa malu, dan tekanan untuk selalu tampak bahagia membuat banyak ibu memendam penderitaannya sendirian. Padahal, semakin lama depresi pascapersalinan tidak ditangani, semakin besar dampaknya, baik bagi ibu maupun anak. Depresi yang tidak diobati dapat memengaruhi ikatan ibu-anak, perkembangan emosional anak, serta kualitas hidup keluarga secara keseluruhan.
Kesadaran bahwa depresi pascapersalinan adalah kondisi yang cukup umum dapat membantu mengurangi stigma dan mendorong ibu untuk mencari bantuan lebih cepat.
5. Depresi Pascapersalinan Bisa Diobati dan Dukungan Sangat Penting
Kabar baiknya, depresi pascapersalinan dapat diobati. Langkah pertama dan terpenting adalah mencari bantuan profesional. Diagnosis dan rencana perawatan harus dilakukan oleh tenaga medis, seperti dokter atau tenaga kesehatan mental.
Pilihan penanganan meliputi konseling atau terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif atau terapi interpersonal, yang membantu ibu memahami dan mengelola pikirannya. Kelompok dukungan juga dapat menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman dengan ibu lain yang menghadapi tantangan serupa.
Dalam beberapa kasus, dokter dapat meresepkan obat antidepresan. Banyak antidepresan yang aman digunakan selama menyusui, dan dokter akan membantu menimbang manfaat serta risikonya. Untuk kondisi yang sangat berat, terapi stimulasi otak seperti terapi elektrokonvulsif dapat dipertimbangkan.
Selain perawatan medis, dukungan dari pasangan, keluarga, dan lingkungan sangat berperan. Membantu ibu mendapatkan waktu istirahat, mengurangi beban pekerjaan rumah, mendengarkan tanpa menghakimi, serta mendorong perawatan diri seperti makan sehat, olahraga ringan, dan tidur yang cukup, dapat membantu proses pemulihan.
Depresi pascapersalinan adalah kondisi nyata yang dapat dialami oleh siapa saja, Moms, tanpa memandang latar belakang atau seberapa besar cinta seorang ibu kepada anaknya. Memahaminya adalah langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih empatik dan suportif bagi ibu baru.
Dengan kesadaran, dukungan, dan penanganan yang tepat, ibu dapat pulih, kembali menemukan keseimbangan emosional, dan menjalani peran sebagai orang tua dengan lebih sehat, baik secara mental maupun fisik.