Fimela.com, Jakarta - Setiap orangtua pasti ingin melihat anaknya tumbuh bahagia dan percaya diri. Tapi dalam prosesnya, anak tidak selalu menang, tidak selalu berhasil, dan tidak selalu sesuai harapan. Ada kalanya mereka kalah lomba, nilainya turun, atau gagal melakukan hal sederhana yang menurut orang dewasa terlihat mudah. Di titik inilah peran orangtua menjadi sangat penting—bukan untuk menghapus kegagalannya, tetapi membantu anak memahami dan melewatinya.
Konsep soft landing parenting hadir sebagai pendekatan yang lebih hangat dan realistis. Soft landing bukan berarti membiarkan anak tanpa arahan atau memanjakan setiap kesalahan, melainkan memberi “tempat jatuh” yang aman ketika anak merasa kecewa. Anak tetap belajar bahwa gagal itu tidak enak, tetapi juga tidak menakutkan. Orangtua hadir sebagai pendamping, bukan hakim. Ada empati, ada batasan, dan ada dorongan untuk mencoba lagi.
Pendekatan ini juga erat kaitannya dengan kesehatan mental anak. Anak yang terbiasa didukung saat gagal cenderung lebih berani mencoba hal baru dan tidak mudah merasa dirinya “tidak mampu”. Pola asuh ini bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan di masa sekarang ketika tekanan sosial semakin besar. Dilansir dari SF Stress and Anxiety Center, hubungan orangtua dan anak menjadi salah satu faktor terkuat dalam membentuk ketahanan mental anak saat menghadapi tantangan dan rasa kecewa.
Apa Itu Parenting Soft Landing?
Sederhananya, soft landing parenting adalah cara orangtua membantu anak “jatuh dengan lembut” ketika mengalami kegagalan. Orangtua tidak langsung menyalahkan atau buru-buru mengambil alih masalah, tetapi memberi ruang bagi anak untuk merasakan emosinya lebih dulu. Sedih boleh, kesal boleh, malu pun wajar—namun semua itu didampingi agar tidak berubah menjadi rasa tidak berharga.
Anak jadi paham bahwa kesalahan bukan akhir dunia. Justru dari situlah mereka belajar mengenali diri dan menemukan cara baru untuk mencoba lagi.
Kenapa Soft Landing Penting untuk Mental Anak?
Sahabat Fimela, mental yang sehat bukan berarti anak harus selalu ceria. Justru anak perlu tahu cara menghadapi perasaan tidak nyaman tanpa merasa hancur. Ketika orangtua menerapkan soft landing, anak perlahan belajar bahwa kecewa itu sementara, dan kegagalan bukan label permanen.
Beberapa manfaat yang biasanya terlihat antara lain:
- Anak lebih tangguh dan tidak mudah menyerah
- Percaya diri saat mencoba hal baru
- Lebih mampu mengelola emosi saat tertekan
- Terbiasa mencari solusi, bukan menyalahkan diri sendiri
Dukungan sederhana dari orangtua sering kali menjadi pembeda antara anak yang takut mencoba dan anak yang berani bangkit.
Orangtua adalah Contoh Terdekat
Anak belajar paling cepat dari apa yang mereka lihat setiap hari. Cara orangtua menghadapi stres, kesalahan kecil, atau rencana yang tidak berjalan mulus akan direkam oleh anak. Jika orangtua mudah panik atau menyalahkan diri sendiri berlebihan, anak bisa meniru pola yang sama. Sebaliknya, ketika orangtua bisa berkata, “Nggak apa-apa, kita perbaiki pelan-pelan,” anak belajar bahwa kesalahan adalah bagian normal dari hidup.
Biarkan Anak Mencoba dan Mengalami
Soft landing bukan berarti selalu menolong anak di detik pertama mereka kesulitan. Anak tetap perlu merasakan tantangan sesuai usianya—menyusun puzzle, belajar naik sepeda, atau mencoba lomba kecil. Tugas orangtua adalah menemani, bukan menggantikan.
Kalimat sederhana seperti, “Belum berhasil ya? Coba lagi, Mama/Papa di sini kok,” bisa terasa sangat menenangkan bagi anak. Mereka tahu ada tempat kembali tanpa rasa takut dimarahi.
Biasakan Ngobrol Soal Perasaan
Sering kali anak belum bisa menjelaskan apa yang ia rasakan. Di sinilah orangtua membantu memberi nama pada emosi. Bukan hanya bertanya “Kenapa?”, tetapi juga “Kamu sedih ya?” atau “Kesal banget, ya?” Hal kecil ini membantu anak merasa dimengerti.
Teknik sederhana seperti menarik napas dalam, bergerak sebentar, atau bercerita sebelum tidur juga bisa membantu anak menenangkan diri setelah hari yang berat.
Hargai Usahanya, Bukan Hanya Hasilnya
Pujian tidak harus selalu tentang juara atau nilai sempurna. Menghargai usaha anak meski hasilnya belum maksimal—membantu mereka memahami bahwa dirinya berharga bukan karena menang, tetapi karena berproses. Anak pun tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih sehat dan tidak mudah takut gagal lho, Sahabat Fimela!
Penulis: Siti Nur Arisha