Sukses

Health

Anak Berkebutuhan Khusus Punya Hak untuk Tumbuh Kembang Optimal, Begini Wujudkan Generasi Inklusif

Fimela.com, Jakarta - Kesadaran masyarakat terhadap isu disabilitas anak di Indonesia terus meningkat, namun tantangan yang dihadapi masih sangat kompleks. Data menunjukkan bahwa jumlah anak dengan kebutuhan khusus bukanlah angka yang kecil, sehingga membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, tenaga kesehatan, hingga pembuat kebijakan.

Berdasarkan berbagai sumber nasional, diperkirakan sekitar 3,3% anak usia 5–19 tahun di Indonesia mengalami disabilitas, atau setara dengan ±2,2 juta anak pada tahun 2021. Selain itu, estimasi penyandang autisme mencapai sekitar 2,4 juta orang, dengan penambahan sekitar 500 kasus baru setiap tahun.

Data lain menunjukkan bahwa sekitar 5.530 kasus gangguan perkembangan anak tercatat mendapatkan layanan di puskesmas pada periode 2020–2021. Prevalensi Down syndrome berada di angka 0,3%, atau sekitar 52 ribu anak usia 12–59 bulan.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan layanan kesehatan, pendidikan, dan dukungan sosial bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) masih sangat besar, sementara akses terhadap layanan tersebut belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

 

Tantangan dalam Proses Tumbuh Kembang

Anak berkebutuhan khusus menghadapi berbagai hambatan dalam proses tumbuh kembangnya. Tantangan ini tidak hanya bersifat medis, tetapi juga sosial dan struktural.

dr. Brastho Bramantyo, Sp.THT-KL menjelaskan realita tantangan yang dihadapi anak berkebutuhan khusus di Indonesia adalah ketidaktahuan dan keterbatasan dari kemampuan finansial dan akses. Sehingga perlu sosialisasi lebih luas agar anak-anak berkebutuhan tetap mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

"Seberapa pun besar disabilitasnya, dia punya hak untuk berkembang. Semua itu punya kesempatan. Masalahnya adalah bisa dibantu sejauh mana. Bicara pendengaran, perlu disediakan fasilitas pemeriksaan, alat bantu dan apakah bisa mendapatkan alatnya," kata dr. Brastho.

Menurutnya, disabilitas yang dimiliki seseorang biasanya terjadi pada satu organ. Sehingga masih ada banyak organ lain yang dapat dioptimalisasi dengan terbukanya akses secara luas.

 

Akses yang Terbuka

Oleh karena itu, Nobel Run 2026 kembali diadakan untuk memberikan akses kepada masyarakat dengan disabilitas untuk mengoptimalkan kemampuannya di bidang olahraga. Bertemakan Setara Satu Lintasan, kegiatan ini menggabungkan olahraga, edukasi, dan aksi sosial.

Diinisiasi oleh Nobel Audiology Center bersama Klinik Najwa Medika, serta didukung oleh Kitabisa dan SalingJaga, kegiatan ini hadir sebagai respons atas keterbatasan akses layanan kesehatan pendengaran dan terapi tumbuh kembang di Indonesia.

Mengusung semangat kesetaraan, acara ini tidak hanya menyediakan kategori lari inklusif, tetapi juga menghadirkan berbagai aktivitas edukatif seperti Sensory Corner, untuk memahami pengalaman overstimulasiInstruksi Tanpa Batas, simulasi tantangan dalam memahami instruksiKolaborasi dengan UMKM inklusif

Lebih dari sekadar acara olahraga, Nobel Run 2026 menjadi wadah untuk membangun empati dan mendorong partisipasi masyarakat dalam mendukung anak berkebutuhan khusus.

Tingkat disabilitas anak di Indonesia menunjukkan bahwa isu ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Tantangan yang dihadapi anak berkebutuhan khusus membutuhkan solusi kolaboratif yang melibatkan berbagai sektor.

Dengan meningkatkan akses layanan, memperkuat edukasi, serta membangun lingkungan yang inklusif, setiap anak—apapun kondisinya—memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, dan berkontribusi dalam masyarakat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading