Saat Kamu Berani Melepaskan, di Situlah Hati Menemukan Ketenangan

Endah WijayantiDiterbitkan 14 Februari 2026, 07:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ada satu fase dalam hidup yang tidak pernah benar-benar kita rencanakan, tapi hampir selalu datang: fase ketika kita lelah bertahan. Lelah mempertahankan hubungan yang tidak lagi sehat, pekerjaan yang menguras energi, atau harapan yang terus kita genggam meski berulang kali melukai diri sendiri. Di titik itu, melepaskan sering terasa seperti kekalahan. Padahal, sering kali justru sebaliknya.

Melepaskan bukan keputusan yang muncul tiba-tiba. Ia lahir dari proses panjang: dari mencoba memahami, memaafkan, memberi kesempatan, hingga akhirnya menyadari bahwa bertahan justru membuat kita kehilangan diri sendiri. Banyak orang bertahan bukan karena masih bahagia, melainkan karena takut. Takut dianggap gagal, takut sendirian, takut memulai ulang. Rasa takut itu manusiawi. Namun, membiarkannya terus memegang kendali justru membuat hati semakin sesak.

Sahabat Fimela, ada perbedaan besar antara berjuang dan memaksakan diri. Berjuang berarti ada ruang untuk tumbuh, saling mendukung, dan merasa dihargai.

Sementara memaksakan diri sering ditandai dengan rasa cemas yang terus-menerus, kehilangan semangat, dan perasaan bersalah hanya karena ingin bahagia. Ketika kita jujur pada diri sendiri, biasanya tubuh dan hati sudah memberi sinyal jauh sebelum pikiran berani mengambil keputusan.

Banyak orang takut melepaskan karena merasa semua usaha sebelumnya akan sia-sia. Waktu, emosi, dan pengorbanan seolah tidak bernilai jika semuanya berakhir.

Padahal, setiap pengalaman tetap memberi pelajaran. Tidak ada yang benar-benar hilang. Kita hanya berhenti membawa beban yang sudah tidak perlu lagi dipikul. Melepaskan bukan menghapus masa lalu, melainkan berhenti menjadikannya alasan untuk terus terluka.

Ada ketenangan yang unik setelah kita berani berkata, “Cukup.” Bukan karena semua masalah langsung selesai, tetapi karena kita berhenti melawan diri sendiri. Hati tidak lagi sibuk menyangkal apa yang sebenarnya kita rasakan. Kita memberi izin pada diri sendiri untuk jujur, dan kejujuran itu, meski awalnya menyakitkan, perlahan terasa melegakan.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Seringkali yang Paling Sulit Dilepaskan adalah Harapan

Seringkali yang Paling Sulit Dilepaskan adalah Harapan./Copyright depositphotos.com/nut_foto

Sering kali, yang paling sulit untuk dilepaskan bukan orang atau situasi, melainkan harapan. Harapan bahwa seseorang akan berubah, keadaan akan membaik, atau usaha kita suatu hari akan dihargai.

Harapan memang memberi kekuatan, tetapi ketika ia tidak lagi berpijak pada kenyataan, ia berubah menjadi sumber luka. Melepaskan harapan yang tidak realistis bukan berarti menjadi pesimis, melainkan memilih untuk lebih berpihak pada kesehatan batin sendiri.

Melepaskan juga mengajarkan kita tentang batasan. Tentang sejauh mana kita bisa memberi tanpa mengorbankan diri sendiri. Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kuat berarti selalu bertahan. Padahal, kekuatan sejati sering terlihat saat kita berani berhenti. Berani mengakui bahwa kita lelah, bahwa kita butuh ruang, dan bahwa kebahagiaan kita juga penting.

Sahabat Fimela, ketenangan tidak selalu datang dari keadaan yang sempurna. Ia sering hadir ketika kita berhenti memaksakan kesempurnaan.

Saat kita menerima bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan, dan tidak semua orang bisa kita selamatkan. Ada kelegaan besar dalam menerima keterbatasan itu. Kita tidak lagi merasa harus bertanggung jawab atas segalanya.

Proses melepaskan tentu tidak instan. Ada hari-hari ketika rindu datang, ketika keraguan muncul, ketika kita bertanya-tanya apakah keputusan ini benar. Semua itu wajar.

Yang penting, kita tidak mengkhianati diri sendiri dengan kembali ke pola lama hanya demi rasa familiar. Ketenangan membutuhkan konsistensi, bukan keputusan besar yang diambil sekali lalu selesai.

Perlahan, setelah melepaskan, kita mulai mendengar diri sendiri lagi. Kita lebih peka terhadap apa yang kita butuhkan, apa yang membuat kita nyaman, dan apa yang sebaiknya dihindari.

Kita belajar menikmati kesunyian tanpa merasa kosong. Kita belajar bahwa tenang tidak selalu berarti bahagia sepanjang waktu, tetapi tidak lagi terus-menerus berperang di dalam diri.

Melepaskan juga membuka ruang baru. Ruang untuk bertemu versi diri yang lebih jujur, lebih dewasa, dan lebih penuh kasih pada diri sendiri. Ruang untuk hubungan yang lebih sehat, pekerjaan yang lebih selaras, dan hidup yang terasa lebih ringan. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita tidak lagi menambah beban yang sebenarnya bisa dilepaskan.

Jika saat ini kamu berada di persimpangan dan merasa ragu, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Dengarkan dirimu sendiri tanpa menghakimi.

Tanyakan dengan jujur: apakah bertahan masih memberimu kehidupan, atau justru mengurasnya perlahan? Jawabannya mungkin tidak nyaman, tetapi sering kali itulah pintu menuju ketenangan yang selama ini kamu cari.

Melepaskan adalah bentuk kepercayaan. Kepercayaan bahwa kita mampu melewati hari-hari ke depan. Kepercayaan bahwa hidup tidak akan berhenti hanya karena satu bab ditutup. Dan yang terpenting, kepercayaan bahwa kita layak hidup dengan hati yang lebih tenang.

Karena saat kamu berani melepaskan, bukan dunia yang runtuh. Justru di situlah hati mulai bernapas lebih lega, dan ketenangan menemukan jalannya pulang.