1 dari 10 Anak Mendengkur Saat Tidur, Pahami Penyebab dan Cara Mengatasinya

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 13 Februari 2026, 11:31 WIB

ringkasan

  • Mendengkur pada anak, meskipun umum, dapat menjadi indikasi Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang serius jika terjadi secara sering atau disertai gejala lain seperti jeda napas.
  • Penyebab mendengkur pada anak bervariasi mulai dari amandel dan adenoid yang membesar, obesitas, alergi, hingga kondisi medis tertentu dan paparan asap rokok.
  • Diagnosis mendengkur dan OSA memerlukan konsultasi medis serta studi tidur, dengan penanganan yang meliputi perubahan gaya hidup, obat-obatan, hingga tindakan bedah seperti adenotonsilektomi.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, mendengkur pada anak adalah kondisi yang cukup umum, terjadi ketika aliran udara melalui hidung dan mulut terhalang saat tidur. Kondisi ini menyebabkan jaringan di saluran napas atas bergetar, menghasilkan suara khas mendengkur. Meskipun mendengkur sesekali, terutama saat pilek, mungkin tidak berbahaya, mendengkur yang sering atau keras justru bisa menjadi indikasi masalah kesehatan yang lebih serius.

Sekitar 10% anak-anak mendengkur secara teratur, namun mendengkur yang sering dapat mengindikasikan gangguan pernapasan saat tidur. Orang tua perlu memahami kapan mendengkur ini memerlukan perhatian khusus, karena bisa berkaitan dengan kondisi seperti Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif. Jika tidak ditangani, OSA dapat memengaruhi pertumbuhan, konsentrasi, dan perkembangan belajar anak.

Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk mengenali penyebab mendengkur pada anak dan langkah-langkah penanganan yang tepat. Dengan pemahaman yang komprehensif, kita dapat memastikan si Kecil mendapatkan tidur yang berkualitas dan terhindar dari dampak negatif jangka panjang. Mari kita selami lebih dalam mengenai kondisi ini bersama-sama, Sahabat Fimela.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Mengapa Si Kecil Mendengkur? Berbagai Penyebab Mendengkur pada Anak yang Perlu Diketahui

Pastikan kamar tidur tenang, lampu redup, suhu sejuk, dan bebas dari gangguan seperti TV atau gawai. Lingkungan yang kondusif membantu anak cepat rileks. (Foto: David Vilches/Unsplash)

Mendengkur pada anak terjadi ketika otot-otot di saluran napas atas menjadi rileks saat tidur, menyebabkan penyempitan jalur udara dan getaran pada uvula serta langit-langit lunak. Ada beberapa faktor utama yang dapat memicu kondisi ini. Salah satu penyebab paling umum adalah pembesaran amandel dan adenoid, yaitu jaringan limfoid di belakang tenggorokan dan hidung yang dapat menghalangi saluran napas. Pembesaran ini sering terjadi secara alami atau akibat infeksi berulang dan alergi, terutama pada anak usia dua hingga tujuh tahun.

Selain itu, obesitas atau kelebihan berat badan juga merupakan faktor risiko penting, terutama pada remaja. Kelebihan jaringan lemak di leher dan sekitar tenggorokan dapat mempersempit saluran napas, memperburuk mendengkur, terutama saat anak tidur telentang. Kondisi seperti alergi dan asma juga berkontribusi pada mendengkur. Peradangan dan hidung tersumbat akibat alergi dapat mengganggu pernapasan, sementara asma menyebabkan penyempitan saluran udara dan peningkatan lendir.

Hidung tersumbat akibat flu, pilek, infeksi, atau sinusitis juga memaksa anak bernapas melalui mulut, yang memicu mendengkur. Beberapa anak juga memiliki karakteristik anatomi tertentu seperti rahang kecil, septum deviasi (tulang rawan hidung bengkok), atau uvula panjang yang membuat mereka lebih sulit bernapas normal saat tidur. Paparan asap rokok juga meningkatkan risiko anak mengalami gangguan pernapasan dan mendengkur.

