5 Sikap agar Hati Lebih Tenang Selama Bulan Ramadan

Endah WijayantiDiterbitkan 27 Februari 2026, 16:23 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ramadan selalu datang membawa harapan baru. Bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang bagaimana hati belajar lebih jernih, lebih lembut, dan lebih terarah. Namun kenyataannya, tidak semua orang otomatis merasa tenang di bulan ini. Rutinitas tetap berjalan, pekerjaan tetap menumpuk, urusan keluarga tetap membutuhkan perhatian. Tanpa sikap yang tepat, Ramadan bisa terasa melelahkan secara emosional.

Sahabat Fimela, ketenangan hati bukan hadiah yang turun begitu saja. Ia lahir dari pilihan sikap yang dilatih setiap hari. Berikut lima sikap sederhana yang bisa membuat Ramadan terasa lebih damai dan bermakna.

2 dari 6 halaman

1. Memperlambat Diri, Tidak Terburu-buru

1. Memperlambat Diri, Tidak Terburu-buru./Copyright depositphotos.com/fadfebrian

Salah satu sumber kegelisahan adalah kebiasaan hidup yang terlalu cepat. Ingin semuanya selesai, ingin ibadah sempurna, ingin produktif tanpa jeda. Padahal Ramadan justru mengajarkan ritme yang lebih tenang.

Memperlambat diri bukan berarti menjadi malas. Ini tentang memberi ruang agar setiap aktivitas dilakukan dengan sadar. Saat sahur, benar-benar hadir menikmati momen. Saat bekerja, fokus pada satu tugas tanpa terus-menerus memikirkan hal lain. Saat berbuka, tidak perlu berlebihan.

Banyak orang merasa gelisah karena pikirannya terus melompat ke depan. Padahal ketenangan lahir ketika perhatian kembali ke saat ini. Ramadan adalah kesempatan melatih kesadaran itu.

Cobalah mengurangi kebiasaan multitasking yang tidak perlu. Kurangi scrolling tanpa arah. Beri waktu jeda setelah salat untuk duduk tenang beberapa menit. Ritme yang lebih pelan sering kali membuat hati jauh lebih stabil.

3 dari 6 halaman

2. Menjaga Lisan dan Reaksi Emosi

2. Menjaga Lisan dan Reaksi Emosi./Copyright depositphotos.com/odua

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan reaksi yang berlebihan. Emosi bisa lebih sensitif ketika tubuh sedang lelah atau kurang energi. Di sinilah latihan sebenarnya dimulai.

Menjaga lisan berarti memilih kata dengan lebih hati-hati. Tidak semua hal perlu dikomentari. Tidak semua perbedaan perlu diperdebatkan. Kadang, diam adalah bentuk kedewasaan.

Menahan diri dari membalas komentar yang menyakitkan, menghindari gosip, atau tidak mudah tersulut amarah adalah cara efektif menjaga ketenangan batin. Setiap kali berhasil mengendalikan reaksi, hati menjadi lebih ringan.

Sahabat Fimela, emosi yang tidak terkelola sering meninggalkan penyesalan. Ramadan memberi peluang untuk membangun jeda antara perasaan dan respons. Tarik napas sebelum berbicara. Tunda reaksi beberapa detik. Kebiasaan kecil ini berdampak besar pada ketenangan hati.

4 dari 6 halaman

3. Mengelola Ekspektasi, Tidak Menuntut Berlebihan

3. Mengelola Ekspektasi, Tidak Menuntut Berlebihan./Copyright depositphotos.com/airdone

Banyak orang memasuki Ramadan dengan target yang sangat tinggi. Ingin khatam berkali-kali, ingin bangun malam tanpa bolong, ingin selalu khusyuk. Niatnya baik, tetapi jika tidak realistis, justru bisa menimbulkan rasa bersalah berlebihan.

Mengelola ekspektasi bukan berarti menurunkan kualitas ibadah. Ini tentang memahami kapasitas diri. Setiap orang punya kondisi fisik, tanggung jawab, dan ritme hidup yang berbeda.

Daripada fokus pada jumlah, lebih baik fokus pada konsistensi. Lebih baik membaca Al-Qur’an sedikit tapi rutin, daripada memaksakan banyak lalu berhenti di tengah jalan. Lebih baik salat malam singkat tapi penuh kesadaran, daripada panjang namun tergesa.

