Ini Cara Mengenal Metabolic Disorder Sejak Dini pada Bayi dan Dewasa yang Membuat Aroma Tubuh Bau Amis

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 10 April 2026, 08:16 WIB

ringkasan

  • Diagnosis gangguan metabolik melibatkan evaluasi klinis, tes biokimia darah dan urine, serta pengujian genetik yang disesuaikan dengan usia dan gejala pasien.
  • Skrining bayi baru lahir merupakan metode krusial untuk deteksi dini gangguan metabolik yang mungkin tidak menunjukkan gejala saat lahir, mencegah komplikasi serius.
  • Pengujian genetik mengkonfirmasi diagnosis, mengidentifikasi mutasi, dan memandu pengobatan, sementara sindrom metabolik didiagnosis jika seseorang memenuhi setidaknya tiga dari lima kriteria spesifik.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, memahami cara mengenal metabolic disorder sangatlah penting untuk kesehatan optimal. Diagnosis gangguan metabolik melibatkan serangkaian evaluasi yang komprehensif. Ini mencakup pemeriksaan klinis, pengujian biokimia, dan juga pengujian genetik yang mendalam.

Pendekatan diagnosis ini dapat bervariasi, tergantung pada usia pasien dan gejala yang muncul. Jenis gangguan metabolik yang dicurigai juga turut memengaruhi pilihan tes yang akan dilakukan. Deteksi dini sangat krusial agar penanganan bisa segera diberikan.

Mulai dari skrining pada bayi baru lahir hingga tes khusus untuk orang dewasa, setiap langkah diagnosis memiliki peran vital. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi gangguan ini secara akurat. Dengan begitu, penanganan yang tepat dapat direncanakan untuk menjaga kualitas hidup.

2 dari 4 halaman

Skrining Bayi Baru Lahir: Deteksi Dini yang Krusial

Skrining bayi baru lahir (Newborn Screening - NBS) adalah langkah awal yang sangat penting untuk mengenal metabolic disorder sejak dini. Proses ini memungkinkan deteksi gangguan metabolik langka sebelum gejala muncul.

Di Amerika Serikat, hampir setiap bayi menjalani tes darah tusuk tumit 36 hingga 48 jam setelah lahir. Tes ini menyaring 34 gangguan inti dan 26 gangguan sekunder yang direkomendasikan.

Proses skrining ini umumnya melibatkan pengambilan beberapa tetes darah dari tumit bayi. Sampel darah tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk dianalisis secara mendalam.

3 dari 4 halaman

Evaluasi Klinis dan Tes Biokimia: Memahami Fungsi Tubuh

Diagnosis gangguan metabolik selalu dimulai dengan evaluasi klinis yang menyeluruh. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan gejala yang dialami pasien. Riwayat medis pribadi dan keluarga juga akan digali secara detail.

Informasi dari riwayat medis, gejala klinis, serta hasil laboratorium dasar seringkali cukup. Data ini dapat membantu mengkategorikan jenis gangguan metabolik. Penanganan awal pun dapat segera diberikan berdasarkan temuan tersebut.

Tes darah dan urine merupakan alat penting untuk memeriksa cara kerja metabolisme tubuh. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi ketidakseimbangan biokimia.

  • Tes Darah:
    • Glukosa Darah Puasa: Mengukur kadar gula darah setelah puasa minimal 8 jam untuk mendeteksi pradiabetes dan diabetes.
    • HbA1c: Menunjukkan kadar gula darah rata-rata selama 2-3 bulan terakhir, ideal untuk pemantauan jangka panjang.
    • Panel Lipid: Meliputi trigliserida dan kolesterol HDL (kolesterol baik).
    • Kadar Insulin: Mengukur kadar insulin puasa untuk mendeteksi resistensi insulin.
    • Tes Fungsi Hati (LFTs): Menilai enzim dan protein seperti ALT, AST, ALP, dan bilirubin untuk kesehatan hati.
    • Tes Fungsi Tiroid: Memeriksa fungsi kelenjar tiroid.
    • Amonia, Laktat, Asam Amino, Asilkarnitin, Asam Lemak Rantai Sangat Panjang: Tes ini dapat mengidentifikasi pola mencurigakan untuk cacat metabolik.
    • Kuantifikasi Karnitin: Penting karena defisiensi karnitin sekunder sering ditemukan pada banyak gangguan metabolik.
  • Tes Urine:
    • Asam Organik: Analisis asam organik urine dapat menunjukkan profil abnormal pada gangguan metabolisme asam amino tertentu.
    • Asam Amino: Profil asam amino urine dapat mendiagnosis gangguan yang memengaruhi transporter asam amino di ginjal.
    • Keton: Penting untuk diagnosis banding banyak gangguan metabolik.
    • Metabolit Purin dan Pirimidin: Kuantifikasi metabolit ini dapat memberikan pola yang menunjukkan defisiensi enzim tertentu.
    • Kreatin dan Rasio Kreatin:Kreatinin: Kuantifikasi ini dapat menunjukkan gangguan sintesis atau transportasi kreatin.
    • Glikosaminoglikan (GAGs): Tes ini mencari jumlah GAGs abnormal dalam urine, mengindikasikan mukopolisakaridosis (MPS).
    • Asam Metilmalonat (MMA): Tes ini memeriksa urine pasien untuk kemungkinan defisiensi B12.
    • Sistinuria: Tes urine untuk sistinuria dapat mendeteksi sistinuria, penyebab batu kandung kemih dan/atau ginjal.
4 dari 4 halaman

Peran Tes Genetik dan Kriteria Sindrom Metabolik

Ilustrasi Mimpi Masuk Rumah Sakit Credit: unsplash.com/Bermix

Pengujian genetik memegang peranan penting dalam mengenal metabolic disorder, terutama yang bersifat bawaan. Tes ini dapat mendeteksi perubahan genetik spesifik. Informasi tersebut sangat membantu dalam mengidentifikasi penyakit metabolik secara akurat.

Meskipun tidak selalu menjadi langkah pertama, pengujian genetik sangat krusial untuk mengkonfirmasi diagnosis. Tes ini juga membantu mengidentifikasi mutasi spesifik dan menentukan pola pewarisan. Hasilnya memandu keputusan pengobatan yang paling tepat untuk pasien.

Selain gangguan metabolik spesifik, ada juga kondisi yang dikenal sebagai sindrom metabolik. Ini adalah sekumpulan faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena penyakit kronis. Sindrom metabolik didiagnosis berdasarkan kriteria tertentu yang ditetapkan oleh ahli kesehatan.

  • Kriteria Diagnosis Sindrom Metabolik:
    • Lingkar pinggang yang meningkat: ≥102 cm pada pria, ≥88 cm pada wanita.
    • Trigliserida tinggi: ≥150 mg/dL atau sedang dalam pengobatan untuk trigliserida tinggi.
    • HDL-C rendah:
    • Tekanan darah tinggi: ≥130 mm Hg sistolik atau ≥85 mm Hg diastolik atau sedang dalam pengobatan hipertensi.
    • Glukosa puasa tinggi: ≥100 mg/dL atau sedang dalam pengobatan untuk glukosa tinggi.

Jika setidaknya tiga dari lima pengukuran ini berada di luar rentang sehat, seseorang memenuhi kriteria untuk sindrom metabolik. Deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius.