Hidup Tenang Dimulai saat Kamu Berhenti Melukai Dirimu Sendiri

Endah WijayantiDiterbitkan 14 Februari 2026, 10:45 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ada fase dalam hidup ketika sumber kelelahan terbesar bukan lagi dunia luar, melainkan cara kita memperlakukan diri sendiri. Kita tetap bangun pagi, menjalani hari, memenuhi tanggung jawab, tapi di dalam hati rasanya selalu ada yang tertekan. Bukan karena hidup terlalu kejam, melainkan karena kita terlalu keras pada diri sendiri.

Melukai diri sendiri tidak selalu berarti hal yang terlihat ekstrem. Sering kali bentuknya jauh lebih halus dan bahkan dianggap wajar. Mengabaikan perasaan sendiri, memaksakan diri untuk selalu kuat, terus menyalahkan diri atas hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali, atau bertahan dalam situasi yang jelas menyakitkan hanya demi diterima. Semua itu adalah luka yang pelan-pelan menggerogoti ketenangan batin.

Sahabat Fimela, hidup yang tenang tidak datang dari kemampuan kita menahan segalanya sendirian. Hidup yang tenang justru dimulai saat kita berhenti menjadi musuh bagi diri sendiri.

What's On Fimela
2 dari 8 halaman

Ketika Kamu Terlalu Keras pada Dirimu Sendiri

Ketika Kamu Terlalu Keras pada Dirimu Sendiri./Copyright freepik.com/author/lookstudio

Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kuat berarti tidak mengeluh, tidak lelah, dan tidak boleh gagal. Kita belajar memaklumi tuntutan orang lain, tapi lupa memberi toleransi pada diri sendiri. Saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, refleks pertama kita adalah menyalahkan diri.

“Kamu kurang usaha.”

“Kamu memang tidak cukup baik.”

“Kamu seharusnya bisa lebih.”

Kalimat-kalimat itu mungkin tidak pernah diucapkan oleh orang lain, tapi terus bergema di kepala kita. Dan tanpa sadar, itulah bentuk kekerasan emosional yang kita lakukan pada diri sendiri setiap hari.

Menjadi tegas pada diri sendiri itu perlu. Tapi menjadi kejam bukanlah tanda kedewasaan. Ada perbedaan besar antara bertanggung jawab atas hidup sendiri dan terus-menerus menghukum diri karena tidak sempurna.

3 dari 8 halaman

Bertahan Bukan Selalu Pilihan yang Bijak

Bertahan Bukan Selalu Pilihan yang Bijak./Copyright Fimela - Adhib

Ada kebanggaan tersendiri saat kita bisa bertahan. Bertahan dalam hubungan yang melelahkan, pekerjaan yang menguras mental, atau lingkungan yang tidak menghargai batasan kita. Kita sering mengira bertahan adalah bentuk kedewasaan dan pengorbanan.

Padahal, bertahan tanpa mendengarkan suara hati sering kali adalah bentuk pengkhianatan pada diri sendiri.

Sahabat Fimela, tidak semua yang kamu pertahankan layak diperjuangkan. Ada kalanya melepaskan bukan berarti kalah, tetapi justru memilih untuk berhenti melukai diri sendiri. Kamu tidak egois karena memilih pergi dari sesuatu yang membuatmu kehilangan diri sendiri.

4 dari 8 halaman

Mengabaikan Diri Sendiri Juga Bentuk Luka

Mengabaikan Diri Sendiri Juga Bentuk Luka./Copyright Fimela - Guntur

Banyak orang merasa tidak pernah menyakiti dirinya sendiri karena tidak melakukan hal-hal yang tampak ekstrem. Namun, mengabaikan kebutuhan emosional sendiri juga bentuk luka.

Terus berkata “tidak apa-apa” padahal hatimu remuk.Memaksakan senyum ketika kamu butuh istirahat.Menganggap perasaanmu tidak penting karena ada orang lain yang “lebih menderita”.

Semua itu perlahan membentuk jarak antara kamu dan dirimu sendiri. Kamu hidup, tapi tidak benar-benar hadir. Kamu menjalani hari, tapi tidak benar-benar merasa aman di dalamnya.

