Fimela.com, Jakarta - Pernahkah sahabat Fimela merasa kesulitan melihat objek yang jauh, sementara objek di dekat Anda terlihat jelas? Kondisi ini dikenal sebagai refraksi miopia atau yang lebih umum disebut rabun jauh. Ini adalah kelainan refraksi mata yang menyebabkan sinar cahaya yang masuk ke mata difokuskan di depan retina, bukan tepat di atasnya, saat akomodasi mata dalam keadaan rileks.
Miopia terjadi ketika bola mata terlalu panjang dari depan ke belakang (miopia aksial), atau kornea terlalu melengkung, dan/atau lensa memiliki kekuatan optik yang meningkat (miopia refraktif). Akibatnya, pandangan jarak jauh menjadi buram dan tidak fokus. Kondisi ini merupakan salah satu jenis kelainan refraksi yang sangat umum terjadi di seluruh dunia.
Rabun jauh dapat memengaruhi siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa, dan seringkali berkembang atau memburuk selama masa kanak-kanak dan remaja. Kombinasi faktor genetik dan lingkungan berperan penting dalam perkembangan miopia. Memahami kondisi ini lebih dalam akan membantu kita menjaga kesehatan mata dengan lebih baik.
dr. Susanti Natalya Sirait. Sp.M (K). M.Kes, selaku Ketua Seminar INARVOS menjelaskan bahwa dari Data Kemenkes, sebanyak 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi miopia, dan jumlah ini diperkirakan terus meningkat.
"Pertambahan ukuran minus pada masa anak-anak dapat terus terjadi sejalan dengan masa pertumbuhan yang dapat menyebabkan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi seperti kelainan retina, glaukoma, dan katarak," katanya dalam acara Luring Seminar Unlocking 75 tahun Menicon Group
Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian Brien Holden disebutkan bahwa pada tahun 2050, prevalensi mereka yang mengalami miopia akan mencapai 50% dari keseluruhan populasi penduduk dunia dan terjadi pada anak usia sekolah.
Lensa Ortho-K
dr. Susanti Natalya Sirait menyampaikan lensa Ortho-K, merupakan salah satu pilihan untuk mereka yang mengalami miopia selain berbagai terapi lainnya.
Dr. dr. Tri Rahayu, Sp.M (K)., FIACLE menyampaikan bahwa, Lensa Orthokeratology (selanjutnya disebut sebagai lensa Ortho-K), merupakan pilihan pada tata laksana miopia. Lensa Ortho K digunakan saat tidur pada malam hari dengan tujuan membantu meratakan bagian tengah kornea secara sementara, sehingga dapat mengoreksi kelainan refraksi miopia hingga tingkat tertentu.
"Dengan penggunaan pada malam hari, pasien dapat memperoleh penglihatan yang lebih jelas pada siang hari tanpa menggunakan kacamata atau lensa konta," ujar dr. Tri
Apa itu orthokeratology?
Lensa Orthokeratology (selanjutnya disebut sebagai lensa “Ortho-K”) dibuat dari material rigid gas permeable dengan transmisi oksigen tinggi serta menggunakan desain reverse geometry. Lensa Ortho-K digunakan saat tidur pada malam hari untuk memban tu meratakan bagian tengah kornea secara sementara, sehingga dapat mengoreksi miopia hingga tingkat tertentu.
Dengan penggunaan pada malam hari, pasien dapat memperoleh penglihatan yang lebih jelas pada siang hari tanpa menggunakan kacamata atau lensa kontak Lensa Ortho-K bekerja melalui tekanan kelopak mata dan gaya hidrodinamik dari desain reverse geometry untuk membentuk ulang lapisan epitel kornea. Perubahan ini mengoreksi miopia secara sementara dan memungkinkan bayangan difokuskan pada retina, sehingga meningkatkan penglihatan pada siang hari.
Orthokeratology tepat untuk Individu yang aktif berolahraga, berenang, atau beraktivitas fisik, serta ingin bebas dari kacamata atau lensa kontak pada siang hari. Individu dengan profesi atau pekerjaan yang kurang memungkinkan penggunaan kacamata