Cara Tetap Menjadi Ibu yang Sabar Menghadapi Anak yang Overstimulated Saat Traveling

Kayla BridgitteDiterbitkan 27 Juni 2026, 21:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Merencanakan liburan bersama anak kecil bisa menyenangkan sekaligus melelahkan. Sebagai orangtua, sangat penting untuk memprioritaskan perawatan diri dan menciptakan lingkungan yang seimbang yang mendorong relaksasi dan kedekatan. Salah satu kondisi yang paling sering memicu drama sepanjang perjalanan adalah ketika anak mengalami overstimulation atau stimulasi sensori berlebih.

Tempat baru yang asing, suara bising bandara, kilatan lampu yang terang, hingga perubahan jadwal tidur yang drastis bisa membuat sistem saraf si kecil mendadak kewalahan. 

Mengenal Tanda-tanda Anak Overstimulation 

Melansir dari Steady Parents, kondisi overstimulation ini bukanlah bentuk kenakalan atau manja, melainkan reaksi alami tubuh anak ketika otak mereka tidak mampu lagi memproses rangsangan dari lingkungan sekitar secara normal. Saat anak mulai menangis histeris, berteriak, atau bahkan menolak untuk berjalan, tingkat kesabaran Anda sebagai seorang ibu tentu akan diuji secara maksimal.

Sangat mudah bagi kita untuk ikut terpancing emosi dan balik memarahi anak karena merasa malu atau lelah di tempat umum. Padahal, berteriak atau memaksakan kehendak pada anak yang sedang mengalami tantangan sensori justru akan membuat kondisi psikologis mereka semakin memburuk. Yuk, simak beberapa tipsnya untuk trip liburanmu nanti.

2 dari 4 halaman

1. Cari Sudut Tenang yang Sepi

Siapkan perlengkapan penenang untuk si kecil. [Dok/Pexels.com/Vlada Karpovich].

Sahabat Fimela, ketika Anda melihat si kecil mulai menunjukkan tanda-tanda rewel yang tidak biasa saat berada di tempat ramai, segeralah mengambil tindakan intervensi awal. Jangan menunggu hingga anak benar-benar mengalami tantangan emosional yang parah di depan banyak orang asing. Jika Anda sedang berada di dalam pusat perbelanjaan, bandara, atau tempat wisata yang sangat padat, segeralah mencari sudut ruangan yang sepi. Anda bisa membawa anak ke dalam ruang menyusui, toilet yang sepi, atau bahkan kembali ke dalam mobil sewaan untuk sementara waktu. Kurangi paparan cahaya lampu dan suara bising dengan memeluk anak erat-erat, lalu biarkan mereka mengatur napas kembali dalam suasana yang sunyi tanpa ada gangguan dari luar.

2. Gunakan Alat Bantu Peredam Suara dan Mainan Sensorik Nyaman 

Selalu siapkan alat pelindung seperti noise canceling headphones atau sumbat telinga ramah anak di dalam tas jinjing liburan Anda. Alat ini sangat ampuh untuk memblokir suara bising mesin pesawat atau kerumunan festival yang bisa menakuti pendengaran anak. Selain itu, berikan mainan yang memiliki tekstur lembut atau buku cerita favorit yang familiar bagi mereka untuk mengalihkan fokus perhatian anak dari lingkungan asing yang menegangkan.

3 dari 4 halaman

3. Pertahankan Waktu Istirahat Siang Anak Secara Konsisten

Istirahat yang cukup membantu kenyamanan saat liburan keluarga. [Dok/Pexels.com/RDNE Stock project].

Sering kali, penyebab utama anak mengalami overstimulation adalah karena ambisi orang tua yang ingin mengunjungi terlalu banyak tempat wisata dalam satu hari penuh. Anak-anak usia dini tetap membutuhkan struktur waktu yang konsisten seperti saat mereka berada di rumah agar emosi mereka tetap stabil dan tidak mudah rapuh sepanjang hari. Jangan pernah mengorbankan waktu tidur siang atau jam makan anak demi mengejar tiket masuk tempat wisata yang murah. Jika si kecil biasa tidur siang pada jam satu siang, pastikan pada jam tersebut Anda sudah berada di dalam kamar hotel atau sedang melakukan perjalanan tenang di dalam mobil. Tubuh yang kurang istirahat secara otomatis akan menurunkan tingkat toleransi anak terhadap rangsangan luar, sehingga mereka menjadi seratus persen lebih mudah mengamuk.

4. Terapkan Aturan Satu Tempat Wisata Utama per Hari 

Ubah pola pikir liburan Anda dari kuantitas tempat menuju kualitas momen kebersamaan yang mendalam bersama keluarga tercinta. Batasi agenda perjalanan Anda dengan hanya mengunjungi satu lokasi wisata besar saja dalam sehari, lalu gunakan sisa harinya untuk beristirahat santai di sekitar kolam renang hotel. Ritme perjalanan yang lambat dan santai ini akan memberikan ruang bagi anak untuk memproses setiap keindahan pengalaman baru tanpa harus merasa kelelahan fisik.

4 dari 4 halaman

5. Siapkan Camilan yang Kaya Nutrisi

Persiapan matang membuat perjalanan terasa nyaman. [Dok/Pexels.com/Antonius Ferret].

Saat traveling, camilan yang dibawa sebaiknya bukan hanya praktis, tetapi juga mampu mendukung kebutuhan tubuh dan emosi anak maupun orang tua. Pilihlah snack yang kaya nutrisi dan membantu regulasi sensori, karena perjalanan sering kali memicu stres tanpa disadari. Camilan perjalanan yang terlalu manis memang memberi energi cepat, tetapi lonjakan gula darah justru bisa membuat anak lebih mudah lelah, rewel, atau kehilangan fokus. Karena itu, pastikan camilan mengandung kombinasi protein, lemak sehat, dan serat agar energi bertahan lebih lama. Aktivitas mengunyah memberikan stimulasi sensori pada mulut yang mendorong pelepasan serotonin, hormon yang membantu tubuh merasa lebih tenang, sekaligus membantu keseimbangan otot leher dan fokus visual sehingga anak lebih siap berinteraksi secara sosial selama perjalanan.

6. Hilangkan Rasa Terburu-buru

Selain soal makanan, penting juga untuk menghilangkan rasa terburu-buru saat liburan. Tanpa disadari, kita sering membawa tekanan internal untuk selalu cepat bergegas ke bandara, terburu-buru melewati keamanan, buru-buru check-in hotel, hingga merasa harus segera pindah ke agenda berikutnya. Padahal, sebagian besar waktu kita sebenarnya sudah memiliki jeda yang cukup. Perasaan terburu-buru justru membuat tubuh semakin overstimulated dan mudah lelah. Saat mulai merasa panik atau tergesa, cobalah berhenti sejenak, tarik napas dalam, dan tanyakan pada diri sendiri apakah rasa terburu itu benar-benar diperlukan.