Agar Anak Tak Kewalahan, Ini Cara Mengatur Waktu Bermain dan Belajar Sejak Dini

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 19 Agustus 2026, 13:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah merasa waktu sepulang sekolah terasa begitu singkat untuk anak? Padahal ada PR yang menunggu, kegiatan tambahan, belum lagi keinginan untuk bermain dan bersantai. Tak jarang, anak menjadi kewalahan karena belum mampu mengatur prioritasnya sendiri.

Padahal, kemampuan manajemen waktu tidak muncul begitu saja. Anak umumnya belum memiliki keterampilan kognitif untuk mengatur jadwal secara mandiri hingga usia sekolah menengah. Namun, bukan berarti orang tua harus menunggu. Justru sejak dini, kita bisa mulai menerapkan strategi mengajarkan anak mengatur waktu bermain dan belajar agar kebiasaan baik ini tertanam hingga dewasa.

Dilansir dari scholastic.com, berikut ini panduan yang bisa Sahabat Fimela terapkan sesuai tahapan usia anak.

Usia 3-4 Tahun: Mengenal Konsep Waktu Secara Sederhana

Di usia prasekolah, anak belum memahami jam atau kalender. Bagi mereka, waktu terbagi menjadi “sekarang” dan “nanti”. Meski terdengar sederhana, ini sudah menjadi fondasi penting untuk mengenalkan konsep urutan dan rutinitas.

Orangtua bisa mulai dengan membicarakan perubahan musim atau kebiasaan harian. Misalnya, menjelaskan bahwa setelah mandi pagi, waktunya sarapan, lalu bersiap ke sekolah. Rutinitas yang konsisten membantu anak memahami bahwa setiap kegiatan memiliki urutan.

Membuat jadwal bergambar juga sangat efektif. Gunakan ilustrasi sederhana seperti gambar sikat gigi untuk waktu mandi, buku untuk membaca, atau bola untuk bermain. Dengan melihat visual yang sama setiap hari, anak merasa lebih aman dan terarah.

Di tahap ini, latihan menunggu juga penting. Misalnya, jika anak ingin pergi ke kebun binatang, ajak ia menghitung hari menuju akhir pekan. Cara ini melatih kemampuan menunda keinginan sekaligus memahami bahwa ada waktu khusus untuk bermain.

 

 

2 dari 3 halaman

Usia TK hingga Kelas 2 SD: Belajar Disiplin dan Tanggung Jawab

Memasuki usia sekolah dasar awal, anak mulai mengenal jam dan kalender. [Dok/freepik.com]

Memasuki usia sekolah dasar awal, anak mulai mengenal jam dan kalender. Ini adalah momen tepat untuk memperkuat strategi mengajarkan anak mengatur waktu bermain dan belajar dengan pendekatan yang lebih konkret.

Langkah pertama adalah membantu anak belajar rapi dan terorganisir. Anak sulit mengatur waktu jika ia tidak tahu di mana letak buku atau alat tulisnya. Biasakan anak menyiapkan tas sekolah di malam hari dan membuat checklist sederhana seperti “PR sudah masuk tas?” atau “Buku sudah lengkap?”.

Penggunaan timer visual juga bisa membantu. Saat mengerjakan PR, atur waktu misalnya 20 menit, lalu beri jeda istirahat singkat. Anak akan belajar memahami batas waktu tanpa merasa ditekan.

Selain itu, penting untuk mengenalkan konsekuensi. Jika tugas tidak selesai tepat waktu, biarkan anak belajar dari pengalaman tersebut. Dengan begitu, ia memahami bahwa pengelolaan waktu berdampak langsung pada hasil yang ia peroleh.

 

 

3 dari 3 halaman

Usia 3-5 SD: Belajar Prioritas dan Perencanaan

Ajarkan anak memperkirakan durasi suatu tugas. Misalnya, tanyakan berapa lama ia membutuhkan waktu untuk menyelesaikan matematika atau membaca satu bab buku. [Dok/freepik.com/stockking]

Semakin besar, tanggung jawab anak juga bertambah. PR lebih banyak, kegiatan ekstrakurikuler meningkat, dan waktu bermain semakin terbagi. Di sinilah kemampuan menetapkan prioritas mulai dibutuhkan.

Ajarkan anak memperkirakan durasi suatu tugas. Misalnya, tanyakan berapa lama ia membutuhkan waktu untuk menyelesaikan matematika atau membaca satu bab buku. Setelah itu, evaluasi bersama apakah perkiraannya sesuai dengan kenyataan. Latihan refleksi seperti ini membantu anak lebih realistis dalam membuat jadwal.

Untuk tugas jangka panjang seperti proyek sekolah, bantu anak memecahnya menjadi langkah-langkah kecil. Alih-alih menunggu mendekati tenggat waktu, ajak anak merencanakan dari jauh hari. Metode ini membuat tugas terasa lebih ringan dan terstruktur.

Orang tua juga bisa mengenalkan konsep prioritas dengan cara sederhana. Gambarkan satu hari sebagai wadah yang harus diisi dengan “kewajiban” terlebih dahulu, seperti sekolah dan PR. Setelah itu barulah aktivitas tambahan dan waktu santai. Anak belajar bahwa bermain tetap penting, tetapi ada tanggung jawab yang perlu diselesaikan lebih dulu.