Jelang THR Cair, Waspada Penipuan Digital yang Mengincar

Kayla BridgitteDiterbitkan 13 Maret 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menjelang Hari Raya, banyak orang menantikan momen pencairan Tunjngan Hari Raya (THR). Selain menjadi waktu yang identik dengan kebahagiaan dan persiapan Lebaran, periode ini juga sering diwarnai dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital, mulai dari belanja online hingga pengiriman uang kepada keluarga.

Namun di balik meningkatnya aktivitas tersebut, ada risiko lain yang perlu diwaspadai: penipuan digital atau scam. Para pelaku kerap memanfaatkan momentum ketika masyarakat sedang aktif bertransaksi dan cenderung lebih cepat mengambil keputusan.

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam berbagai momentum besar seperti Lebaran, Natal, hingga libur panjang, jumlah laporan penipuan digital kerap meningkat. Polanya pun beragam, mulai dari pesan mencurigakan yang berisi tautan palsu, dokumen digital yang tampak resmi, hingga permintaan transfer dana yang mengatasnamakan pihak tertentu.

Kondisi ini semakin diperparah oleh kebiasaan sebagian pengguna yang langsung mengeklik tautan tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Padahal, satu klik pada link yang salah bisa membuka akses bagi pelaku untuk mencuri data pribadi, mengambil alih akun, hingga melakukan transaksi ilegal.

Di tengah situasi pencairan THR ini, penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika menerima pesan, terutama yang bersifat mendesak atau memancing rasa panik. Misalnya pesan yang mengaku berasal dari bank, layanan pengiriman, atau bahkan orang terdekat yang meminta transfer uang secara tiba-tiba.

Meningkatkan kesadaran digital menjadi langkah awal yang penting untuk melindungi diri dari risiko tersebut. Dengan memahami modus yang sering digunakan pelaku dan membiasakan diri untuk melakukan verifikasi sebelum bertindak, masyarakat dapat mengurangi kemungkinan menjadi korban penipuan.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Modus Scam yang Sering Muncul Saat Hari Raya

Scammers sering memanfaatkan momentum besar seperti pencairan THR, ketika aktivitas transaksi masyarakat meningkat tajam. [Dok/VIDA].

Banyak orang mulai berbelanja kebutuhan Lebaran, memesan tiket perjalanan, hingga mengirim uang kepada keluarga. Situasi ini menciptakan momen yang ramai di ruang digital, yang sayangnya juga dimanfaatkan oleh pelaku penipuan untuk melancarkan aksinya.

Perusahaan penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan, VIDA, menyoroti bahwa periode pencairan dana secara massal seperti THR sering menjadi waktu yang rawan terhadap berbagai modus scam. Ketika transaksi meningkat, pelaku lebih mudah menyisipkan pesan atau tautan penipuan yang tampak meyakinkan.

Dalam peluncuran kampanye edukasi digital bertajuk “Jangan Asal Klik”, VIDA juga merilis whitepaper mengenai tren penipuan digital di kawasan Asia Tenggara. Temuan tersebut menunjukkan bahwa scam sering mengikuti momentum tertentu, termasuk periode pencairan gaji bulanan maupun THR.

Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital RI menyoroti bahwa tren penipuan digital saat ini sangat dipengaruhi oleh momentum. Dalam beberapa periode tertentu seperti menjelang Lebaran, jumlah laporan penipuan dapat meningkat secara signifikan.

Pelaku biasanya memanfaatkan pesan yang terlihat mendesak atau penting, seperti notifikasi transaksi, informasi paket pengiriman, hingga tautan promo yang mengatasnamakan layanan tertentu. Karena tampilannya dibuat menyerupai layanan resmi, tidak sedikit pengguna yang akhirnya langsung mengeklik tautan tersebut tanpa melakukan verifikasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran digital masyarakat masih menjadi faktor penting dalam mencegah penipuan online. Dengan lebih teliti ketika menerima pesan atau tautan yang tidak dikenal, risiko menjadi korban scam dapat ditekan.

3 dari 4 halaman

Kampanye “Jangan Asal Klik” Dorong Kesadaran Anti-Scam

Kampanye edukasi digital mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati sebelum mengeklik tautan atau dokumen yang mencurigakan. [Dok/VIDA].

