7 Cara agar Tidak Terpuruk saat Hidup Terasa Makin Berat

Endah WijayantiDiterbitkan 14 Februari 2026, 08:45 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ada fase dalam hidup ketika semuanya terasa menekan secara bersamaan. Masalah datang silih berganti, energi cepat habis, dan semangat yang dulu terasa dekat kini seperti menjauh. Di titik ini, banyak orang tidak sedang mencari jawaban besar mereka hanya ingin bisa bertahan tanpa merasa hancur.

Jika kamu sedang berada di fase itu, kamu tidak sendiri. Hidup memang tidak selalu ramah, tapi ada cara agar kita tidak ikut runtuh bersamanya. Berikut tujuh cara yang bisa membantu kamu tetap berdiri saat hidup terasa makin berat.

What's On Fimela
2 dari 8 halaman

1. Berhenti Menuntut Diri untuk Selalu Kuat

1. Berhenti Menuntut Diri untuk Selalu Kuat./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Salah satu beban paling berat sering kali datang dari dalam diri sendiri. Kita merasa harus tetap kuat, tetap produktif, tetap tersenyum, padahal hati sudah kelelahan. Menuntut diri untuk selalu baik-baik saja justru mempercepat kejatuhan.

Izinkan diri merasa lelah, kecewa, bahkan sedih. Itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa kamu manusia. Ketika kamu berhenti melawan perasaan sendiri, energi yang tersisa bisa dipakai untuk memulihkan diri, bukan menutupi luka.

Sahabat Fimela, kekuatan sejati bukan tentang menahan segalanya sendirian, tapi tentang tahu kapan harus mengakui bahwa kamu butuh ruang untuk bernapas.

3 dari 8 halaman

2. Kecilkan Fokus, Jangan Hadapi Semuanya Sekaligus

2. Kecilkan Fokus, Jangan Hadapi Semuanya Sekaligus./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Saat hidup terasa berat, sering kali masalah terasa menumpuk dan saling bertabrakan di kepala. Akibatnya, kamu merasa kewalahan bahkan sebelum mulai bertindak. Di momen seperti ini, memperkecil fokus adalah langkah penyelamat.

Tanyakan pada diri sendiri: “Apa satu hal paling penting yang bisa aku lakukan hari ini?” Bukan minggu ini, bukan bulan ini hari ini saja. Fokus pada satu langkah kecil yang realistis.

Hidup tidak harus dibereskan sekaligus. Bertahan hari ini saja sudah cukup. Besok bisa dipikirkan nanti.

4 dari 8 halaman

3. Jaga Rutinitas Dasar meski Sederhana

3. Jaga Rutinitas Dasar meski Sederhana./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Ketika mental sedang turun, hal-hal sederhana sering terasa berat: mandi, makan, tidur cukup. Padahal, rutinitas dasar justru menjadi fondasi agar kamu tidak terpuruk lebih dalam.

Tidak perlu target muluk. Makan tepat waktu, minum air yang cukup, dan tidur dengan jam yang lebih teratur sudah sangat membantu menstabilkan emosi. Tubuh yang lebih terawat memberi sinyal aman pada pikiran.

Sering kali kita mencari solusi besar, padahal yang dibutuhkan hanyalah konsistensi kecil yang dijaga dengan lembut.

5 dari 8 halaman

4. Kurangi Paparan yang Menguras Emosi

4. Kurangi Paparan yang Menguras Emosi./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Tanpa disadari, apa yang kita konsumsi setiap hari baik dari media sosial, berita, atau percakapan bisa memperberat beban batin. Saat hidup sudah terasa berat, kamu berhak memilih untuk menjaga jarak dari hal-hal yang membuatmu makin lelah.

Bukan berarti kamu lari dari kenyataan. Ini tentang memberi jeda agar pikiran punya ruang untuk pulih. Unfollow akun yang memicu perbandingan, batasi berita negatif, dan pilih obrolan yang terasa aman.

Sahabat Fimela, menjaga kesehatan mental juga berarti berani selektif terhadap apa yang kamu izinkan masuk ke dalam hidupmu.

6 dari 8 halaman

5. Jangan Menyendiri Terlalu Lama

5. Jangan Menyendiri Terlalu Lama./Copyright Fimela - Abel

Ada perbedaan antara butuh waktu sendiri dan mengisolasi diri. Saat hidup terasa berat, keinginan untuk menarik diri sering muncul. Itu wajar. Namun, jika dibiarkan terlalu lama, kesendirian bisa berubah menjadi jebakan.

Cobalah tetap terhubung, meski sederhana. Kirim pesan singkat ke orang yang kamu percaya, duduk bersama tanpa harus bercerita banyak, atau sekadar ditemani dalam diam. Kamu tidak harus menjelaskan semuanya.

Kehadiran orang lain sering kali tidak menghapus masalah, tapi bisa meringankan beban yang kamu pikul sendirian.

7 dari 8 halaman

6. Berhenti Membandingkan Proses Hidupmu dengan Orang Lain

6. Berhenti Membandingkan Proses Hidupmu dengan Orang Lain./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Saat sedang terpuruk, melihat orang lain tampak baik-baik saja bisa terasa menyakitkan. Namun, yang terlihat di permukaan jarang mencerminkan keseluruhan cerita.

Setiap orang punya garis waktu dan luka masing-masing. Membandingkan dirimu dengan orang lain hanya akan membuatmu merasa tertinggal, padahal kamu sedang berjuang di medan yang berbeda.

Fokuslah pada prosesmu sendiri. Kamu tidak lambat kamu sedang bertahan. Dan itu sudah sangat berarti.

8 dari 8 halaman

7. Ingat: Fase Berat Tidak Menentukan Nilai Dirimu

7. Ingat: Fase Berat Tidak Menentukan Nilai Dirimu./Copyright freepik.com/author/cookie-studio

Ketika hidup terasa berat, mudah sekali merasa gagal, tidak cukup baik, atau merasa hidupmu salah arah. Padahal, fase sulit tidak pernah menjadi ukuran nilai seseorang.

Kamu tetap berharga, bahkan saat tidak produktif. Kamu tetap layak dicintai, bahkan saat merasa berantakan. Hidup boleh terasa berat, tapi itu tidak menghapus siapa dirimu sebenarnya.

Pegang satu hal ini dengan erat: perasaan terpuruk adalah kondisi, bukan identitas. Ia akan berubah, seiring waktu dan perhatian yang kamu berikan pada diri sendiri.

Sahabat Fimela, hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada hari-hari ketika bangun saja sudah terasa berat. Di momen seperti itu, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Bertahan adalah pencapaian. Melangkah pelan adalah keberanian.

Kamu tidak harus kuat setiap saat. Kamu hanya perlu cukup jujur pada diri sendiri, cukup peduli untuk menjaga diri, dan cukup sabar menunggu hari terasa lebih ringan. Karena meski sekarang berat, hidup tidak akan selalu berada di titik ini.