Tahukah Kamu? Karies Gigi Jadi Penyakit Paling Umum di Dunia

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 27 April 2026, 15:37 WIB

ringkasan

  • Karies gigi dan penyakit periodontal adalah masalah kesehatan mulut paling umum di dunia, memengaruhi miliaran orang dan berpotensi menyebabkan nyeri, kehilangan gigi, serta komplikasi kesehatan serius.
  • Masalah seperti kanker mulut, halitosis, dan erosi gigi memiliki prevalensi tinggi dan dapat disebabkan oleh faktor gaya hidup seperti merokok, konsumsi gula berlebihan, atau kondisi medis tertentu.
  • Gangguan seperti bruxism dan mulut kering, meskipun sering diabaikan, dapat menyebabkan kerusakan gigi, ketidaknyamanan, dan penurunan kualitas hidup

Fimela.com, Jakarta - Kesehatan mulut seringkali dianggap sepele, namun faktanya, masalah gigi dan mulut adalah kondisi yang memengaruhi jutaan bahkan miliaran orang di seluruh dunia. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan, tetapi juga dapat mengubah penampilan dan, dalam kasus terparah, mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan serius. Menjaga kesehatan mulut bukan hanya tentang estetika, melainkan pondasi penting bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Berbagai masalah kesehatan mulut dapat menyerang siapa saja, dari anak-anak hingga dewasa, seringkali dipicu oleh kebersihan mulut yang buruk, pola makan yang tidak tepat, atau faktor genetik. Dampak yang ditimbulkan pun beragam, mulai dari kesulitan makan dan berbicara hingga risiko penyakit kronis lainnya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami apa saja masalah kesehatan mulut yang umum terjadi dan bagaimana cara mencegahnya.

Sahabat Fimela, mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mulut. Dengan informasi yang akurat dan tindakan pencegahan yang tepat, kita bisa melindungi diri dari berbagai gangguan yang dapat mengurangi kualitas hidup. Mari kita selami lebih dalam mengenai masalah kesehatan mulut yang patut diwaspadai.

2 dari 4 halaman

Karies Gigi dan Penyakit Gusi: Ancaman Utama Kesehatan Mulut

Karies gigi, atau yang lebih dikenal dengan gigi berlubang, merupakan penyakit tidak menular paling umum di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi ketika plak menumpuk di permukaan gigi, mengubah gula bebas dari makanan dan minuman menjadi asam yang secara bertahap merusak gigi. Konsumsi gula berlebihan, paparan fluoride yang tidak memadai, dan kebersihan mulut yang buruk menjadi penyebab utama karies.

Diperkirakan 2,5 miliar orang di seluruh dunia menderita karies gigi yang tidak diobati pada gigi permanen, dan sekitar 510 juta anak-anak memiliki karies yang tidak diobati pada gigi sulung mereka. Karies gigi adalah kondisi kesehatan paling umum yang tidak diobati menurut Global Burden of Disease 2021. Karies yang tidak diobati dapat menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan, kesulitan makan dan tidur, kehilangan gigi, dan penurunan kualitas hidup.

Selain karies, penyakit periodontal atau penyakit gusi juga menjadi masalah serius yang memengaruhi jaringan di sekitar gigi. Dimulai sebagai gingivitis, peradangan gusi ringan yang menyebabkan gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah, kondisi ini dapat berkembang menjadi periodontitis jika tidak diobati. Pada tahap periodontitis, gusi dapat menjauh dari gigi, tulang penyangga gigi bisa hilang, dan gigi berisiko goyang atau tanggal.

Penyebab utamanya adalah penumpukan plak bakteri yang mengeras menjadi karang gigi (tartar), yang kemudian menginfeksi jaringan gusi. Penyakit periodontal parah diperkirakan memengaruhi lebih dari 1 miliar kasus di seluruh dunia, atau sekitar 19% dari populasi dewasa. Penyakit gusi ini merupakan penyebab utama kehilangan gigi permanen pada orang dewasa dan terkait dengan peningkatan risiko kondisi kronis seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan demensia.

