Fimela.com, Jakarta - Body positivity adalah keyakinan bahwa setiap tubuh memiliki nilai dan keindahannya sendiri. Bagi anak dan remaja, pemahaman ini menjadi sangat penting karena mereka masih berada dalam proses mengenal diri serta menemukan tempatnya di dunia. Sayangnya, kita hidup di tengah lingkungan sosial yang sering kali menghadirkan standar penampilan tertentu. Tanpa disadari, banyak anak mulai menilai bahkan mengkritik tubuhnya sendiri sejak usia yang sangat muda.
Mengapa Body Positivity Sangat Penting untuk Anak?
Melansir dari Children’s Hospital Colorado, anak-anak yang memiliki citra tubuh positif cenderung merasa lebih percaya diri, nyaman dengan diri mereka sendiri, dan lebih berani menghadapi tantangan baru. Sebaliknya, citra tubuh yang buruk dapat memicu kecemasan hingga gangguan makan di masa depan. Sebagai orangtua, peran Sahabat Fimela sangat krusial dalam menyaring pesan pesan negatif dari lingkungan luar dan menggantinya dengan afirmasi positif yang membangun karakter anak.
Proses menanamkan rasa percaya diri ini tentu membutuhkan waktu dan konsistensi dalam komunikasi harian kita. Kita perlu menciptakan ruang yang aman di mana anak merasa dicintai bukan karena bagaimana mereka terlihat, melainkan karena siapa mereka sebenarnya dan apa yang bisa dilakukan oleh tubuh hebat mereka.
Langkah Awal Membentuk Body Positivity pada Anak
Sahabat Fimela, langkah paling mendasar dalam membangun body positivity adalah dengan menggeser fokus percakapan dari bagaimana tubuh terlihat menjadi apa yang tubuh bisa lakukan. Sering kali tanpa sadar kita memuji anak hanya karena mereka terlihat cantik atau tampan. Meskipun tidak salah, pujian yang terlalu berfokus pada penampilan fisik dapat membuat anak merasa bahwa nilai diri mereka hanya terletak pada rupa semata. Kita perlu mengajarkan anak bahwa tubuh mereka adalah alat yang luar biasa untuk mengeksplorasi dunia dan meraih mimpi mimpi besar mereka.
Berikut adalah beberapa poin penting dalam mengarahkan fokus anak terhadap fungsi tubuh:
1. Berikan Pujian pada Kemampuan Fisik Anak
Alihkan pujian dari "Kamu cantik dengan baju itu" menjadi "Wah, kakimu sangat kuat ya bisa berlari kencang di taman tadi". Hal ini membuat anak menyadari bahwa fungsi tubuhnya jauh lebih berharga daripada sekadar hiasan visual.
2. Gunakan Bahasa yang Netral dan Positif
Hindari memberi label pada bagian tubuh tertentu, seperti "pipi bakpao" atau "badan pendek". Gunakan istilah anatomi yang benar dan tunjukkan kekaguman pada fungsinya, seperti tangan yang bisa memeluk atau telinga yang bisa mendengar musik indah.
3. Jelaskan Bahwa Keberagaman itu Indah
Ajak anak melihat bahwa di dunia ini tidak ada dua manusia yang benar benar sama. Gunakan analogi bunga di taman yang semuanya cantik meskipun warna dan bentuknya berbeda beda agar anak belajar menghargai perbedaan fisik di sekitarnya.
4. Fokus pada Kesehatan daripada Ukuran
Saat berbicara tentang makanan atau olahraga, tekankan bahwa kita melakukannya agar jantung sehat dan tubuh kuat untuk bermain, bukan agar tubuh menjadi kurus. Ini akan membentuk hubungan yang lebih sehat antara anak dengan pola makan dan aktivitas fisik mereka.
Kekuatan Self-Love Ibu dalam Membentuk Mental Anak
1. Berhenti Melakukan Diet Talk di Depan Anak
Hindari membicarakan rencana diet ketat atau rasa bersalah setelah makan di depan si kecil. Tunjukkan bahwa makanan adalah bahan bakar yang nikmat dan diperlukan tubuh untuk tetap berenergi sepanjang hari tanpa memberikan label "makanan jahat" atau "makanan baik".
2. Tunjukkan Rasa Syukur pada Tubuh Sendiri
Biarkan anak melihat Anda menghargai diri sendiri. Katakanlah hal seperti "Ibu sangat bersyukur tangan Ibu kuat untuk menggendongmu". Ucapan sederhana ini akan terekam dalam ingatan anak sebagai standar bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan dirinya sendiri.
3. Hapus Budaya Mengomentari Fisik Orang Lain
Pastikan lingkungan rumah bebas dari komentar tentang berat badan atau penampilan orang lain, baik itu teman, kerabat, maupun karakter di televisi. Ajarkan anak untuk selalu mencari kebaikan karakter seseorang daripada menilai dari sampulnya saja.
4. Ajak Anak Melakukan Aktivitas Fisik yang Menyenangkan
Lakukan olahraga bersama bukan sebagai hukuman untuk membakar kalori, melainkan sebagai perayaan atas apa yang bisa dilakukan tubuh. Menari bersama di ruang tamu atau bersepeda di sore hari akan membangun asosiasi positif antara tubuh dan kegembiraan.
Lindungi Rasa Percaya Diri Anak dengan Literasi Digital
Setelah membangun fondasi di dalam rumah, Sahabat Fimela juga perlu mempersiapkan anak menghadapi dunia luar, terutama dunia digital. Seiring bertambahnya usia, anak akan mulai terpapar pada iklan dan unggahan media sosial yang sering kali menggunakan filter atau editan untuk mencapai standar kecantikan tertentu. Tanpa pemahaman yang baik, anak dapat dengan mudah membandingkan diri mereka yang nyata dengan gambar gambar digital yang sudah dimanipulasi. Membangun resiliensi digital adalah langkah lanjutan yang krusial untuk menjaga body positivity tetap kokoh di dalam diri anak.
Penting bagi kita untuk mengajarkan literasi media sejak dini. Jelaskan kepada anak bahwa banyak gambar yang mereka lihat di internet telah melalui proses penyuntingan agar terlihat "sempurna". Diskusikan bagaimana iklan mencoba membuat orang merasa tidak puas dengan diri mereka agar mau membeli produk tertentu. Dengan memberikan pemahaman ini, Sahabat Fimela memberikan "perisai" mental bagi anak sehingga mereka tidak mudah merasa rendah diri saat melihat standar kecantikan yang semu di layar ponsel atau televisi.
Teruslah menjadi pendukung nomor satu bagi buah hati Anda, dan biarkan mereka bercahaya dengan keunikan yang mereka miliki karena itulah kecantikan yang sebenarnya yang tidak akan luntur oleh waktu.