Mari Memahami Kaitan Stunting dan Anemia dengan Kurangnya Asupan Gizi Seimbang

hilya KamilaDiterbitkan 23 April 2026, 11:43 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, stunting dan anemia yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi seimbang pada anak, masih menjadi salah satu masalah di Indonesia. Selain itu, stunting dan anemia tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga berpotensi mempengaruhi perkembangan kognitif anak, termasuk kemampuan belajar dan kesiapan akademik. Salah satu perkembangan kognitif anak yang terganggu adalah working memory, yaitu kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi yang berperan penting dalam mendukung konsentrasi, pemahaman, dan kemampuan anak. 

Itulah sebabnya diperlukan optimalisasi fungsi working memory yang menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung performa belajar anak. Untuk menjawab isu tersebut, Indonesia Health Development Center (IHDC), didukung Danone Indonesia meluncurkan publikasi hasil studi berbasis data lokal. Publikasi tersebut membahas hubungan antara stunting, anemia defisiensi besi serta kurangnya asupan gizi seimbang dengan fungsi working memory anak usia sekolah. 

Selaras dengan hal tersebut, hasil studi yang dilakukan IHDC menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak mengalami anemia. Sementara itu, 22,1% anak mengalami kesulitan dalam working memory. Riset ini juga menemukan bahwa kadar hemoglobin yang lebih rendah berdampak pada performa working memory yang lebih rendah. Dengan demikian, anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam belajar.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Dampak Penurunan Kognitif pada Masa Depan Anak

Permasalahn kognitif anak berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan. (Foto/dok: Freepik)

Penurunan kognitif pada anak bisa berdampak pada kehidupan generasi bangsa di masa depan. Itulah sebabnya, Indonesia masih perlu upaya untuk menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak khususnya pada usia sekolah. Hal itu didukung oleh pernyataan  Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), bahwa Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan. 

Hal ini juga dipertegas oleh Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menjelaskan bahwa adanya keterkaitan yang konsisten antara status gizi anak dengan fungsi kognitif, khususnya working memory. Anak yang mengalami anemia bisa mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi. Hal yang sama juga terlihat pada anak dengan stunting yang memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory. 

Berdasarkan hal tersebut, asupan gizi anak, terutama protein dan zat besi, masih belum optimal dan berkaitan erat dengan kondisi anemia. Selain itu, diperlukan untuk melakukan pendekatan yang lebih komprehensif dari berbagai pihak dalam upaya pemenuhan gizi anak usia sekolah. Oleh karena itu, pemenuhan gizi optimal sejak dini menjadi langkah krusial untuk mendukung kemampuan belajar anak. 

3 dari 3 halaman

Pencegahan Stunting dan Anemia dengan Gizi yang Optimal

Pemenuhan gizi yang optimal bisa menjadi salah satu solusi untuk pencegahan stunting dan anemia. (Foto/dok: Freepik)

Pemenuhan gizi yang optimal bisa menjadi salah satu solusi untuk pencegahan stunting dan anemia. “Dalam mendukung tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak, penting untuk memastikan asupan gizi yang optimal dan seimbang setiap hari. Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak. Namun, keduanya tetap perlu didukung oleh asupan zat gizi lain, seperti karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, agar fungsi tubuh dan kognitif anak dapat berjalan optimal,” ujar Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K).

Kecukupan gizi ini juga penting dalam mencegah anemia dan stunting. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan pola makan bergizi seimbang dengan beragam sumber pangan, seperti telur, ikan, daging, susu, serta sumber nabati seperti tahu, tempe, sayur, dan buah. Selain itu, untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi, perlu dikombinasikan dengan asupan yang mengandung vitamin C.

Selain asupan gizi yang optimal, peran keluarga juga penting dalam membiasakan mengonsumsi makanan sehat sejak dini. Peran orangtua untuk memenuhi kebutuhan gizi anak yang seimbang juga dilakukan oleh Putri Titian. Ibu dari dua anak tersebut turut berbagi pengalamannya sebagai orangtua yang memiliki anak di usia sekolah. “Sebagai ibu, tentu ada kekhawatiran saat melihat anak sulit fokus atau mudah lupa saat belajar. Dari riset ini, saya jadi lebih sadar bahwa hal tersebut berkaitan dengan asupan gizi. Ini juga jadi pengingat buat saya dan orang tua lainnya untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak sehingga dapat mencapai potensi terbaiknya,” tutur Putri Titian.