Rahasia Sukses, Kapan Usia Ideal Mengajarkan Anak untuk Puasa?

Nabila MecadinisaDiterbitkan 04 Februari 2026, 16:53 WIB

ringkasan

  • Pengenalan puasa dapat dimulai sejak usia 3-7 tahun secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi fisik dan mental anak, meskipun kewajiban puasa dimulai saat baligh.
  • Strategi efektif mengajarkan anak untuk puasa meliputi pemberian pemahaman, latihan bertahap seperti puasa jajan dan setengah hari, menjadi teladan, serta menciptakan suasana Ramadan yang menyenangkan.
  • Melatih anak berpuasa tidak hanya menumbuhkan kedisiplinan dan kesabaran, tetapi juga membangun karakter seperti empati, kejujuran, dan mempererat ikatan keluarga.

Fimela.com, Jakarta - Puasa merupakan salah satu ibadah penting dalam Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah baligh. Meskipun anak-anak belum diwajibkan berpuasa, mengenalkan serta melatih mereka sejak dini dapat membantu terbiasa dan memahami esensi ibadah ini ketika dewasa. Proses pengajaran puasa pada anak perlu dilakukan secara bertahap, penuh kesabaran, dan tanpa paksaan, dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan mental anak.

Sahabat Fimela, membiasakan anak untuk puasa memanglah penting, baik untuk melatih kedisiplinan maupun menumbuhkan nilai-nilai spiritual dalam diri mereka. Mengajarkan anak untuk puasa sejak dini adalah investasi berharga untuk masa depan spiritual mereka.

Mengenalkan dan melatih anak berpuasa di bulan Ramadan merupakan tanggung jawab orang tua yang memerlukan pendekatan yang tepat, penuh kasih sayang, dan berbasis pengetahuan. Artikel ini akan mengulas tuntunan mengenai cara mudah mendidik anak agar semangat puasa Ramadan.

2 dari 4 halaman

Usia Ideal untuk Memulai Latihan Puasa Anak

Meskipun kewajiban puasa dimulai saat anak memasuki usia baligh, yaitu sekitar 9–14 tahun untuk laki-laki dan 8–13 tahun untuk perempuan, pengenalan puasa dapat dimulai lebih awal. Para orang tua disarankan untuk mulai mengajarkan anak puasa menjelang masa pubertas atau setidaknya saat anak berusia 6–7 tahun. Namun, hal ini tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.

Beberapa pakar psikologi, seperti Dra. Adriani Purbo, M.Psi. MBA, bahkan menyarankan pengenalan konsep puasa sejak usia 3 tahun. Pada usia 3–5 tahun, anak sudah dapat diajak mengikuti sahur, berbuka puasa, atau kegiatan Ramadan lainnya, sehingga mereka mulai familiar dengan suasana ibadah.

Penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan anak secara keseluruhan sebelum memutuskan untuk mengajarkan anak berpuasa. Faktor seperti tingkat aktivitas dan ketahanan diri terhadap rasa lapar juga perlu menjadi perhatian utama. Melatih anak berpuasa haruslah aman dan tidak membebani mereka.

Pendekatan bertahap ini sejalan dengan anjuran Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan untuk melatih anak berpuasa sejak kecil, seperti yang diriwayatkan dalam hadis Al-Bukhari dan Muslim. Hadis ini menunjukkan kebolehan melatih anak-anak berpuasa, bahkan jika mereka belum mencapai usia baligh, dengan tujuan pembiasaan dan penyiapan mental-spiritual.

3 dari 4 halaman

Strategi Efektif Mengajarkan Anak untuk Puasa dengan Menyenangkan

Ilustrasi anak, ibu, sahur, buka puasa, Islami. (Image by freepik)

Mengajarkan anak untuk puasa harus dilakukan secara bertahap dan menyenangkan, bukan dengan paksaan yang dapat menimbulkan trauma.

  • Berikan Pemahaman yang Tepat. Jelaskan makna puasa, manfaatnya, dan mengapa umat Islam berpuasa menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti anak. Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan.
  • Lakukan Secara Bertahap. Jangan mengharapkan anak langsung berpuasa penuh. Mulailah dengan puasa jajan, yaitu menahan diri dari makanan atau jajanan favorit selama bulan puasa. Kemudian, lanjutkan dengan puasa setengah hari, misalnya dari sahur hingga waktu Dzuhur. Setelah terbiasa, secara perlahan tingkatkan durasi puasa hingga satu hari penuh.
  • Jadilah Contoh yang Baik. Anak-anak cenderung meniru orang tua mereka. Dengan melihat orang tua berpuasa, anak akan termotivasi dan penasaran untuk mencoba serta mengikuti jejak kebaikan.
  • Ciptakan Suasana Menyenangkan. Buat puasa terasa menyenangkan dengan melibatkan anak dalam aktivitas Ramadan. Ini bisa berupa menyiapkan menu sahur dan berbuka, berburu takjil, atau kegiatan ngabuburit yang seru untuk menunggu waktu berbuka.
  • Berikan Apresiasi dan Motivasi. Berikan pujian tulus atau penghargaan, baik berupa hadiah kecil atau sekadar ucapan "hebat", ketika anak berhasil berpuasa. Reward ini akan memotivasi mereka untuk terus bersemangat dan merasa dihargai atas usahanya.
  • Perhatikan Asupan Gizi dan Kesehatan. Pastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup saat sahur dan berbuka, serta menjaga hidrasi tubuh agar tidak dehidrasi. Awasi kesehatan anak dan jangan memaksakan puasa jika kondisi mereka tidak memungkinkan.
  • Ajarkan Kesabaran dan Pengendalian Diri. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan. Ajarkan anak untuk menahan diri dari marah, berkata kasar, atau berbuat buruk, sehingga mereka belajar mengendalikan diri.
4 dari 4 halaman

Membangun Karakter dan Kedisiplinan melalui Latihan Puasa

Dengan pendekatan yang tepat, puasa dapat menjadi pengalaman yang aman, hangat, dan mendidik bagi anak. Mereka tidak sekadar belajar menahan lapar, tetapi juga memahami nilai ibadah serta kebiasaan yang menyehatkan tubuh dan jiwa.

Puasa adalah media pendidikan karakter (character building) yang paling efektif sejak dini. Melatih kesabaran adalah salah satu manfaat utamanya, di mana anak belajar menunda keinginan demi tujuan yang lebih besar, melatih kontrol diri. Menumbuhkan empati juga penting; dengan merasakan lapar, anak diajak untuk merasakan penderitaan fakir miskin, sehingga tumbuh rasa syukur dan kepedulian sosial dalam diri mereka.

Selain itu, puasa melatih integritas dan kejujuran. Anak belajar untuk jujur tidak makan atau minum meski tidak diawasi oleh orang tua, melainkan karena kesadaran akan pengawasan Allah SWT. Bonding keluarga juga terjalin kuat melalui kebersamaan saat sahur dan berbuka, meningkatkan kedekatan emosional antara anak dan orang tua.

Mengganti waktu luang dengan kegiatan ringan selama puasa dapat mencegah rasa bosan dan lelah. Anak juga perlu mengetahui pentingnya menghemat energi dengan memilih kegiatan yang tidak memerlukan energi berlebih. Penyusunan agenda terstruktur, seperti buku agenda Ramadhan, dapat membantu anak belajar disiplin dan merasa memiliki tanggung jawab terhadap ibadahnya, mencatat pencapaian harian mereka, jadwal sholat, dan tilawah Al-Quran.