Hidup yang tenang tidak mungkin tumbuh di atas pengabaian diri yang terus-menerus.

5 dari 8 halaman

Belajar Berhenti Menyalahkan Diri

Belajar Berhenti Menyalahkan Diri./Copyright Fimela - Adhib

Salah satu langkah paling penting untuk berhenti melukai diri sendiri adalah berhenti menjadikan diri sebagai kambing hitam atas segalanya. Tidak semua kegagalan adalah cerminan nilai dirimu. Tidak semua penolakan berarti kamu tidak layak.

Ada hal-hal yang memang tidak berjalan sesuai rencana, meski kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Dan itu tidak membuatmu gagal sebagai manusia.

Belajar berkata pada diri sendiri, “Aku sudah melakukan yang aku bisa,” adalah bentuk keberanian. Ini bukan tentang mencari pembenaran, melainkan tentang bersikap adil pada diri sendiri.

6 dari 8 halaman

Menetapkan Batasan adalah Bentuk Self-Respect

Menetapkan Batasan adalah Bentuk Self-Respect./copyright Fimela - Adhib

Banyak luka emosional muncul karena kita terlalu sering mengabaikan batasan diri. Kita mengatakan “iya” saat ingin berkata “tidak”. Kita mendahulukan kenyamanan orang lain sambil mengorbankan kesehatan mental sendiri.

Sahabat Fimela, menetapkan batasan bukan berarti kamu menjadi dingin atau tidak peduli. Justru sebaliknya, itu tanda bahwa kamu menghargai dirimu sendiri. Kamu tidak bisa hidup tenang jika terus membiarkan orang lain melampaui batas yang membuatmu merasa tidak aman.

Batasan adalah cara sehat untuk menjaga hubungan, termasuk hubunganmu dengan diri sendiri.

7 dari 8 halaman

Memaafkan Diri Sendiri yang Pernah Salah

Memaafkan Diri Sendiri yang Pernah Salah./Copyright depositphotos.com/arthurhidden

Ada luka yang bertahan lama bukan karena orang lain, melainkan karena kita belum memaafkan diri sendiri. Kita terus mengungkit keputusan lama, pilihan yang tidak sempurna, dan versi diri yang dulu belum tahu banyak hal.

Padahal, kamu membuat keputusan dengan pengetahuan dan kapasitas yang kamu miliki saat itu. Menghukum diri sekarang tidak akan mengubah masa lalu, tapi justru mencuri ketenangan hari ini.

Memaafkan diri sendiri bukan berarti melupakan pelajaran. Itu berarti berhenti menjadikan masa lalu sebagai alat untuk menyiksa diri di masa kini.

8 dari 8 halaman

Hidup Tenang Itu tentang Berdamai

Hidup Tenang Itu tentang Berdamai./Copyright depositphotos.com/serezniy

Banyak orang mengira hidup tenang datang setelah semua masalah selesai. Setelah karier stabil, hubungan ideal, dan hidup terlihat rapi. Kenyataannya, hidup tenang lebih sering datang saat kita berdamai dengan kenyataan bahwa hidup tidak selalu sempurna.

Saat kamu berhenti menuntut dirimu untuk selalu kuat.Saat kamu mengizinkan diri untuk lelah tanpa merasa bersalah.Saat kamu menerima bahwa kamu manusia, bukan mesin.

Di situlah ketenangan mulai terasa. Bukan karena hidupmu bebas masalah, tapi karena kamu tidak lagi melukai diri sendiri saat menghadapi masalah.

Bayangkan jika kamu memperlakukan dirimu seperti sahabat baik. Kamu tidak akan terus menyudutkannya, meremehkan usahanya, atau mengabaikan rasa lelahnya. Kamu akan mendengarkan, memahami, dan memberi ruang untuk pulih.

Hidup tenang dimulai saat kamu berhenti menjadi hakim paling kejam bagi dirimu sendiri, dan mulai menjadi sekutu yang setia. Kamu boleh belajar, berubah, dan bertumbuh tanpa harus menyakiti diri dalam prosesnya.

Sahabat Fimela, kamu tidak perlu menyakiti diri sendiri untuk menjadi layak dicintai atau dihargai. Kamu sudah cukup, bahkan saat masih belajar, masih lelah, dan masih mencari arah.