Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, setiap orangtua tentu ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab. Namun dalam praktiknya, mendisiplinkan anak tidak selalu mudah. Ketika anak sulit diatur, banyak orangtua yang akhirnya meninggikan suara atau bahkan memberi hukuman fisik karena merasa kelelahan dan tidak menemukan cara lain.
Padahal, membentak atau memukul anak bukanlah cara yang efektif untuk membentuk perilaku disiplin. Cara tersebut justru dapat menimbulkan stres berlebih pada anak dan berdampak negatif dalam jangka panjang, seperti menurunnya kesehatan mental, meningkatnya risiko depresi, hingga kesulitan dalam hubungan sosial.
Oleh karena itu, diperlukan adanya pendekatan kepada anak secara positif dan juga disiplin untuk membangun hubungan yang sehat antara orangtua dan anak, sekaligus menetapkan batasan perilaku dengan cara yang lebih positif dan konsisten. Berikut ini beberapa kebiasaan sederhana di dalam keluarga yang bisa membantu anak belajar disiplin sejak dini!
1. Luangkan Waktu Berkualitas Bersama Anak
Waktu khusus antara orangtua dan anak sangat penting untuk membangun kedekatan emosional. Tidak harus selalu lama, bahkan lima hingga dua puluh menit setiap hari sudah cukup jika dilakukan dengan penuh perhatian.
Misalnya, mengobrol saat membereskan rumah, mencuci piring bersama, atau sekadar bermain dan bernyanyi. Yang terpenting, saat itu orangtua benar-benar fokus pada anak, tanpa distraksi televisi atau ponsel. Kedekatan ini membantu anak merasa dihargai dan lebih mudah menerima arahan dari orangtua.
2. Biasakan Mengapresiasi Hal Positif
Sering kali orangtua lebih cepat menegur kesalahan anak daripada memuji hal baik yang mereka lakukan. Padahal, anak sangat membutuhkan apresiasi. Ketika anak melakukan sesuatu yang baik, meskipun terlihat sederhana, berilah pujian yang tulus. Misalnya saat mereka bermain rukun dengan saudara, membereskan mainan, atau membantu pekerjaan rumah. Pujian ini membuat anak merasa dihargai dan mendorong mereka untuk mengulangi perilaku positif tersebut.
3. Sampaikan Aturan dengan Jelas
Anak akan lebih mudah mengikuti aturan jika mereka memahami dengan jelas apa yang diharapkan dari mereka. Daripada mengatakan “jangan berantakan,” lebih baik beri instruksi yang spesifik seperti, “Tolong kumpulkan semua mainanmu dan masukkan ke dalam kotak.”
Selain itu, penting bagi orangtua untuk menetapkan harapan yang realistis sesuai usia anak. Meminta anak kecil untuk duduk diam sepanjang hari tentu tidak masuk akal. Namun meminta mereka tenang selama beberapa menit saat orangtua menerima telepon adalah hal yang lebih bisa dipahami.
4. Alihkan Perhatian Anak Secara Kreatif
Saat anak mulai rewel atau menunjukkan perilaku yang kurang baik, mengalihkan perhatian mereka bisa menjadi strategi yang efektif. Kamu bisa mengajak anak untuk melakukan aktivitas lain, seperti bermain, berjalan sebentar, atau berpindah ke ruangan lain.
Mengalihkan perhatian sejak tanda-tanda emosi muncul juga bisa mencegah konflik yang lebih besar. Misalnya ketika dua anak mulai berebut mainan, orangtua bisa segera menawarkan permainan lain yang menarik.
5. Terapkan Konsekuensi dengan Tenang
Bagian penting dari proses belajar disiplin adalah memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Orangtua dapat menjelaskan konsekuensi tersebut dengan jelas dan memberikan kesempatan pada anak untuk memperbaiki perilakunya.
Sebagai contoh, jika anak menggambar di dinding, orangtua bisa mengatakan bahwa jika mereka tidak berhenti, waktu bermain akan dihentikan. Jika anak tetap melakukannya, konsekuensi tersebut perlu dijalankan dengan tenang tanpa marah atau membentak. Konsistensi sangat penting dalam hal ini. Konsekuensi yang diberikan juga harus realistis dan dapat dijalankan oleh orangtua.
6. Bangun Hubungan yang Positif dengan Anak
Baik anak kecil maupun remaja sebenarnya sama-sama membutuhkan perhatian dan pengakuan dari orangtua. Remaja mungkin tidak selalu menunjukkannya, tetapi mereka tetap menghargai waktu bersama orangtua, seperti mengobrol tentang hal yang mereka sukai atau melakukan aktivitas bersama. Melibatkan anak dalam membuat aturan keluarga juga dapat membantu mereka merasa dihargai dan lebih bertanggung jawab terhadap perilakunya.
7. Tetap Tenang di Situasi yang Menegangkan
Tidak dapat dipungkiri bahwa menjadi orangtua sering kali penuh tantangan. Saat anak mulai membuat emosi memuncak, cobalah berhenti sejenak dan mengambil napas dalam-dalam sebelum merespons. Memberi jeda singkat dapat membantu orangtua berpikir lebih jernih dan merespons dengan cara yang lebih bijak.
Selain itu, orangtua juga perlu meluangkan waktu untuk merawat diri sendiri. Ketika orangtua merasa lebih tenang dan bahagia, mereka juga akan lebih mampu mendampingi anak dengan penuh kesabaran.