Tahukah Kamu? 60% Penderita Diabetes Anak Perempuan, Ini Cara Cegah Diabetes pada Anak Sejak Dini

Nabila MecadinisaDiterbitkan 08 April 2026, 16:25 WIB

ringkasan

  • Peningkatan kasus diabetes pada anak di Indonesia sangat mengkhawatirkan, terutama tipe 2 yang erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat.
  • Mengenali gejala awal seperti sering haus, penurunan berat badan drastis, dan kelelahan adalah krusial untuk deteksi dini diabetes pada anak.
  • Pencegahan diabetes tipe 2 pada anak berfokus pada pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, menjaga berat badan ideal, membatasi gadget, dan pemeriksaan kesehatan rutin dengan peran aktif orang tua sebagai teladan.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, peningkatan kasus diabetes pada anak di Indonesia menjadi perhatian serius yang tidak bisa diabaikan. Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 2023 menunjukkan prevalensi kasus diabetes anak di tanah air meningkat drastis hingga 70 kali lipat dibandingkan tahun 2010. Angka ini sungguh mengkhawatirkan dan menuntut tindakan preventif yang lebih gencar dari semua pihak.

Pada Januari 2023, tercatat ada 1.645 anak pengidap diabetes yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, hingga Makassar dan Manado. Mirisnya, hampir 60% penderita diabetes anak adalah perempuan, dengan kelompok usia 10-14 tahun mendominasi sebesar 46%, dan 31% berusia 14 tahun ke atas. Angka ini menegaskan bahwa masalah diabetes pada anak bukan lagi sekadar ancaman, melainkan realitas yang perlu ditangani serius.

Peningkatan kasus diabetes tipe 2 pada anak sangat mengkhawatirkan karena erat kaitannya dengan perubahan pola hidup yang tidak sehat di era modern ini. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan cara cegah diabetes pada anak sejak dini menjadi sangat krusial. Peran orang tua sebagai teladan dan garda terdepan dalam menjaga kesehatan buah hati sangat dibutuhkan untuk menekan angka prevalensi penyakit ini.

2 dari 4 halaman

Mengenal Dua Jenis Diabetes pada Anak: Tipe 1 dan Tipe 2

Diabetes pada anak umumnya terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Kedua jenis ini memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda, sehingga pendekatan pencegahannya pun tidak sama. Memahami perbedaan ini adalah langkah awal yang penting dalam upaya cara cegah diabetes pada anak.

Diabetes tipe 1 terjadi ketika pankreas anak tidak mampu memproduksi insulin yang diperlukan tubuh. Kondisi ini disebabkan oleh kelainan autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh anak merusak atau menghancurkan sel-sel pankreas penghasil insulin. Akibatnya, anak dengan diabetes tipe 1 hanya menghasilkan sedikit atau bahkan tidak menghasilkan hormon insulin sama sekali. Penyebab pasti diabetes tipe 1 belum diketahui, namun faktor genetik atau keturunan serta riwayat infeksi virus dapat meningkatkan risiko. Sayangnya, diabetes tipe 1 umumnya tidak dapat dicegah karena faktor genetik atau autoimun.

Berbeda dengan tipe 1, diabetes tipe 2 terjadi karena tubuh tidak menggunakan insulin secara efektif atau tidak cukup memproduksi insulin, sebuah kondisi yang disebut resistensi insulin. Jenis ini lebih sering dikaitkan dengan pola makan tidak sehat, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik. Diabetes tipe 2 biasanya rentan terjadi pada anak berusia di atas 10 tahun atau pada usia remaja. Faktor risiko diabetes tipe 2 pada anak meliputi riwayat keluarga dengan diabetes, berat badan berlebih atau obesitas, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, serta kurang aktif bergerak. Oleh karena itu, fokus utama cara cegah diabetes pada anak adalah menargetkan diabetes tipe 2 melalui modifikasi gaya hidup.

3 dari 4 halaman

Waspadai Gejala Diabetes pada Anak yang Sering Terabaikan

Mengenali gejala diabetes pada anak sejak dini sangat penting untuk penanganan yang cepat dan tepat. Gejala diabetes pada anak, baik tipe 1 maupun tipe 2, seringkali mirip dan terkadang sulit dibedakan. Orang tua perlu mewaspadai tanda-tanda yang mungkin muncul pada buah hati mereka.

Salah satu gejala yang paling umum adalah anak sering haus dan buang air kecil secara berlebihan, kondisi yang dikenal sebagai poliuria dan polidipsia. Kadar gula darah berlebih akan dibuang melalui urine, menyebabkan anak sering buang air kecil atau bahkan mengompol, dan kemudian merasa sangat haus. Selain itu, nafsu makan anak mungkin meningkat drastis, namun berat badannya justru turun secara tidak wajar, bahkan bisa mencapai 6 kg dalam 2 bulan.

