The Story Of Butterlandia, Kisah Perjalanan Butter Baby dalam Film Animasi Pendek

Kayla BridgitteDiterbitkan 12 Juni 2026, 19:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, mencicipi aneka hidangan pencuci mulut atau dessert yang manis nan memikat selalu sukses menghadirkan letupan kebahagiaan tersendiri di tengah padatnya aktivitas kita. Namun, pernahkah Anda membayangkan jika sebuah jenama kuliner lokal tidak hanya menyajikan kelezatan rasa, melainkan juga membukakan pintu menuju sebuah semesta fantasi yang menakjubkan? Sebuah gebrakan yang sangat revolusioner dan mencetak sejarah baru dalam industri kuliner tanah air baru saja resmi diluncurkan. Jenama dessert populer asal Indonesia, Butter Baby, sukses menggelar acara Cinema Premiere untuk film animasi pendek original mereka yang bertajuk The Story of Butterlandia. Pergelaran sinema eksklusif yang dikemas bersamaan dengan sesi konferensi pers ini diselenggarakan secara megah bertempat di bioskop CGV FX Sudirman, Jakarta.

Langkah ini menegaskan bahwa kehadiran Butter Baby di dunia kuliner bukan sekadar urusan peluncuran produk makanan manis biasa. Acara ini menjadi momentum pembukaan resmi dari sebuah semesta fiksi yang menyimpan kisah asal-usul karakter, narasi, misi, serta dunia imajinatif yang selama ini hanya terlihat samar lewat petunjuk kecil pada kemasan. Film animasi pendek ini secara apik memperkenalkan penonton pada sebuah planet fiksi bernama Butterlandia.

Dunia fantasi tersebut merupakan tanah kelahiran dari karakter ikonik Butter Baby yang menjadi fondasi cerita utama di balik berdirinya jenama ini. Melalui medium visual yang mengagumkan, tim kreatif ingin menyampaikan pesan bahwa di balik keunikan karakter yang telah dikenal luas oleh masyarakat, terdapat sebuah semesta yang terus berkembang dinamis. Simak ulasan mendalam mengenai latar belakang misi penyelamatan planet dari halaman ke halaman berikutnya bersama Fimela.

2 dari 4 halaman

Dedikasi Penuh Talenta Kreatif Lokal di Balik Layar

Nick Burch dan Henry Burch, founders dari Butter Baby yang berbagi cerita mengenai sejarah Butter Baby. [Dok/Butter Baby].

Sahabat Fimela, mari kita selami lebih dalam mengenai plot cerita yang menjadi fondasi emosional dari seluruh universe yang dibangun oleh Butter Baby. Film animasi pendek ini secara mengejutkan mengungkap sebuah latar belakang misi yang sangat mendesak dan penuh petualangan. Kisahnya berpusat pada perjalanan darurat karakter utama untuk mengumpulkan lima ratus triliun ton mentega atau butter. Langkah besar ini harus ditempuh demi menyelamatkan Butterlandia, planet asal mereka yang diceritakan perlahan-lahan sedang sekarat.

Founders dari Butter Baby, Nick Burch dan Henry Burch, mengungkapkan bahwa ide sederhana ini berawal dari keinginan menciptakan sesuatu yang mampu membuat masyarakat merasa terhubung secara emosional. Duo pendiri ini mengaku telah mengenal, mengagumi, dan mencintai kebudayaan Indonesia selama lebih dari dua belas tahun, mulai dari keindahan Sumba hingga akhirnya menetap di Jakarta selama empat tahun terakhir. Mereka memilih Indonesia karena percaya bahwa negeri ini adalah tempat terbaik untuk membangun sebuah kekayaan intelektual yang kokoh.

Fakta yang sangat membanggakan adalah semesta fiksi yang indah ini lahir dari rahim kreativitas anak bangsa. Head of Marketing & Business Development Butter Baby, Karen Tjahja, menegaskan bahwa cermin pengalaman manusia ini diciptakan sepenuhnya oleh talenta lokal, di mana sembilan puluh sembilan persen tim mereka adalah orang Indonesia. Mulai dari jajaran kreator, desainer grafis, hingga tim operasional digerakkan oleh potensi anak muda dalam negeri.

