5 Tips Membimbing Anak Tumbuh Empatik dan Menghargai Orang Lain

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 11 April 2026, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah kamu merasa frustasi karena anak seolah mengabaikan perkataanmu? Atau saat mereka terlihat tidak menghormati batasan yang kamu buat? Kamu tidak sendiri. Banyak orangtua mengalami hal serupa dan sering bertanya-tanya, bagaimana caranya mengajarkan anak menghargai orang lain tanpa setiap percakapan berubah menjadi pertarungan kekuasaan?

Di dunia yang serba cepat seperti sekarang, anak-anak tumbuh dikelilingi banyak pengaruh mulai dari keluarga, teman sebaya, hingga media digital yang menantang otoritas pribadi dan kepemilikan orang lain. Rasa ingin tahu dan kemandirian memang penting, tapi kemampuan menyeimbangkannya dengan kebaikan, empati, dan disiplin jauh lebih krusial.

Sebelum mengajarkan anak, penting untuk memahami dulu apa itu respek. Menghargai bukan hanya soal patuh, tapi tentang memperlakukan orang lain dengan kebaikan, walau kita tidak selalu sependapat. Ini termasuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menggunakan kata sopan, dan menjaga barang milik orang lain.

Tanda anak belum memahami respek bisa terlihat dari seringnya memotong pembicaraan, mengabaikan instruksi, atau merusak barang. Tapi jangan khawatir, ini bukan berarti mereka “tidak bisa diajarkan”. Seringkali, anak hanya belum mendapatkan contoh dan bimbingan yang konsisten.

Dilansir dari beberapa sumber termasuk aliciaortego.com, berikut ini adalah tips mengajarkan anak dalam menghargai pendapat orang lain! 

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tips Mengajarkan Anak Menghargai Pendapat Orang Lain

Sahabat Fimela, yuk simak tips mengajarkan anak menghargai pendapat orang lain. [Dok/freepik.com]

1. Jadilah Teladan

Anak belajar dengan meniru. Setiap kata dan tindakan orangtua menjadi pelajaran. Saat sedang berselisih, gunakan bahasa yang sopan dan tegas sekaligus. Biarkan mereka melihat bahwa berbicara dengan ramah tidak berarti lemah, dan bersikap tegas tidak harus kasar. Anak akan meniru cara kita mengekspresikan respek dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tetapkan Batas dan Konsekuensi yang Jelas

Disiplin bukan hukuman, melainkan pembelajaran. Anak perlu tahu apa yang diharapkan dari mereka, serta batasan yang jelas. Dengan aturan yang konsisten, anak merasa aman dan belajar bahwa menghargai orang lain bukan sekadar kewajiban, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari.

3. Ajarkan Menghargai Barang Milik Orang Lain

Ajarkanlah anak untuk mengembalikan mainan teman, merapikan barang pinjaman, atau menjaga milik orang lain melatih tanggung jawab. Biasakan kalimat sederhana seperti, “Kita menjaga barang yang bukan milik kita”. Anak belajar bahwa menghargai orang lain termasuk menghormati hak dan kepemilikan mereka.

 

 

3 dari 3 halaman

4. Gunakan Buku untuk Memulai Percakapan

Anak-anak dapat belajar secara visual dan emosional lebih mudas dengan memahami bahwa menghargai pendapat oran lain. [Dok/freepik.com/jcomp]

Buku adalah jendela dunia bagi anak. Cerita yang relate dengan pengalaman mereka membantu menanamkan nilai kebaikan, kesabaran, dan menghargai orang lain. Anak-anak yang belajar secara visual dan emosional lebih mudah memahami bahwa menghargai pendapat orang lain bukan sekadar aturan, tapi bagian dari bersikap baik.

5. Dorong Anak untuk Merefleksi, Bukan Hanya Patuh

Ajukan pertanyaan terbuka yang membuat anak berpikir seperti “Bagaimana perasaanmu jika seseorang berbicara seperti itu padamu?” atau “Apa yang bisa kamu lakukan berbeda lain kali?”

Cara ini membuat anak belajar menghargai perspektif orang lain, bukan sekadar menuruti perintah. Anak belajar menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami bahwa setiap orang punya hak untuk didengar.

Sahabat Fimela, menghargai bukan sekadar aturan yang harus ditaati. Ini adalah cara hidup yang menyiapkan anak untuk menghadapi dunia dengan percaya diri, peduli terhadap orang lain, dan mampu berinteraksi dengan bijak. Anak yang belajar menghargai sejak dini, akan membawa nilai ini sepanjang hidupnya, menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan penuh empati.