Mengenal Body Neutrality pada Anak, Cara Mengajarkan Si Kecil Mencintai Fungsi Tubuhnya Sejak Dini

Siti Nur ArishaDiterbitkan 21 Mei 2026, 18:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Anak-anak kini tumbuh di tengah arus informasi yang begitu cepat, termasuk standar kecantikan yang kerap tidak realistis. Tanpa disadari, mereka mulai membandingkan diri dengan apa yang dilihat di layar, bahkan sejak usia sangat muda. Tak sedikit anak yang sudah merasa tidak percaya diri dengan penampilannya, meski seharusnya masa kanak-kanak menjadi fase penuh eksplorasi dan penerimaan diri.

Bagi orangtua, situasi ini tentu membingungkan. Ketika anak mulai berkata bahwa dirinya tidak cukup cantik atau tidak menyukai tubuhnya, respons yang diberikan sering kali serba salah. Memuji berlebihan soal penampilan kadang justru membuat anak semakin fokus pada fisik. Di sisi lain, mengabaikan perasaan mereka juga bukan solusi yang bijak.

Dilansir dari Little Other Health, pendekatan body neutrality bisa menjadi jalan tengah yang lebih sehat. Alih-alih menekankan bahwa anak harus selalu mencintai penampilannya, konsep ini mengajak anak untuk menghargai tubuh dari apa yang bisa dilakukan, bukan sekadar bagaimana terlihat. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan membantu anak membangun hubungan yang lebih stabil dengan tubuhnya. Yuk, kenali penjelasan lengkap di bawah ini, Sahabat Fimela. 

2 dari 3 halaman

Apa Itu Body Neutrality dan Mengapa Penting untuk Anak

body neutrality adalah cara pandang yang mengajak seseorang untuk tidak terlalu berfokus pada penampilan fisik. Anak diajak memahami bahwa tubuh mereka berharga karena fungsinya, seperti berlari, bermain, belajar, hingga memeluk orang-orang yang mereka sayangi. (foto/dok: freepik)

Sahabat Fimela, body neutrality adalah cara pandang yang mengajak seseorang untuk tidak terlalu berfokus pada penampilan fisik. Anak diajak memahami bahwa tubuh mereka berharga karena fungsinya, seperti berlari, bermain, belajar, hingga memeluk orang-orang yang mereka sayangi.

Berbeda dengan body positivity yang mendorong rasa cinta terhadap tubuh, body neutrality justru lebih membumi. Anak tidak dipaksa untuk selalu merasa senang dengan penampilannya, tetapi cukup belajar menghargai tubuhnya apa adanya. Pendekatan ini penting karena membantu anak tidak terjebak dalam standar kecantikan yang sempit.

Selain itu, memiliki citra tubuh yang sehat sejak dini berkaitan erat dengan kondisi mental anak. Anak yang merasa nyaman dengan dirinya cenderung lebih percaya diri, lebih mudah bersosialisasi, dan memiliki ketahanan emosional yang lebih baik.

Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh Anak

Citra tubuh anak tidak terbentuk begitu saja. Lingkungan terdekat, terutama keluarga, memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang anak terhadap dirinya.

Apa yang diucapkan orangtua sehari-hari, termasuk komentar tentang tubuh sendiri atau orang lain, bisa terekam kuat dalam pikiran anak. Selain itu, pengaruh teman sebaya juga semakin besar seiring bertambahnya usia. Candaan atau komentar ringan sekalipun bisa berdampak pada kepercayaan diri anak.

Media sosial dan tontonan juga menjadi faktor penting. Anak sering terpapar gambar yang sudah diedit atau tidak realistis, sehingga tanpa sadar membentuk standar kecantikan yang sulit dicapai. Ditambah lagi dengan norma budaya dan lingkungan sekolah yang kadang memperkuat penilaian terhadap penampilan.

Cara Mengajarkan Body Neutrality pada Anak

Mengajarkan body neutrality tidak harus rumit. Justru, hal-hal sederhana dalam keseharian bisa memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten.

1. Perhatikan cara Sahabat Fimela berbicara tentang tubuh

Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Hindari mengkritik tubuh sendiri di depan anak atau memberi label pada makanan sebagai baik atau buruk. Sebaliknya, tunjukkan bahwa tubuh perlu dirawat, bukan dihakimi.

2. Fokus pada fungsi tubuh, bukan penampilan

Ajak anak menyadari hal-hal yang bisa dilakukan tubuhnya. Misalnya, “Kaki kamu hebat ya, bisa lari cepat” atau “Tangan kamu membantu membuat gambar yang indah.” Kalimat sederhana seperti ini membantu anak melihat nilai tubuh dari sisi yang lebih bermakna.

 

3 dari 3 halaman

3. Bantu anak mengenali dan mengekspresikan emosi

Sering kali, ketidakpuasan terhadap tubuh sebenarnya berakar dari emosi lain, seperti rasa malu atau tidak percaya diri. Bantu anak menamai perasaan mereka dan ajak berdiskusi tanpa menghakimi. (foto/dok: freepik)

Sering kali, ketidakpuasan terhadap tubuh sebenarnya berakar dari emosi lain, seperti rasa malu atau tidak percaya diri. Bantu anak menamai perasaan mereka dan ajak berdiskusi tanpa menghakimi.

4. Jelaskan bahwa tubuh akan terus berubah

Anak perlu memahami bahwa perubahan tubuh adalah hal yang normal. Dengan begitu, mereka tidak kaget atau merasa ada yang salah ketika mengalami perubahan seiring pertumbuhan.

5. Ajarkan literasi media sejak dini

Berikan pemahaman bahwa apa yang dilihat di media sosial tidak selalu nyata. Jelaskan tentang filter, edit foto, dan sudut pengambilan gambar agar anak tidak mudah membandingkan diri.

6. Ciptakan ruang aman untuk bercerita

Pastikan anak merasa didengar ketika mereka mengungkapkan rasa tidak percaya diri. Tahan diri untuk langsung memberi solusi, dan fokuslah pada empati terlebih dahulu.

Contoh Kalimat Body Neutrality yang Bisa Diterapkan

Mengubah cara berbicara bisa menjadi langkah awal yang efektif. Berikut beberapa contoh sederhana:

  • Dari “Perutku tidak rata tapi aku tetap suka” menjadi “Perutku membantu mencerna makanan yang aku makan.”
  • Dari “Rambutku cantik meski keriting” menjadi “Rambutku melindungi kepala dari panas.”
  • Dari “Tanganku terlihat bagus” menjadi “Tanganku bisa memeluk orang yang aku sayangi.”

Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa nilai tubuh tidak terletak pada penampilan semata.

Peran Orangtua dalam Membentuk Kepercayaan Diri Anak

Sahabat Fimela, pada akhirnya orangtua adalah cermin pertama bagi anak. Cara kamu memperlakukan diri sendiri akan menjadi contoh langsung bagi mereka. Dengan membangun hubungan yang sehat dengan tubuh, kamu juga sedang membantu anak melakukan hal yang sama.

Body neutrality bukan tentang mengabaikan penampilan, tetapi menempatkannya pada porsi yang tepat. Dengan pendekatan ini, anak bisa tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih stabil, tidak mudah terpengaruh standar luar, dan lebih menghargai dirinya secara utuh. Selamat dicoba ke buah hati ya, Sahabat Fimela. 

Penulis: Siti Nur Arisha