Apa Itu Playing Victim? Mengenali Pola Perilaku, Dampak, dan Cara Menghadapinya

Nabila MecadinisaDiterbitkan 19 Mei 2026, 14:27 WIB

ringkasan

  • Playing victim adalah pola perilaku menempatkan diri sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab atau mencari simpati, seringkali dengan menyalahkan orang lain.
  • Ciri-cirinya meliputi selalu menyalahkan, menghindari tanggung jawab, mencari perhatian, kurang empati, dan sulit menerima kritik.
  • Penyebabnya bisa trauma masa lalu, kebutuhan perhatian, ketidakpercayaan diri, hingga pola asuh yang kurang tepat. Perilaku ini berdampak negatif pada diri sendiri (stres, depresi) dan hubungan (toksik, konflik).

Fimela.com, Jakarta - Dalam interaksi sehari-hari, kita mungkin pernah bertemu dengan seseorang yang selalu merasa menjadi korban dalam setiap situasi. Pola perilaku ini dikenal dengan istilah playing victim atau mentalitas korban. Ini bukan sekadar perasaan sedih sesaat, melainkan sebuah kecenderungan untuk terus-menerus menempatkan diri sebagai pihak yang menderita, bahkan ketika ada peran diri sendiri dalam masalah yang terjadi.

Orang yang melakukan playing victim seringkali merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya, menganggap semua masalah adalah kesalahan orang lain, dan merasa menderita meskipun bukti menunjukkan sebaliknya. Perilaku ini bisa menjadi tindakan manipulatif untuk mendapatkan simpati, menghindari tanggung jawab, atau bahkan mengendalikan emosi orang lain demi mencapai tujuan tertentu.

2 dari 6 halaman

Memahami Lebih Dalam Apa Itu Playing Victim

Secara sederhana, playing victim adalah kondisi di mana seseorang merasa dirinya adalah korban dan cenderung menyalahkan orang lain atas segala masalah yang muncul dalam kehidupannya.

Mentalitas ini melibatkan pola pikir di mana individu menempatkan diri sebagai korban dalam berbagai situasi, baik yang benar-benar terjadi maupun yang hanya ada di dalam pikirannya. Tujuan di baliknya bisa bermacam-macam, mulai dari mencari perhatian, menghindari konsekuensi, hingga memengaruhi orang lain secara emosional. Ini adalah bentuk manipulasi yang bertujuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

3 dari 6 halaman

Tanda-Tanda Seseorang Terjebak Mentalitas Korban

Mengenali ciri-ciri playing victim dapat membantu kita memahami pola perilaku ini. Salah satu tanda paling umum adalah kecenderungan untuk selalu menyalahkan orang lain ketika terjadi kesalahan atau masalah. Ini bisa terjadi di lingkungan pekerjaan, rumah, maupun dalam masyarakat.

Individu dengan mentalitas korban juga seringkali menghindari tanggung jawab, lebih memilih menuding orang lain, dan menempatkan diri sebagai pihak yang "teraniaya" untuk mendapatkan simpati. Mereka merasa tidak berdaya, menganggap hidupnya tidak adil, dan seolah-olah tidak memiliki kendali atas apa pun yang menimpanya.

Selain itu, mereka mungkin mencari kekecewaan karena hal itu dapat memberi mereka "tendangan" atau keuntungan sekunder, seperti perhatian dan belas kasihan. Ketidakpercayaan diri juga bisa menjadi pemicu, membuat seseorang cenderung memposisikan diri sebagai korban dan menyalahkan orang lain atau keadaan saat menghadapi kesulitan. Mereka cenderung mengasihani diri sendiri dan melihat diri mereka sebagai korban dalam setiap situasi, menganggap masalah di luar kendali mereka.

Orang yang playing victim juga sulit mengakui kesalahan. Akibatnya, mereka tidak belajar dari pengalaman dan terus terjebak dalam pola perilaku yang sama. Mereka juga cenderung kurang empati terhadap orang lain, lebih fokus pada penderitaan mereka sendiri, dan gemar membesar-besarkan masalah kecil agar terdengar dramatis untuk memancing perhatian. Terakhir, mereka mudah tersinggung saat menerima kritik dan akan berusaha membenarkan diri sendiri. Bahkan, ada kesenangan tersendiri saat orang lain merasa bersalah atas kesalahan yang diperbuatnya.

4 dari 6 halaman

Akar Masalah: Mengapa Seseorang Melakukan Playing Victim?

Perilaku playing victim tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks. Salah satu penyebab utamanya adalah trauma masa lalu. Pengalaman traumatis dapat membuat seseorang menginternalisasi peran korban dan terus memproyeksikannya dalam hubungan. Mereka mungkin merasa bahwa bertindak sebagai korban dapat menghindarkan diri dari rasa sakit atau bahaya yang lebih besar.

Mentalitas ini juga bisa menjadi mekanisme pertahanan diri untuk menghindari rasa bersalah atau tanggung jawab. Ini adalah cara untuk melindungi diri agar trauma tidak terulang lagi. Beberapa orang juga berperan sebagai korban untuk mendapatkan perhatian, dukungan, atau validasi emosional yang mungkin tidak mereka dapatkan dengan cara lain.

