7 Trik Jitu Cara Bangunkan Sahur Anak Tanpa Rewel, Pasti Semangat Puasa!

Nabila MecadinisaDiterbitkan 04 Februari 2026, 16:50 WIB

ringkasan

  • Edukasi tentang pentingnya sahur dan pengaturan jam tidur lebih awal adalah fondasi utama agar anak mudah dibangunkan tanpa rewel.
  • Membangunkan anak dengan lembut, menyajikan makanan favorit, dan melibatkan mereka dalam persiapan sahur dapat meningkatkan motivasi dan semangat mereka.
  • Kesabaran orang tua, pemberian penghargaan, serta penjelasan konsekuensi jika tidak sahur, membantu anak memahami dan menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Fimela.com, Jakarta - Membangunkan anak untuk sahur seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua selama bulan Ramadan. Waktu sahur yang bertepatan dengan jam tidur nyenyak anak dapat memengaruhi suasana hati mereka sepanjang hari puasa. Namun, dengan pendekatan yang tepat, Sahabat Fimela dapat membantu anak-anak bangun sahur dengan semangat dan tanpa drama.

Sahur merupakan waktu makan yang sangat penting untuk memastikan anak memiliki energi dan nutrisi yang cukup selama berpuasa seharian penuh. Melewatkan sahur dapat menyebabkan anak merasa lemas, tidak bersemangat, dan berisiko mengalami hipoglikemia atau gangguan pencernaan. Oleh karena itu, membiasakan sahur sejak dini adalah kunci agar mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan optimal.

Jangan khawatir jika Si Kecil masih sulit dibangunkan. Ada berbagai strategi komprehensif yang bisa Sahabat Fimela terapkan agar momen sahur menjadi lebih positif dan menyenangkan. Mari kita simak tips-tips efektif untuk membangunkan anak sahur tanpa drama dan tetap bersemangat.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Persiapan Matang Sebelum Tidur untuk Sahur yang Lancar

Kunci utama agar anak mudah dibangunkan sahur adalah persiapan yang matang sejak malam sebelumnya. Edukasi tentang pentingnya sahur dan puasa perlu diberikan kepada anak sebelum Ramadan tiba. Jelaskan kepada mereka pahala, keberkahan, bekal energi, hingga kesempatan untuk salat sunah tahajud dan subuh di awal waktu, sehingga keinginan sahur datang dari hati tanpa paksaan.

Selanjutnya, pastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup dengan mengatur jam tidur lebih awal dari biasanya. Ajak anak tidur sekitar pukul 8 atau 9 malam setelah tarawih, agar durasi tidur mereka tidak terganggu saat harus bangun sahur. Membatasi aktivitas malam hari dan penggunaan gawai mendekati jam tidur juga sangat penting untuk meningkatkan kualitas istirahat mereka.

Sebelum tidur, lakukan komunikasi atau "briefing" dengan anak. Beri tahu mereka bahwa Anda akan membangunkan mereka pada jam tertentu untuk sahur dan minta persetujuan mereka untuk bangun. Sampaikan dengan penuh kasih sayang bahwa Anda akan menyiapkan makanan favorit mereka, sehingga mereka termotivasi untuk bangun tanpa drama.

3 dari 4 halaman

Strategi Membangunkan yang Efektif dan Penuh Kasih Sayang

Saat tiba waktunya membangunkan, lakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hindari berteriak atau membentak, karena hal ini justru bisa membuat suasana hati anak berantakan dan enggan makan sahur. Panggil nama mereka perlahan, goyangkan badan dengan lembut, atau berikan ciuman di kening. Jika anak sudah setengah sadar, gendong mereka keluar kamar dan ajak cuci muka agar lebih segar.

Berikan sedikit jeda waktu setelah anak terbangun agar mereka bisa beradaptasi sebelum langsung makan sahur. Penting juga untuk melakukan sahur mendekati waktu imsak, sekitar 30 menit hingga 1 jam sebelumnya. Membangunkan terlalu cepat bisa membuat anak lebih cepat lapar di siang hari dan kurang efektif.

Untuk meningkatkan selera makan dan semangat anak, sajikan menu sahur favorit mereka. Pastikan menu tersebut bernutrisi seimbang, mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral agar mereka kuat berpuasa. Melibatkan anak dalam persiapan sahur, seperti menata meja atau membuat teh, juga bisa menjadi motivasi agar mereka lebih mudah bangun. Ciptakan suasana menyenangkan dengan memutar lagu Islami atau, jika memungkinkan, ajak mereka membangunkan sahur warga sekitar.

4 dari 4 halaman

Kesabaran Orang Tua dan Konsekuensi Positif

Membangunkan anak untuk sahur memang membutuhkan kesabaran ekstra dari orang tua. Tetaplah sabar dan tenang, hindari menunjukkan rasa cemas atau marah, karena hal ini dapat membuat anak semakin rewel dan moodnya buruk seharian.

Berikan penghargaan atau insentif berupa pujian atau hadiah kecil saat anak mau bangun sahur. Hal ini akan membantu membangun kebiasaan positif dan memberikan dorongan bagi mereka untuk bangun tepat waktu. Apresiasi tidak harus berupa benda mahal, cukup dengan pujian dan kasih sayang.

Jika segala cara sudah dicoba dan anak tetap tidak mau bangun, biarkan mereka menerima konsekuensinya. Jelaskan bahwa tidak sahur dapat membuat mereka lapar, lemas, sulit konsentrasi, dan mungkin membatalkan puasa, yang berarti mereka harus menggantinya di hari lain. Dengan menerapkan tips-tips ini, Sahabat Fimela dapat menciptakan pengalaman sahur yang positif dan menyenangkan bagi anak, sehingga mereka lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah puasa.