Ketika ekspektasi terlalu tinggi, kegagalan kecil terasa besar. Namun saat target disesuaikan dengan kemampuan, proses menjadi lebih ringan. Ketenangan muncul karena tidak ada tekanan berlebihan pada diri sendiri.

Belajar menerima bahwa setiap hari tidak harus sempurna adalah bagian dari kedewasaan spiritual.

5 dari 6 halaman

4. Memperbanyak Refleksi, Bukan Perbandingan

4. Memperbanyak Refleksi, Bukan Perbandingan./Copyright Fimela/Adrian Putra

Di era media sosial, Ramadan sering kali dipenuhi perbandingan. Melihat orang lain terlihat lebih rajin, lebih dermawan, lebih produktif. Tanpa sadar, hati menjadi tidak tenang karena merasa kurang.

Padahal perjalanan spiritual adalah urusan personal. Tidak ada kompetisi dalam kebaikan. Yang dinilai bukan seberapa terlihat, tetapi seberapa tulus.

Mengganti kebiasaan membandingkan dengan kebiasaan merefleksikan diri adalah langkah penting. Luangkan waktu setiap hari untuk bertanya: Apa yang sudah diperbaiki hari ini? Apa yang bisa ditingkatkan besok?

Refleksi membuat fokus kembali ke dalam. Perbandingan membuat fokus keluar dan sering menimbulkan rasa tidak cukup. Ramadan adalah waktu terbaik untuk berdamai dengan proses masing-masing.

Sahabat Fimela, hati akan lebih tenang ketika tidak sibuk melihat langkah orang lain. Fokuslah pada pertumbuhan pribadi, sekecil apa pun itu.

6 dari 6 halaman

5. Memperluas Kebaikan dengan Tulus

5. Memperluas Kebaikan dengan Tulus./Copyright Fimela/Adrian Putra

Salah satu cara tercepat menenangkan hati adalah berbuat baik tanpa pamrih. Bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga perhatian, doa, dan sikap yang hangat.

Memberi makan untuk berbuka, membantu pekerjaan rumah tanpa diminta, mengirim pesan dukungan kepada teman, atau sekadar tersenyum tulus — semua itu punya efek besar pada batin.

Ketika berbuat baik dengan niat yang lurus, hati terasa lebih lapang. Tidak ada beban pencitraan. Tidak ada tuntutan balasan. Ada rasa cukup yang muncul dari dalam.

Ramadan mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang menerima, tetapi tentang memberi. Dan memberi tidak selalu harus besar. Yang kecil namun konsisten sering kali lebih bermakna.

Kebaikan juga termasuk memaafkan. Melepaskan luka lama, berhenti mengungkit kesalahan, atau minimal mengurangi dendam di hati. Proses ini memang tidak instan, tetapi setiap langkah menuju keikhlasan akan mengurangi beban batin.

Menjadikan Ramadan sebagai Latihan Jiwa

Ketenangan hati selama Ramadan bukan hasil dari situasi yang sempurna. Dunia tetap penuh tantangan. Tugas tetap menanti. Masalah tidak otomatis hilang. Namun sikaplah yang menentukan bagaimana semua itu dirasakan.

Memperlambat diri, menjaga lisan, mengelola ekspektasi, memperbanyak refleksi, dan memperluas kebaikan adalah latihan sederhana namun konsisten. Tidak perlu dramatis. Tidak perlu terlihat luar biasa. Yang penting, dilakukan dengan kesadaran.

Sahabat Fimela, Ramadan bukan tentang menjadi manusia yang tiba-tiba sempurna dalam 30 hari. Ramadan adalah tentang menjadi sedikit lebih baik dari kemarin, dengan hati yang lebih bersih dan pikiran yang lebih jernih.

Jika di tengah perjalanan masih ada hari yang terasa berat, itu wajar. Jangan langsung menghakimi diri. Kembali saja pada niat awal. Perbaiki perlahan. Tenangkan langkah.

Semoga Ramadan kali ini tidak hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi ruang untuk membangun ketenangan yang bisa dibawa bahkan setelah bulan suci usai. Karena hati yang terlatih tenang akan lebih siap menghadapi apa pun di bulan-bulan berikutnya.