7 Upaya Kecil agar Silaturahmi Makin Erat di Bulan Ramadan

Endah WijayantiDiterbitkan 28 Februari 2026, 10:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ramadan selalu membawa suasana yang lebih istimewa. Ritmenya lebih tenang, percakapan terasa lebih hangat, dan hati cenderung lebih terbuka untuk saling memahami. Namun silaturahmi yang erat tidak terjadi begitu saja hanya karena kalender menunjukkan bulan suci. Silaturahmi perlu dirawat, bahkan melalui langkah-langkah kecil yang sering kali dianggap sepele.

Sahabat Fimela, hubungan yang kuat bukan dibangun oleh momen besar saja, melainkan oleh perhatian sederhana yang dilakukan dengan konsisten. Ramadan adalah waktu yang sangat tepat untuk memulainya. Berikut tujuh upaya kecil yang bisa dilakukan agar silaturahmi makin erat dan terasa lebih bermakna.

2 dari 8 halaman

1. Menyempatkan Menghubungi Lebih Dulu

1. Menyempatkan Menghubungi Lebih Dulu./Copyright Fimela/Adrian Putra

Sering kali hubungan merenggang bukan karena konflik besar, tetapi karena sama-sama menunggu untuk memulai percakapan. Ramadan bisa menjadi alasan yang baik untuk menghubungi lebih dulu. Sebuah pesan singkat menanyakan kabar, mengucapkan selamat berpuasa, atau mendoakan kesehatan bisa membuka kembali pintu komunikasi yang lama tertutup.

Tidak perlu panjang dan tidak perlu terlalu formal. Yang penting tulus. Tindakan sederhana ini menunjukkan kepedulian. Banyak orang yang sebenarnya ingin terhubung kembali, hanya saja ragu untuk memulai.

3 dari 8 halaman

2. Meluangkan Waktu untuk Bertemu, Meski Singkat

2. Meluangkan Waktu untuk Bertemu, Meski Singkat./Copyright Fimela/Adrian Putra

Jadwal mungkin padat, terutama menjelang berbuka atau saat persiapan sahur. Namun menyisihkan waktu untuk bertemu, walau hanya sebentar, bisa memberi dampak besar pada kedekatan.

Buka puasa bersama keluarga, sahabat lama, atau rekan kerja tidak harus mewah. Pertemuan sederhana di rumah atau di tempat yang nyaman sudah cukup. Yang terpenting adalah hadir sepenuhnya, bukan hanya datang secara fisik tetapi pikiran masih sibuk dengan gawai.

Kehadiran yang utuh membuat orang merasa dihargai. Dari sana, hubungan perlahan menguat.

4 dari 8 halaman

3. Belajar Mendengarkan dengan Sungguh-sungguh

3. Belajar Mendengarkan dengan Sungguh-sungguh./Copyright Fimela/Adrian Putra

Silaturahmi yang erat membutuhkan ruang untuk didengar. Ramadan adalah momen yang tepat untuk melatih kesabaran dalam mendengarkan. Tidak memotong pembicaraan, tidak tergesa-gesa memberi nasihat, dan tidak merasa paling benar.

Banyak konflik kecil sebenarnya muncul karena kurangnya kesediaan untuk memahami sudut pandang orang lain. Dengan mendengarkan secara utuh, hubungan menjadi lebih hangat dan penuh rasa hormat.

Sahabat Fimela, kadang yang dibutuhkan seseorang bukan solusi, melainkan telinga yang bersedia mendengar tanpa menghakimi.

5 dari 8 halaman

4. Mengurangi Ego saat Terjadi Perbedaan

4. Mengurangi Ego saat Terjadi Perbedaan./Copyright depositphotos.com/mentatdgt

Pertemuan keluarga atau kerabat sering kali mempertemukan berbagai karakter dan pandangan. Tidak semua percakapan akan berjalan mulus. Di sinilah kedewasaan diuji.

Mengurangi ego bukan berarti mengalah tanpa prinsip, tetapi memilih untuk tidak memperbesar hal-hal yang sebenarnya bisa diredam. Ramadan mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam berbicara dan bereaksi.