3 dari 4 halaman

Dari Bau Mulut hingga Kanker: Masalah Mulut yang Tak Boleh Diabaikan

Ilustrasi Menyikat Gigi Credit: unsplash.com/Ferri

Kanker mulut, yang mencakup kanker bibir, bagian lain dari mulut, dan orofaring, adalah salah satu jenis kanker yang patut diwaspadai. Kanker bibir dan rongga mulut secara gabungan menempati peringkat ke-13 sebagai kanker paling umum di seluruh dunia. Pada tahun 2022, diperkirakan ada 389.846 kasus baru dan 188.438 kematian akibat kanker mulut secara global. Faktor risiko utama meliputi penggunaan tembakau, alkohol, dan sirih, serta infeksi human papillomavirus (HPV) di Amerika Utara dan Eropa.

Halitosis, atau bau mulut yang tidak sedap, diperkirakan dialami oleh 1 dari 4 orang di seluruh dunia. Dalam sekitar 90% kasus, asal bau tersebut berasal dari dalam mulut itu sendiri, terutama karena biofilm penghasil bau di bagian belakang lidah atau area mulut lainnya akibat kebersihan mulut yang buruk. Penyebab lain termasuk diet yang buruk, penyakit tertentu, masalah pernapasan, pengobatan, atau kebersihan gigi yang kurang. Merokok dan penggunaan tembakau juga meningkatkan kemungkinan penyakit gusi, yang merupakan sumber lain bau mulut.

Erosi gigi adalah hilangnya substansi gigi secara ireversibel akibat pelarutan kimia oleh asam yang bukan berasal dari bakteri. Sumber asam yang paling penting adalah asam dari makanan dan minuman (ekstrinsik) seperti minuman berkarbonasi, jus buah, dan buah sitrus, serta asam lambung (intrinsik) pada pasien dengan gangguan refluks atau anoreksia nervosa. Erosi gigi adalah kondisi kronis paling umum pada anak-anak usia 5-17 tahun, dengan tanda-tanda erosi terlihat pada 20-40% subjek di beberapa negara.

4 dari 4 halaman

Menggertak Gigi dan Mulut Kering: Gangguan yang Mempengaruhi Kualitas Hidup

Bruxism adalah aktivitas otot rahang berulang yang ditandai dengan mengatupkan atau menggertakkan gigi, baik saat tidur (bruxism tidur) maupun saat terjaga (bruxism terjaga). Ini merupakan gangguan neuromuskular multifaktorial yang etiologinya melibatkan faktor psikososial, genetik, dan neurologis. Stres dan kecemasan sering dikaitkan dengan bruxism. Dampak bruxism dapat berupa nyeri orofasial, keausan gigi, dan kegagalan perawatan restorasi gigi.

Mulut kering, atau xerostomia, terjadi ketika kelenjar ludah tidak menghasilkan cukup air liur untuk menjaga mulut tetap basah. Penyebabnya bisa beragam, termasuk efek samping obat-obatan (antidepresan, obat tekanan darah tinggi), kemoterapi, terapi radiasi kepala dan leher, penyakit autoimun (Sindrom Sjögren), diabetes yang tidak terkontrol, dehidrasi, serta penggunaan tembakau dan alkohol. Mulut kering dapat menyebabkan kesulitan dalam merasakan, mengunyah, menelan, dan berbicara, serta meningkatkan risiko karies gigi, sensitivitas, dan infeksi mulut.

Semua masalah kesehatan mulut ini, mulai dari yang paling umum hingga yang lebih serius, memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup. Deteksi dini dan perawatan yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Oleh karena itu, menjaga kebersihan mulut yang baik, melakukan pemeriksaan gigi secara rutin, dan menyadari tanda-tanda awal masalah adalah langkah penting bagi setiap Sahabat Fimela.