Fimela.com, Jakarta - Keputusan Zohran Mamdani untuk tidak menghadiri Met Gala 2026 memicu perbincangan luas, baik di ranah politik maupun budaya populer. Langkah ini dianggap tidak biasa, bahkan kontroversial, karena ia secara langsung melanggar tradisi panjang yang selama ini dipegang para wali kota New York.
Tradisi yang Terputus
Selama bertahun-tahun, kehadiran wali kota New York di Met Gala hampir menjadi semacam kewajiban simbolik. Para pendahulu Mamdani—seperti Eric Adams, Bill de Blasio, hingga Michael Bloomberg—secara rutin menghadiri acara tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap industri fashion dan budaya kota.
Met Gala sendiri bukan sekadar pesta selebritas, melainkan ajang penting yang memperkuat citra New York sebagai pusat mode dunia. Karena itu, absennya wali kota aktif dianggap sebagai penyimpangan dari norma yang sudah mapan.
Alasan di balik keputusannya
Menurut sejumlah sumber, keputusan Mamdani bukan kebetulan, melainkan mencerminkan sikap politiknya. Sebagai politisi dengan pandangan progresif dan kritik terhadap konsentrasi kekayaan, ia dinilai melihat Met Gala—yang didukung tokoh-tokoh elite seperti Jeff Bezos—sebagai simbol ketimpangan sosial.
Seorang sumber bahkan menyebut ketidakhadirannya “sejalan dengan prinsip yang ia pegang,” menandakan bahwa ini adalah keputusan sadar, bukan sekadar agenda yang bentrok.
Dampak dan Reaksi Publik
Reaksi publik terhadap keputusan ini terbelah. Sebagian pihak menganggap Mamdani konsisten dengan nilai-nilai yang ia kampanyekan, terutama dalam mengkritik elitisme dan kekuatan ekonomi besar. Namun, pihak lain melihatnya sebagai langkah yang kurang strategis, mengingat Met Gala juga merupakan ajang penting untuk diplomasi budaya dan promosi kota.
Kritik juga muncul karena absennya wali kota dapat dianggap mengurangi dukungan pemerintah terhadap industri kreatif—sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi New York.
Dimensi Simbolik: Politik vs Budaya Pop
Kontroversi ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara politik dan budaya populer. Di satu sisi, Met Gala adalah simbol glamor, jaringan elite, dan pengaruh global. Di sisi lain, Mamdani membawa citra sebagai pemimpin yang ingin menjauh dari simbol-simbol kemewahan tersebut.
Keputusan ini pada akhirnya bukan sekadar soal hadir atau tidak hadir di sebuah acara, tetapi tentang bagaimana seorang pemimpin memilih untuk memposisikan dirinya di tengah persimpangan antara kekuasaan, budaya, dan ideologi.
Dengan “melewatkan” Met Gala 2026, Zohran Mamdani tidak hanya memutus tradisi, tetapi juga mengirimkan pesan politik yang kuat. Langkah ini mempertegas identitas kepemimpinannya—berani berbeda, namun juga berisiko memicu kontroversi di panggung publik yang lebih luas.