Jika ada perbedaan pendapat, sampaikan dengan tenang. Jika suasana mulai memanas, lebih baik menenangkan diri sejenak. Kedekatan jauh lebih berharga daripada keinginan untuk selalu menang dalam perdebatan.

6 dari 8 halaman

5. Memberi Perhatian Kecil yang Tulus

5. Memberi Perhatian Kecil yang Tulus./Copyright depositphotos.com/voronaman

Perhatian kecil sering kali lebih bermakna daripada hadiah besar. Membawakan makanan untuk tetangga, mengirimkan paket kecil untuk keluarga yang jauh, atau membantu menyiapkan hidangan berbuka di rumah adalah contoh nyata.

Tindakan ini menunjukkan bahwa kebersamaan bukan sekadar formalitas. Ada kepedulian yang nyata di baliknya. Ramadan mengajarkan untuk berbagi, dan berbagi tidak selalu tentang materi.

Kadang, menawarkan bantuan tanpa diminta sudah cukup untuk membuat orang merasa dihargai.

7 dari 8 halaman

6. Memperbaiki Hubungan yang Pernah Retak

6. Memperbaiki Hubungan yang Pernah Retak./Copyright Fimela/Adrian Putra

Tidak semua silaturahmi berjalan mulus. Ada kalanya kesalahpahaman atau kekecewaan membuat jarak tercipta. Ramadan adalah waktu yang sangat baik untuk mulai memperbaiki hubungan yang retak.

Meminta maaf tidak harus menunggu momen besar. Sebuah pesan yang tulus atau ajakan bertemu untuk berbicara dari hati ke hati bisa menjadi awal yang baik. Memang tidak semua respons akan langsung hangat, tetapi niat baik tetap memiliki nilai.

Memperbaiki hubungan membutuhkan keberanian dan kerendahan hati. Namun ketika langkah itu diambil, hati terasa lebih ringan dan hubungan punya peluang untuk tumbuh lebih sehat.

8 dari 8 halaman

7. Mendoakan dengan Hati yang Sepenuhnya Tulus

7. Mendoakan dengan Hati yang Sepenuhnya Tulus./Copyright Fimela/Adrian Putra

Upaya mempererat silaturahmi tidak selalu terlihat. Salah satu yang paling kuat justru dilakukan dalam diam: mendoakan kebaikan untuk orang-orang terdekat.

Mendoakan kesehatan orang tua, kelapangan rezeki saudara, ketenangan hati sahabat, dan kemudahan urusan rekan kerja adalah bentuk perhatian yang sangat dalam. Doa membuat hati lebih lembut dan mengurangi prasangka.

Ketika hati bersih dari iri dan dendam, hubungan menjadi lebih mudah dijaga. Ramadan memberi ruang untuk memperbaiki niat, termasuk dalam menjaga silaturahmi.

Sahabat Fimela, mempererat hubungan bukan tentang melakukan hal-hal besar yang sulit dijangkau. Justru langkah kecil yang dilakukan dengan konsistenlah yang memberi dampak nyata. Menghubungi lebih dulu, hadir dengan sungguh-sungguh, mendengarkan tanpa menghakimi, mengendalikan ego, memberi perhatian sederhana, berani meminta maaf, dan mendoakan dalam diam—semuanya terlihat sederhana, tetapi maknanya dalam.

Ramadan adalah kesempatan untuk memperhalus sikap dan memperbaiki hubungan. Jangan menunggu momen sempurna atau kondisi ideal. Mulailah dari yang bisa dilakukan hari ini. Silaturahmi yang dijaga dengan hati akan membuat Ramadan terasa lebih hangat dan penuh arti.

Karena pada akhirnya, hubungan yang erat bukan hanya membuat suasana Ramadan lebih menyenangkan, tetapi juga memperkuat kehidupan setelah bulan suci berlalu. Dan langkah kecil yang dilakukan sekarang bisa menjadi fondasi bagi kebersamaan yang lebih kuat di masa depan.