1 dari 7 Remaja Alami Gangguan Mental, Ini Kesehatan Remaja yang Perlu Diperhatikan

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 01 April 2026, 09:23 WIB

ringkasan

  • Kesehatan mental menjadi perhatian utama pada remaja, dengan 1 dari 7 remaja secara global mengalami gangguan mental, serta peningkatan signifikan pada kecemasan dan depresi.
  • Penggunaan zat dan cedera, baik tidak disengaja maupun disengaja, merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang memerlukan perhatian serius pada kelompok usia ini.
  • Aspek kesehatan seksual dan reproduksi, penyakit tidak menular seperti asma dan diabetes, serta masalah fisik lainnya juga krusial untuk memastikan tumbuh kembang remaja yang optimal.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, masa remaja merupakan fase krusial dalam kehidupan seseorang, ditandai dengan perubahan pesat baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Periode ini, yang umumnya mencakup usia 10 hingga 19 tahun, sering dianggap sebagai masa paling sehat secara fisik, namun kenyataannya menyimpan berbagai tantangan kesehatan yang kompleks dan perlu perhatian serius.

Meskipun remaja adalah kelompok usia yang vital bagi masa depan bangsa, mereka dihadapkan pada masalah kesehatan yang beragam, mulai dari isu mental hingga fisik. Berbagai kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan mereka secara signifikan, serta berpotensi membawa dampak jangka panjang hingga dewasa.

Memahami dan mengatasi masalah kesehatan pada kelompok usia ini sangat penting untuk memastikan mereka dapat tumbuh menjadi individu dewasa yang sehat, cerdas, berkualitas, dan produktif. Oleh karena itu, mari kita telusuri lebih dalam mengenai berbagai aspek kesehatan remaja yang perlu diperhatikan.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Gangguan Kesehatan Mental: Ancaman Senyap Remaja

Masalah kesehatan mental menjadi salah satu kekhawatiran utama pada remaja, dengan banyak kondisi yang muncul pada periode ini. Secara global, satu dari tujuh remaja berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental, menyumbang 15% dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku termasuk di antara penyebab utama penyakit dan disabilitas pada remaja.

Prevalensi gangguan kecemasan dan depresi pada remaja menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Diperkirakan 4,1% remaja berusia 10-14 tahun dan 5,3% remaja berusia 15-19 tahun mengalami gangguan kecemasan. Sementara itu, depresi diperkirakan terjadi pada 1,3% remaja berusia 10-14 tahun dan 3,4% remaja berusia 15-19 tahun. Gejala kecemasan dan depresi dapat memengaruhi kehadiran serta kinerja sekolah, dan penarikan diri dari sosial dapat memperburuk isolasi dan kesepian.

Selain kecemasan dan depresi, gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa juga umumnya muncul selama masa remaja. Gangguan ini memengaruhi kesehatan fisik dan seringkali bersamaan dengan depresi, kecemasan, serta gangguan penggunaan zat. Sekitar 12% remaja perempuan memiliki beberapa bentuk gangguan makan, dan 35-57% remaja perempuan mengakui melakukan diet atau purging.

Bunuh diri dan cedera diri juga merupakan isu serius. Bunuh diri adalah penyebab kematian ketiga pada kelompok usia 15-29 tahun, dan secara keseluruhan, 9% remaja mengatakan mereka telah mencoba bunuh diri. Cedera diri merupakan salah satu penyebab utama kematian di kalangan remaja dan dewasa muda.

3 dari 4 halaman

Bahaya Penggunaan Zat dan Risiko Cedera pada Remaja

Penggunaan zat adalah masalah serius di kalangan remaja yang dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan fisik dan mental. Pada tahun 2023, 1,86 juta remaja berusia 12 hingga 17 tahun, atau 7,2% dari remaja di seluruh negeri, melaporkan penggunaan narkoba dalam sebulan terakhir. Dari jumlah tersebut, 83,9% melaporkan penggunaan mariyuana.

Penggunaan narkoba dini berkorelasi dengan masalah penyalahgunaan zat di kemudian hari. Semakin dini seseorang mulai menggunakan narkoba atau alkohol, semakin tinggi risiko ketergantungan dan kecanduan. Penggunaan zat juga meningkatkan risiko perilaku lain, seperti seks tanpa kondom atau mengemudi di bawah pengaruh.

Cedera, baik yang tidak disengaja maupun yang disengaja (kekerasan), merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada remaja. Kecelakaan tidak disengaja adalah penyebab utama kematian sepanjang masa remaja, dengan kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab utama kematian, menyumbang 40% kematian di kalangan usia 15-19 tahun.

Selain kecelakaan, kekerasan interpersonal juga termasuk di antara penyebab utama kematian pada remaja dan dewasa muda secara global. Kekerasan selama masa remaja meningkatkan risiko cedera, HIV, infeksi menular seksual lainnya, masalah kesehatan mental, kinerja sekolah yang buruk, putus sekolah, dan kehamilan dini.

4 dari 4 halaman

Menjaga Kesehatan Seksual, Reproduksi, dan Fisik Lainnya

Remaja menghadapi risiko terkait kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk infeksi menular seksual (IMS) dan kehamilan yang tidak diinginkan. Kaum muda berusia 15-24 tahun menyumbang hampir setengah (48%) dari kasus klamidia, gonore, dan sifilis yang dilaporkan. Orang berusia 13-24 tahun juga menyumbang 20% dari diagnosis HIV baru.

Komplikasi kehamilan dan aborsi yang tidak aman adalah penyebab utama kematian di kalangan remaja perempuan berusia 15-19 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bayi dari ibu remaja menghadapi risiko lebih tinggi untuk berat lahir rendah, kelahiran prematur, dan kondisi neonatal yang parah.

Penyakit tidak menular (PTM) juga menjadi perhatian pada remaja. Asma adalah kondisi kronis paling umum di kalangan anak-anak dan remaja. Diabetes tipe 2 juga menunjukkan peningkatan insiden di kalangan anak-anak dan remaja, dengan proyeksi peningkatan hingga tahun 2060.

Beberapa masalah kesehatan lainnya yang perlu diperhatikan meliputi kesehatan gigi dan mulut, obesitas (22,9% remaja berusia 12-19 tahun mengalami obesitas), jerawat dan masalah kulit, masalah penglihatan (miopia), masalah ortopedi seperti skoliosis, serta anemia defisiensi besi. Semua aspek ini memerlukan perhatian komprehensif untuk mendukung tumbuh kembang remaja yang optimal.