Sukses

FimelaMom

Hati-Hati Doomscrolling, Kebiasaan Diam-Diam yang Bisa Ganggu Kesehatan Mental Anak

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, di era digital ini, hampir semua anak sudah akrab dengan dunia online. Entah untuk belajar, hiburan, atau sekadar melihat tren terkini di media sosial, layar gadget seperti tidak pernah lepas dari keseharian mereka. Namun di balik kemudahan akses informasi, ada satu kebiasaan yang mulai diam-diam terbentuk, doomscrolling.

Dilansir dari The Brain Workshop, doomscrolling adalah kecenderungan terus menerus menelusuri berita atau konten bernuansa negatif, terutama di media sosial. Kebiasaan ini bisa membuat seseorang terjebak dalam siklus kecemasan, apalagi jika dilakukan tanpa disadari. Masalahnya, anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan otak dan emosi, justru jadi kelompok yang paling rentan terkena dampaknya.

Tanpa bimbingan yang tepat, anak bisa terpapar informasi yang tidak sesuai usianya, menimbulkan rasa takut, sedih, bahkan stres berkepanjangan. Berawal dari ingin tahu kabar terbaru, namun bisa berubah jadi kebiasaan yang diam-diam merusak kesehatan mental mereka. Yuk Sahabat Fimela, simak penjelasannya berikut ini.

Mengapa Otak Anak Lebih Rentan?

Berbeda dengan orang dewasa yang sudah punya pengalaman dan kontrol diri, anak-anak belum mampu membedakan mana informasi yang pantas dikonsumsi dan mana yang bisa diabaikan. Itulah mengapa doomscrolling bisa memberikan efek lebih kuat bagi mereka.

Menurut The Brain Workshop, kebiasaan ini dapat memicu gejala seperti sulit tidur, penurunan konsentrasi, hingga munculnya rasa cemas berlebihan. Otak anak yang sedang berkembang menjadi lebih sensitif terhadap berita buruk, yang lama-kelamaan bisa membentuk pola pikir negatif dan membuat anak mudah merasa takut terhadap dunia luar.

Lebih buruk lagi, terlalu lama terpaku pada layar juga bisa membuat anak kehilangan koneksi dengan dunia nyata. Mereka jadi enggan bersosialisasi, kehilangan minat beraktivitas, hingga tidak bisa fokus dalam belajar.

Kenali Tanda-Tanda Anak Mengalami Doomscrolling

Sebagai orang tua, penting untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Apakah mereka jadi lebih mudah cemas, atau tidur mereka terganggu? dan apakah mereka mulai kehilangan semangat atau sulit berkonsentrasi saat belajar?

Tanda-tanda doomscrolling lainnya bisa berupa terlalu sering mengecek ponsel, suasana hati yang mudah berubah, dan keinginan terus menerus untuk mengetahui berita terbaru, meski membuat mereka merasa lebih tidak tenang.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Sahabat Fimela, ada banyak cara untuk membantu anak keluar dari kebiasaan ini. Langkah awal bisa dimulai dari diri sendiri. Tunjukkan pada anak bahwa orang tua pun bisa membatasi waktu menatap layar. Ciptakan rutinitas keluarga yang sehat, misalnya waktu bebas gadget sebelum tidur, dan lebih banyak aktivitas offline seperti bermain, menggambar, atau membaca buku bersama. Ajak anak berdiskusi tentang apa yang mereka lihat di media sosial, dan bantu mereka mengenali perasaan mereka saat mengakses konten tertentu.

Bila perlu, bantu mereka mengatur ulang timeline media sosialnya agar lebih sehat. Ikuti akun-akun edukatif, inspiratif, dan jauh dari sensasi negatif. Ajarkan mereka untuk sadar saat ingin membuka ponsel, bukan hanya karena kebiasaan.

Harus Hati-Hati dengan Doomscrolling

Sahabat Fimela, doomscrolling mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya bisa sangat nyata, terutama untuk anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang. Dengan perhatian dan pendampingan yang tepat, kita bisa membantu mereka menjadikan dunia digital sebagai ruang yang aman, sehat, dan tetap menyenangkan.

Penulis: Siti Nur Arisha

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading