Gen Z dan Kembalinya Pesona Polaroid, Saat Foto Cetak Jadi Bentuk Ekspresi Diri di Era Digital

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 30 Januari 2026, 19:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di tengah derasnya arus konten digital, cloud storage, dan galeri foto yang nyaris tak terbatas di smartphone, Generasi Z justru menunjukkan ketertarikan yang semakin kuat terhadap sesuatu yang terasa “lawas”: foto cetak instan atau polaroid. Fenomena ini terlihat dari maraknya penggunaan kamera instan di konser, kafe, pameran seni, hingga konten media sosial yang menampilkan foto instax sebagai bagian dari gaya hidup.

Alih-alih ditinggalkan oleh teknologi digital, polaroid justru menemukan relevansinya kembali terutama di kalangan Gen Z yang dikenal sebagai generasi paling digital sepanjang sejarah. Dari sudut pandang psikologi, minat Gen Z terhadap foto instan dapat dijelaskan melalui beberapa faktor utama. Apa saja?

1. Kebutuhan akan kehadiran fisik (tangibility) di dunia yang serba virtual.

Gen Z tumbuh dengan layar interaksi, memori, hingga validasi sosial sebagian besar terjadi secara digital. Foto cetak menghadirkan pengalaman sensorik yang nyata. Dalam psikologi, objek fisik seperti foto cetak sering kali berfungsi sebagai memory anchor, penanda emosi dan momen yang terasa lebih “hidup” dibanding file digital.

2. Kelelahan digital (digital fatigue).

Paparan konten yang cepat, algoritma, dan tekanan performatif di media sosial membuat Gen Z mulai mencari pengalaman yang lebih lambat dan mindful. Polaroid menawarkan jeda. Tidak ada burst mode, tidak ada swipe tanpa akhir. Proses ini menghadirkan rasa intentionality yang memberi kepuasan emosional.

3. dorongan untuk tampil autentik dan unik.

Berbeda dengan foto digital yang mudah diedit dan diseragamkan oleh filter populer, foto instan memiliki karakter yang tidak sempurna dan apa adanya. Dalam psikologi identitas, Gen Z sangat menghargai keunikan dan ekspresi diri. Ketidaksempurnaan visual justru menjadi simbol kejujuran dan keaslian.

4. Nostalgia lintas generasi

Menariknya, nostalgia tidak hanya dimiliki oleh generasi yang pernah hidup di era analog. Bagi Gen Z, estetika analog menghadirkan kerinduan akan masa yang tidak mereka alami, tetapi terasa hangat, intim, dan “manusiawi”. Kamera instan menjadi medium untuk merasakan pengalaman tersebut dengan sentuhan modern.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Menjawab Cara Gen Z Mengekspresikan Diri

Ini alasan mengapa Gen Z masih menyukai polaroid (FujiFilm Indonesia)

Menjawab dinamika tersebut, FUJIFILM Indonesia resmi meluncurkan dua produk terbaru dari lini instax, yaitu instax mini Evo Cinem dan instax mini Link, yang kini hadir di pasar Indonesia. Peluncuran ini menegaskan komitmen FUJIFILM dalam menghadirkan inovasi fotografi instan yang adaptif terhadap gaya hidup dan kebutuhan kreatif generasi saat ini.

“Melalui instax mini Evo Cinema, kami ingin menghadirkan satu kamera yang mampu membuka begitu banyak kemungkinan kreatif lintas era. Dengan fitur Eras Dial dan semangat ‘One camera, decades of possibilities’, kami berharap pengguna dapat menangkap momen-momen istimewa dengan karakter visual yang unik dan bernuansa sinematik,” ujar Masato Yamamoto, Presiden Direktur FUJIFILM Indonesia.

Sebagai kamera instan hybrid, instax mini Evo Cinema memungkinkan pengguna memilih foto sebelum mencetaknya, dilengkapi fitur Eras Dial dengan berbagai efek visual bernuansa sinematik dari lintas era. Sementara itu, instax mini Link+ hadir sebagai printer smartphone premium yang mendukung semangat maximize maximalism, memungkinkan berbagai konten digital dicetak dan dijadikan bagian dari dekorasi serta keseharian.

 

Ini alasan mengapa Gen Z masih menyukai polaroid (FujiFilm Indonesia)
3 dari 3 halaman

Creative House of instax: Ruang Eksplorasi Generasi Kreatif

Ini alasan mengapa Gen Z masih menyukai polaroid (FujiFilm Indonesia)

Sebagai bagian dari rangkaian peluncuran, FUJIFILM menghadirkan Creative House of instax, sebuah exhibition interaktif yang berlangsung pada 28 Januari hingga 8 Februari 2026 di Kota Kasablanka, Food Society, Jakarta. Mengusung tema “Maximizing Possibilities”, pameran ini menjadi ruang eksplorasi kreatif bagi para pecinta instax untuk merasakan langsung bagaimana teknologi instan bertransformasi menjadi medium ekspresi lintas generasi.