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penipuan digital, VIDA meluncurkan kampanye edukasi bertajuk “Jangan Asal Klik”. Kampanye ini bertujuan mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika menerima pesan, tautan, maupun dokumen yang mencurigakan di ruang digital.

Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang, menjelaskan bahwa penipuan digital kini semakin berkembang dan tidak lagi dilakukan secara individual. Dalam banyak kasus, scam dilakukan secara terorganisir dan memanfaatkan berbagai teknik manipulasi agar terlihat meyakinkan bagi korban.

Karena itu, kesadaran pengguna menjadi lapisan perlindungan pertama yang sangat penting. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum mengeklik tautan yang diterima melalui pesan atau media sosial.

Selain kampanye edukasi, VIDA juga menyoroti bahwa pola penipuan digital sering kali mengikuti momentum tertentu, seperti periode pencairan gaji atau THR. Ketika masyarakat sedang aktif bertransaksi, pelaku memanfaatkan situasi tersebut untuk menyebarkan berbagai modus penipuan yang terlihat seolah-olah bagian dari aktivitas transaksi normal.

Melalui kampanye ini, masyarakat diajak untuk menerapkan kebiasaan sederhana seperti berhenti, memahami informasi, memverifikasi sumber pesan, lalu baru mengambil tindakan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pengguna lebih waspada terhadap berbagai bentuk scam yang beredar di ruang digital.

Edukasi semacam ini juga penting terutama bagi generasi muda yang sangat aktif menggunakan media sosial dan aplikasi pesan singkat. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai tanda-tanda penipuan digital, masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai risiko yang muncul di era transaksi digital saat ini.

4 dari 4 halaman

Bijak Menghadapi Scammer agar Tidak Terjebak Penipuan Online

Ketika Sahabat Fimela menemukan pesan atau tautan mencurigakan di ruang digital, penting untuk mengetahui langkah yang tepat agar tidak menjadi korban penipuan online. [Dok/Freepik.com/rawpixel.com]

Modusnya bisa muncul melalui pesan singkat, media sosial, email, hingga aplikasi percakapan yang digunakan sehari-hari. Karena itu, penting bagi Sahabat Fimela untuk mengetahui langkah apa yang sebaiknya dilakukan ketika menghadapi situasi tersebut.

Berikut beberapa tindakan yang bisa dilakukan jika menemukan atau dicurigai berhadapan dengan scammer.

1. Jangan langsung merespons pesan mencurigakan

Jika menerima pesan yang terasa janggal, sebaiknya jangan langsung membalas atau mengikuti instruksi yang diberikan. Banyak pelaku penipuan memanfaatkan respons korban untuk melanjutkan manipulasi. Mengabaikan pesan tersebut bisa menjadi langkah awal untuk menghindari interaksi lebih jauh.

2. Periksa kembali identitas pengirim

Cobalah mengecek ulang siapa pengirim pesan tersebut. Perhatikan alamat email, nomor telepon, atau akun media sosial yang digunakan. Jika pesan mengatasnamakan perusahaan atau lembaga tertentu, pastikan untuk memverifikasinya melalui kanal resmi yang tersedia.

3. Jangan klik tautan atau mengunduh file yang dikirimkan

Scammer sering menyisipkan tautan atau file yang tampak meyakinkan. Padahal, tautan tersebut bisa mengarahkan pengguna ke situs palsu atau mengunduh aplikasi berbahaya. Jika menemukan pesan seperti ini, langkah terbaik adalah tidak membukanya sama sekali.

4. Laporkan akun atau nomor yang mencurigakan

Sebagian besar platform digital menyediakan fitur pelaporan untuk akun atau pesan yang terindikasi penipuan. Melaporkan scammer dapat membantu mencegah orang lain menjadi korban dengan cara yang sama.

5. Simpan bukti jika diperlukan

Jika pesan penipuan terasa serius atau berpotensi merugikan, sebaiknya simpan tangkapan layar sebagai bukti. Informasi ini dapat berguna jika ingin melaporkan kasus tersebut kepada pihak berwenang atau lembaga terkait.