Gejala lain yang perlu diperhatikan termasuk kelelahan yang berlebihan, di mana anak mudah lelah meskipun tidak banyak melakukan aktivitas berat. Kulit juga bisa menunjukkan tanda-tanda seperti menghitam di bagian lipatan leher dan ketiak (Acanthosis nigricans), yang merupakan indikasi resistensi insulin. Luka pada tubuh anak juga cenderung sulit sembuh, dan penglihatan bisa menjadi kabur akibat gangguan saraf mata.

Pada kasus yang lebih serius, anak mungkin mengalami mual, muntah, dan sakit perut, yang bisa berkembang menjadi ketoasidosis diabetik, kondisi mengancam jiwa jika tidak ditangani segera. Perubahan suasana hati dan perilaku, seperti menjadi lebih rewel atau mudah tersinggung, juga bisa menjadi indikasi. Jika Sahabat Fimela menemukan beberapa gejala ini pada anak, segera konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

4 dari 4 halaman

Kunci Utama Cara Cegah Diabetes pada Anak: Terapkan Gaya Hidup Sehat

Pencegahan diabetes pada anak, khususnya tipe 2, sangat bergantung pada penerapan gaya hidup sehat sejak dini. Orang tua memiliki peran yang sangat penting sebagai teladan dan pembimbing dalam membentuk kebiasaan sehat anak. Berikut adalah beberapa cara cegah diabetes pada anak yang bisa Sahabat Fimela terapkan.

Pertama, fokus pada Pola Makan Sehat dan Seimbang. Utamakan makanan nabati, rendah garam, dan lemak jenuh. Perbanyak konsumsi buah dan sayur setiap hari untuk mengurangi risiko diabetes tipe 2. Berikan anak makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti biji-bijian utuh, nasi merah, pasta gandum, oatmeal, ubi jalar, jagung, dan kacang-kacangan, serta hindari karbohidrat sederhana. Pastikan asupan protein dari daging tanpa lemak, ikan, kacang-kacangan, dan produk susu rendah lemak, serta pilih lemak sehat dari alpukat, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak zaitun. Makanan kaya serat juga membantu menjaga kadar gula darah stabil. Batasi gula, minuman manis, dan makanan cepat saji, serta atur porsi makan dan pastikan anak minum air putih yang cukup.

Kedua, dorong Aktivitas Fisik Teratur. Ajak anak untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari. Aktivitas fisik membantu membakar kalori, menjaga berat badan sehat, meningkatkan sensitivitas insulin, dan mengurangi risiko diabetes. Ajak anak bermain di luar, berolahraga, bersepeda, jalan kaki, jogging, atau melakukan tugas rumah tangga yang melibatkan gerakan fisik. Untuk anak usia 3-5 tahun, ajak bermain aktif seperti melompat atau mengendarai sepeda roda tiga. Sementara itu, anak usia 6-17 tahun disarankan melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat selama 60 menit atau lebih setiap hari, termasuk aktivitas aerobik, penguatan otot, dan penguatan tulang.

Ketiga, Menjaga Berat Badan Ideal adalah kunci penting dalam cara cegah diabetes pada anak. Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama diabetes tipe 2, yang dapat meningkatkan risiko hingga 20-40 kali lipat. Menjaga berat badan anak agar tetap ideal dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur sangat penting. Penurunan berat badan sekitar 6,5% setelah 4 minggu diet rendah kalori bahkan dapat menurunkan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

Keempat, Batasi Waktu Penggunaan Gadget (Waktu Layar). Minimnya gerakan saat menggunakan gadget dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko diabetes. Oleh karena itu, batasi durasi interaksi anak dengan televisi dan perangkat elektronik lainnya, idealnya tidak lebih dari 2 jam sehari. Kelima, lakukan Pemeriksaan Kesehatan Rutin pada anak secara berkala, termasuk cek gula darah. Ini penting untuk mendeteksi kondisi prediabetes atau diabetes sejak dini, terutama jika ada riwayat diabetes dalam keluarga. Skrining dapat dilakukan pada usia 10 tahun atau pada awal pubertas dan diulang setiap dua tahun untuk anak dengan faktor risiko.

Terakhir, Peran Orang Tua sebagai Teladan tidak bisa diremehkan. Orang tua wajib menjadi contoh dalam menerapkan pola hidup sehat, termasuk pola makan dan aktivitas fisik. Memberikan pemahaman yang tepat mengenai diabetes pada anak juga penting agar mereka memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak dini. Dengan menerapkan langkah-langkah ini secara konsisten, Sahabat Fimela telah melakukan upaya terbaik dalam cara cegah diabetes pada anak dan memastikan masa depan mereka lebih sehat.