3 dari 4 halaman

Sentuhan Rasa Nyaman yang Mengingatkan Pada Rumah

Cerita emosional yang kuat di balik film pendek "The Story of Butterlandia." [Dok/Butter Baby].

Keterikatan cerita yang emosional tersebut ternyata tidak hanya berhenti di layar bioskop, melainkan diterjemahkan secara sempurna ke dalam setiap menu produk makanan yang dihadirkan. Bagi Corporate Executive Chef dari Butter Baby, Chef Dedy Sutan, setiap menu pencuci mulut yang ia ciptakan di dapur eksperimen bukan sekadar urusan memanjakan lidah secara teknis semata. Fokus utamanya adalah bagaimana menghadirkan sebuah keakraban rasa yang menenangkan, menghangatkan, serta mampu mengingatkan penikmatnya pada kenyamanan suasana rumah.

Karakter Butter Baby digambarkan sedang berada di tempat yang sangat jauh dari rumah asalnya, dan melalui setiap sendokan rasa manis tersebut, tim kuliner ingin menyampaikan pesan universal tentang penerimaan. Cita rasa yang ramah dan inklusif inilah yang dibawa oleh identitas Indonesia untuk menyapa dunia. Pertumbuhan pesat ini membuktikan bahwa Butter Baby telah bertransformasi menjadi sebuah Global IP yang kuat yang dibangun melalui kekuatan narasi (storytelling), pengalaman sensorik, dan kekuatan komunitas.

Strategi bisnis yang berakar pada hubungan emosional ini diakui oleh Shane Lewis selaku CEO dari Butter Baby. Meskipun produk makanan menjadi gerbang awal bagi masyarakat untuk mengenal jenama ini, namun cerita mendalam di baliknyalah yang membuat konsumen setia bertahan. Shane yang telah berpengalaman memasak di berbagai belahan dunia dan Indonesia selama lebih dari dua puluh tahun berkomitmen membawa semangat, budaya, dan kekayaan rasa Indonesia menuju panggung global. Kota Bangkok di Thailand telah dibidik sebagai langkah awal ekspansi internasional mereka.

4 dari 4 halaman

Instalasi Landmark Setinggi 8 Meter di Bandara Internasional Soekarno Hatta Sebagai Simbol Keberangkatan

Saksikan kemegahan instalasi patung raksasa terbaru. [Dok/Butter Baby].

Sebagai sebuah bocoran manis mengenai kejutan besar yang akan datang dalam waktu dekat, Butter Baby bersiap membuka gerai kelimanya pada tanggal 19 Juni 2026. Toko terbaru ini akan berlokasi di salah satu titik paling strategis, yaitu di Area Keberangkatan Terminal Tiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK). Kehadiran gerai baru ini bukan sekadar urusan perluasan bisnis retail biasa, melainkan sebuah pernyataan sikap yang sangat puitis dari pihak manajemen.

Sebuah instalasi patung raksasa atau landmark setinggi delapan meter akan berdiri tegak di tengah salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara tersebut. Uniknya, patung ikonik ini sengaja diletakkan di area Keberangkatan, bukan di area Kedatangan. Hal ini melambangkan sebuah filosofi mendalam bahwa Butter Baby memulai seluruh langkah indahnya dari Jakarta, Indonesia. Monumen ini berdiri di sana bukan karena ingin meninggalkan Indonesia, melainkan sebagai simbol kemandirian bahwa jiwa Indonesia akan selalu dibawa dalam setiap derap langkahnya menaklukkan pasar dunia.

Bagi komunitas setianya, tanggal sembilan belas Juni bukan sekadar perayaan pembukaan toko, melainkan sebuah momentum keberangkatan bersama menuju level yang lebih tinggi. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, jenama ini bahkan telah meraih nominasi Webby Award berkat kesuksesan gerai pop-up di Los Angeles yang memikat selebriti dunia secara organik.