Bekali Anak Skill Penting Ini Agar Tidak Mudah Percaya Orang Asing di Tengah Keramaian

Kayla BridgitteDiterbitkan 22 Juni 2026, 18:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sebagai orangtua, tentu Sahabat Fimela ingin si kecil tumbuh aman tanpa merasa cemas. Anak diharapkan mampu mengenali lingkungan sekitarnya dengan baik, tetapi tetap tidak hidup dalam ketakutan. Percaya diri untuk menjelajah dunia, namun tetap memahami batas agar tidak bertindak ceroboh. 

Berada di tengah lautan manusia di tempat yang asing bisa membuat anak mudah terpisah dari jangkauan pandangan kita hanya dalam hitungan detik saja.

Melansir dari Health Cleve and Clinic, mengajarkan keselamatan dari orang asing atau konsep stranger safety kini tidak lagi berfokus pada menakut-nakuti anak dengan sosok orang asing yang jahat. Pendekatan modern lebih menekankan pada pembekalan keterampilan taktis agar anak tahu bagaimana cara merespons situasi darurat dengan tenang tanpa rasa panik.

Cara Mengenalkan Konsep Stranger Safety ke Anak

Konsep lama yang hanya berteriak tentang bahaya orang asing terbukti kurang efektif karena anak-anak sering kali kesulitan membedakan mana orang asing yang berniat buruk dan mana yang berniat baik dalam situasi darurat. Otak anak yang masih polos cenderung mengasosiasikan orang jahat dengan penampilan yang menyeramkan seperti di film kartun. Padahal, ancaman nyata bisa datang dari siapa saja yang berpenampilan rapi dan ramah di tempat umum.

Oleh karena itu, Sahabat Fimela perlu mengubah strategi komunikasi dengan memberikan panduan yang konkret, logis, dan mudah dipraktikkan oleh anak saat mereka merasa terancam.

2 dari 4 halaman

Edukasi Konsep Orang Asing Yang Aman Bagi Anak

Ajarkan anak untuk mengubah fokusnya menjadi mengenali orang asing yang aman atau safe strangers. [Dok/Pexels.com/Gustavo Fring].

Sahabat Fimela, langkah pertama yang paling mendasar adalah mendefinisikan ulang istilah orang asing dengan cara yang mudah dipahami oleh logika anak-anak. Simak beberapa tips praktis untuk menanamkan konsep kewaspadaan dini pada buah hati Anda:

1. Kenalkan Konsep Orang Asing yang Aman untuk Dimintai Bantuan 

Berikan edukasi visual kepada si kecil mengenai figur-figur pekerjaan yang memakai seragam resmi dan memiliki tanda pengenal jelas di tempat umum, seperti petugas keamanan, polisi, atau staf pusat informasi yang berada di konter resmi. Ajarkan anak bahwa jika mereka tersesat, orang-orang berseragam inilah yang pertama kali harus mereka dekati untuk meminta pertolongan. Jika tidak ada petugas berseragam, ajarkan anak untuk mencari seorang ibu yang sedang membawa anak kecil lainnya sebagai pilihan alternatif yang jauh lebih aman.

2. Buat Aturan Mutlak untuk Tidak Mengikuti Siapa Pun Tanpa Izin 

Tanamkan aturan yang sangat tegas bahwa anak tidak boleh berjalan pergi mengikuti siapa pun, menerima makanan, atau masuk ke dalam mobil orang lain tanpa persetujuan langsung dari Mama atau Papa. Katakan dengan intonasi lembut namun mantap, "Meskipun orang itu sangat baik dan memberikan mainan bagus, kamu harus tetap diam di tempat dan berteriak memanggil Mama". Aturan dasar ini akan menjadi rem darurat otomatis di dalam pikiran anak ketika ada orang asing yang mencoba merayu mereka.

3 dari 4 halaman

Cara Melatih Anak Berani Bersuara Di Tengah Kerumunan

Latihan skenario darurat bangun rasa percaya diri. [Dok/Pexels.com/qmtstudio].

Anak-anak yang dibekali dengan instruksi tindakan yang spesifik cenderung tidak akan menangis histeris atau membeku karena ketakutan saat mereka menyadari bahwa mereka telah terpisah dari rombongan keluarga di tempat yang asing.

3. Terapkan Teknik Diam di Tempat dan Buat Suara Gaduh 

Ajarkan anak untuk segera menghentikan langkah kaki mereka dan tetap berdiri di tempat terakhir kali mereka melihat Anda, alih-alih berjalan berputar-putar mencari jalan pulang yang justru akan membuat mereka semakin jauh tersesat.

Jika ada orang asing yang memaksa menarik tangan mereka, latih anak untuk berteriak dengan lantang dan tegas, "Ini bukan orang tua saya!" atau "Tolong, saya tidak kenal orang ini!". Teriakan yang spesifik ini akan langsung menarik perhatian massa di sekitar untuk memberikan pertolongan.

4. Latih Anak Menghafal Informasi Identitas Keluarga yang Penting 

Pastikan si kecil yang sudah mulai bisa berbicara lancar dilatih untuk menghafal nama lengkap diri sendiri, nama lengkap orang tua, serta nomor telepon seluler Anda yang aktif. Jika anak masih terlalu kecil untuk menghafal angka, Sahabat Fimela bisa memasangkan gelang identitas khusus atau menyelipkan kartu nama kecil di dalam saku pakaian mereka sebelum memasuki area wisata yang padat.

Hal ini akan sangat mempercepat proses pertemuan kembali jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

4 dari 4 halaman

Membangun Komunikasi Terbuka dengan Anak

Dengarkan setiap cerita anak dengan tulus. [Dok/Pexels.com/August de Richelieu].

Kejujuran menjadi kunci utama saat membicarakan soal keamanan dengan orang asing kepada anak. Penting bagi si kecil untuk memahami bahwa situasi berbahaya memang bisa terjadi, sehingga mereka perlu belajar mengenali kondisi yang tidak aman.

Namun, bukan berarti Anda harus menjelaskan semuanya secara berlebihan atau menakutkan. Anak tidak perlu disuguhi cerita kriminal yang ekstrem. Yang dibutuhkan adalah percakapan yang jujur, sederhana, dan sesuai dengan tahap usia mereka.

5. Bersikap Jujur Sesuai Usia Anak

Saat membahas keamanan dengan orang asing, gunakan pendekatan yang jujur namun tetap sesuai usia anak. Mereka perlu tahu bahwa situasi tidak aman memang bisa terjadi, tanpa harus dibuat takut berlebihan.

  • Ajak anak berdialog secara sederhana dan realistis.
  • Balita: tetap dekat dan tidak berbicara dengan orang asing.
  • Anak SD: tolak ajakan orang tak dikenal dan segera cari tempat aman.
  • Praremaja: jangan membagikan data pribadi, terutama di internet.
  • Remaja: percaya pada insting dan menjauh saat merasa tidak nyaman.

Ingat, ancaman tidak selalu datang dari orang asing. Ajarkan kewaspadaan sekaligus keseimbangan: dunia tidak selalu aman, tetapi juga tidak semua orang berniat buruk.