Faktor lain termasuk ketidakmampuan mengelola konflik, sehingga memilih menjadi "korban" daripada menghadapi masalah secara langsung. Ketidakpercayaan diri dan pola asuh yang kurang tepat juga dapat berkontribusi pada perkembangan mentalitas ini. Selain itu, berada dalam hubungan yang membuatnya ketergantungan, seperti toxic relationship, juga bisa membuat seseorang melakukan playing victim demi mendapatkan perhatian.

5 dari 6 halaman

Lingkaran Negatif: Dampak Playing Victim bagi Diri Sendiri dan Hubungan

Perilaku playing victim membawa dampak negatif yang signifikan, baik bagi individu yang melakukannya maupun orang-orang di sekitarnya.

  • Bagi Diri Sendiri: Individu yang terjebak dalam pola ini dapat mengalami peningkatan stres dan kecemasan, karena mereka merasa terjebak dalam situasi yang tidak dapat dikendalikan. Stres kronis ini bahkan bisa memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Perasaan tidak berdaya, frustrasi, putus asa, hingga depresi juga seringkali menyertai. Mereka cenderung menghindari tanggung jawab atas hidupnya, menghambat perkembangan pribadi, menurunkan kesejahteraan emosional, dan kehilangan kepercayaan diri. Jika terus berlanjut, perilaku ini dapat menyebabkan isolasi sosial karena orang-orang di sekitar mulai menjauh.
  • Bagi Orang Lain dan Hubungan: Dalam hubungan interpersonal, playing victim dapat merusak kepercayaan dan keintiman. Sikap ini bisa mengarah pada hubungan toksik karena membuat orang lain merasa bersalah tanpa alasan yang jelas. Perilaku ini membebani orang-orang di sekitar yang terus-menerus merasa harus mendukung atau menyelamatkan "korban". Ini juga bisa menciptakan ketergantungan emosional, memicu perasaan ketidakadilan, dan konflik interpersonal yang intens. Di lingkungan kerja, playing victim dapat menciptakan suasana yang tidak sehat dan menurunkan produktivitas.
6 dari 6 halaman

Strategi Menghadapi dan Keluar dari Pola Playing Victim

Menghadapi orang dengan mentalitas korban memang menantang. Namun, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan, baik bagi mereka yang berinteraksi dengan pelaku maupun bagi individu yang merasa terjebak dalam pola ini.

Bagi yang Berinteraksi dengan Pelaku Playing Victim:

  • Buat Batasan yang Jelas: Penting untuk menetapkan batasan demi melindungi diri dari dampak negatif perilaku mereka.
  • Jangan Terlalu Cepat Memberikan Validasi "Korban": Tetaplah objektif dan cari fakta sendiri. Hindari memberikan respons yang bisa menjadi pembenaran bagi mereka.
  • Tunjukkan Empati, tetapi Jangan Terjebak Drama: Dengarkan mereka, namun jangan biarkan diri Anda terbawa dalam cerita dari sudut pandang mereka.
  • Dorong Mereka untuk Bertanggung Jawab: Perlahan dorong mereka untuk melihat perannya dalam suatu masalah melalui pertanyaan reflektif.
  • Fokus pada Perilaku, Bukan Pribadi: Ungkapkan tindakan yang dilakukan daripada melabeli mereka.
  • Hindari Menuduh atau Menyebut Nama: Konfrontasi langsung hanya akan membuat mereka defensif. Sampaikan maksud Anda dengan cara yang lebih halus.
  • Cari Tahu Alasan di Balik Perilakunya: Memahami penyebabnya dapat membantu Anda membantu mereka keluar dari mentalitas ini.
  • Putuskan Hubungan Jika Merugikan: Jika perilaku tersebut terus merugikan kesehatan mental Anda, penting untuk mempertimbangkan untuk menjaga jarak atau mengakhiri hubungan.

Bagi Individu yang Merasa Melakukan Playing Victim:

  • Kenali Pola Pikir Anda: Sadari ketika Anda mulai menyalahkan orang lain atau situasi tanpa introspeksi.
  • Ambil Tanggung Jawab: Akui peran Anda dalam situasi yang sulit.
  • Kembangkan Empati: Cobalah melihat situasi dari sudut pandang orang lain.
  • Fokus pada Solusi: Alihkan energi dari menyalahkan menjadi mencari cara untuk memperbaiki keadaan.
  • Bangun Kepercayaan Diri: Perkuat rasa percaya diri dengan menetapkan tujuan kecil dan mencapainya.
  • Cari Bantuan Profesional: Jika perilaku playing victim menyebabkan masalah signifikan dalam kehidupan sehari-hari, penting untuk mencari bantuan dari terapis atau psikolog. Mereka dapat membantu mengidentifikasi akar penyebab dan mengembangkan strategi mengatasi masalah yang lebih sehat.

Mengenali dan mengatasi pola playing victim adalah langkah penting menuju hubungan yang lebih sehat dan kesejahteraan emosional yang lebih baik, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.