Kondisi medis tertentu, seperti Sindrom Down, Sindrom Prader-Willi, cerebral palsy, atau cacat lahir pada tengkorak/wajah, juga meningkatkan risiko mendengkur dan OSA karena tonus otot yang buruk atau kelainan struktur. Bahkan, posisi tidur telentang dapat memperburuk mendengkur karena uvula dapat bergerak ke belakang tenggorokan dan sebagian menghalangi saluran napas.

3 dari 4 halaman

Mengenal Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada Anak dan Dampaknya

Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada anak adalah kondisi serius di mana pernapasan anak terhalang sebagian atau seluruhnya selama tidur, menyebabkan jeda pernapasan berulang. Jeda ini dapat berlangsung beberapa detik dan menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah, mengganggu kualitas tidur anak. Diperkirakan 1-3% anak yang mendengkur memiliki OSA.

Gejala OSA pada anak tidak hanya terbatas pada mendengkur keras. Orang tua perlu mewaspadai tanda-tanda lain seperti bernapas melalui mulut saat tidur, terkesiap atau tersedak, jeda dalam pernapasan, tidur gelisah, atau berkeringat banyak di malam hari. Posisi tidur yang tidak biasa, mengompol (enuresis nokturnal), dan sakit kepala di pagi hari juga bisa menjadi indikator.

Dampak OSA yang tidak diobati bisa sangat serius. Anak-anak mungkin menunjukkan masalah perilaku seperti hiperaktivitas, iritabilitas, kesulitan fokus, atau masalah belajar yang sering disalahartikan sebagai ADHD. Selain itu, OSA dapat memengaruhi pertumbuhan yang buruk atau penambahan berat badan di bawah rata-rata. Jangka panjang, OSA dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, peradangan, dan perubahan pada jantung, serta memengaruhi perkembangan kognitif dan kualitas hidup anak.

4 dari 4 halaman

Langkah Tepat: Diagnosis dan Penanganan Mendengkur pada Anak untuk Tidur Berkualitas

Jika Sahabat Fimela khawatir tentang mendengkur si Kecil, konsultasi dengan dokter anak sangat dianjurkan. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh pada hidung, mulut, tenggorokan, langit-langit, dan leher, serta menanyakan riwayat medis dan gejala yang diamati. Metode utama untuk mendiagnosis OSA adalah studi tidur atau polisomnografi, di mana anak akan tidur semalam di laboratorium tidur untuk merekam pernapasan, kadar oksigen, detak jantung, dan aktivitas listrik otak.

Penanganan mendengkur sangat bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Perubahan gaya hidup dan perawatan rumahan dapat membantu. Mengubah posisi tidur anak ke menyamping dapat mencegah uvula menghalangi saluran napas. Menjaga berat badan sehat, menggunakan pelembap udara untuk melembapkan saluran sinus, dan membersihkan saluran hidung dengan larutan saline juga efektif mengurangi hidung tersumbat. Menghindari alergen dan menggunakan pembersih udara di kamar tidur juga dapat membantu mengurangi gejala alergi.

Untuk penanganan medis, obat-obatan seperti semprotan hidung steroid atau Montelukast dapat mengurangi peradangan. Mengelola alergi atau asma dengan obat yang tepat juga penting. Operasi adenotonsilektomi, yaitu pengangkatan amandel dan/atau adenoid, adalah pilihan pengobatan lini pertama untuk sebagian besar anak dengan OSA, terutama jika pembesaran amandel dan adenoid adalah penyebab utamanya. Prosedur ini memiliki tingkat keberhasilan 80-90% dalam menyembuhkan OSA pada anak-anak.

Jika operasi tidak memungkinkan atau OSA tetap ada, terapi tekanan saluran napas positif (CPAP/BiPAP) dapat digunakan untuk menjaga saluran napas tetap terbuka saat tidur. Terapi myofungsional yang melibatkan latihan untuk memperkuat otot-otot orofasial, serta prosedur ortodontik seperti ekspansi rahang cepat, juga dapat menjadi pilihan untuk memperluas saluran napas. Penting untuk bekerja sama dengan dokter untuk menemukan rencana perawatan terbaik bagi si Kecil.