Pemerintah Imbau WFH bagi Pekerja Swasta dan BUMN, Strategi Hemat Energi Sekaligus Dukung Kesehatan Mental Pekerja

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 01 April 2026, 17:14 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli resmi mengimbau penerapan work from home (WFH) bagi pekerja di sektor swasta maupun BUMN. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/III/2026 tentang Work From Home dan Program Optimasi Pemanfaatan Energi di Tempat Kerja. Edaran ini sendiri mulai berlaku sejak 1 April 2026.

"Pelaksanaan WFH dapat dikecualikan untuk sektor tertentu," kata Yassierli dalam konferensi pers di Kantor Kemnaker, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong efisiensi energi nasional, khususnya di sektor perkantoran yang selama ini menjadi salah satu penyumbang konsumsi listrik cukup besar. Dengan mengurangi aktivitas kerja di kantor secara fisik, penggunaan listrik untuk pendingin ruangan, pencahayaan, hingga operasional gedung dapat ditekan secara signifikan.

Dalam imbauannya, Menaker menekankan bahwa penerapan WFH dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing perusahaan. Artinya, tidak semua sektor diwajibkan menerapkan skema penuh, melainkan dapat dilakukan secara fleksibel, termasuk melalui sistem hybrid.

Namun di balik tujuan penghematan energi, kebijakan ini juga membawa dampak positif lain yang tak kalah penting, yakni terhadap kesehatan mental pekerja.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Dukung Kesehatan Mental Pekerja

Ilustrasi WFH. Sumber foto: unsplash.com/Thought Catalog.

Sejumlah studi internasional menunjukkan bahwa sistem kerja jarak jauh memiliki kaitan erat dengan peningkatan kesejahteraan karyawan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Psychology menyebutkan bahwa WFH memberikan fleksibilitas waktu dan otonomi kerja yang lebih besar, sehingga mampu mengurangi konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta menurunkan tingkat stres .

Selain itu, bekerja dari rumah juga menghilangkan waktu perjalanan (commuting) yang sering kali menjadi sumber kelelahan. Dengan waktu yang lebih efisien, pekerja dapat memiliki kesempatan lebih banyak untuk beristirahat, bersama keluarga, maupun melakukan aktivitas personal lainnya. Hal ini secara langsung berkontribusi pada terciptanya work-life balance yang lebih sehat.

Studi lain juga menemukan bahwa WFH dapat meningkatkan kepuasan kerja dan kesejahteraan secara keseluruhan, karena pekerja memiliki kontrol lebih besar terhadap lingkungan kerja mereka . Bahkan, beberapa riset menyebutkan adanya penurunan stres serta peningkatan kualitas hidup, meskipun tetap perlu diimbangi dengan manajemen waktu yang baik agar tidak terjadi overworking.

 

3 dari 3 halaman

Tantangan WFH

Meski demikian, para ahli juga mengingatkan adanya potensi tantangan, seperti rasa isolasi sosial atau batas kerja yang menjadi kabur. Oleh karena itu, perusahaan diharapkan tetap menerapkan kebijakan pendukung, seperti komunikasi tim yang efektif dan pengaturan jam kerja yang jelas.

Dengan demikian, imbauan WFH dari pemerintah tidak hanya relevan sebagai strategi penghematan energi, tetapi juga menjadi momentum bagi perusahaan untuk membangun budaya kerja yang lebih fleksibel, sehat, dan berkelanjutan.

Ke depan, keseimbangan antara produktivitas, efisiensi energi, dan kesejahteraan pekerja menjadi kunci dalam menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berkembang.