Tren Stop Menyisir demi Rambut Rontok Berkurang Dinilai Menyesatkan

Asnida RianiDiterbitkan 26 September 2026, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di tengah maraknya tren kecantikan di media sosial, sebagian orang mulai mengurangi frekuensi menyisir karena khawatir rambut menjadi lebih rontok. Anggapan ini muncul karena helai rambut yang menempel di sisir sering dianggap sebagai bukti bahwa sisir mencabut rambut dari akarnya.

Akibatnya, tidak sedikit yang memilih membiarkan rambut kusut dengan harapan kerontokan bisa berkurang, padahal, menurut Times of India, Rabu, 1 Juli 2026, anggapan tersebut tidak tepat.

Menyisir tidak menyebabkan rambut sehat tercabut, melainkan membantu melepaskan helai yang memang sudah berada di akhir siklus pertumbuhannya. Rambut yang masih kuat dan sehat tetap akan bertahan di kulit kepala meski disisir setiap hari dengan cara yang benar.

Secara alami, rambut mengalami tiga fase, yakni tumbuh, beristirahat, lalu rontok untuk memberi ruang bagi rambut baru. Dalam kondisi normal, seseorang dapat kehilangan sekitar 50 hingga 100 helai rambut setiap hari tanpa menandakan adanya gangguan kesehatan rambut.

Karena itu, rambut yang terkumpul di sisir umumnya merupakan helai yang memang sudah siap lepas. Penelitian dalam Journal of Dermatological Treatment (2009) juga menunjukkan bahwa semakin sering seseorang menyisir, semakin banyak rambut yang terlihat terkumpul pada saat itu

Temuan tersebut menunjukkan bukan berarti kerontokan meningkat, melainkan hanya memperlihatkan rambut yang memang telah memasuki fase rontok sehingga terangkat bersamaan saat proses penyisiran.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tidak Menyisir Bukan Solusi, Ini Risikonya

Ilustrasi Sisir Serit Credit: pexels.com/pixabay

Menyimpan sisir di sudut kamar mungkin terlihat seperti solusi cepat, tapi kebiasaan tersebut bisa memicu masalah baru. Rambut yang semestinya terlepas setiap hari akan tetap menempel dan bercampur dengan helai yang masih tumbuh sehat.

Dalam beberapa hari, akumulasi helai yang menunggu jatuh dapat membentuk kusut parah. Rambut yang rontok melilit rambut lain, membentuk simpul yang sulit diurai tanpa menarik kuat atau merusak batang rambut.

Selain itu, menyisir punya fungsi penting untuk mendistribusikan minyak alami dari kulit kepala ke sepanjang batang rambut. Tanpa proses ini, sebum, sel kulit mati, dan sisa produk perawatan bisa menumpuk di kulit kepala, membuatnya terasa berat, memicu iritasi, dan mengganggu lingkungan yang mendukung pertumbuhan rambut sehat.

3 dari 3 halaman

Bedakan Rambut Rontok dan Rambut Patah

Ilustrasi Cara Menyisir Rambut Credit: unsplash.com/Prior

Masalah lain muncul ketika akhirnya mencoba mengurai kusut yang sudah terbentuk. Tarikan kuat akibat simpul rapat dapat menyebabkan batang rambut patah. Kondisi ini berbeda dari rambut rontok, karena rambut patah terjadi akibat kerusakan fisik pada batang, bukan karena rambut keluar dari akar.

Banyak orang mencampuradukkan rambut yang jatuh dari akar dengan rambut yang patah di tengah batang. Keduanya tampak serupa di permukaan, tetapi penyebabnya berbeda. Rambut patah umumnya dipicu gesekan berlebihan, penggunaan alat panas, atau kebiasaan menarik terlalu keras, terlebih saat rambut basah.

Sementara itu, kerontokan sebenarnya lebih sering terkait faktor internal seperti genetika, perubahan hormon, stres tinggi, atau kekurangan nutrisi. Karena itu, menghindari sisir bukanlah cara efektif untuk menjaga kepadatan rambut. Perawatan yang tepat justru dimulai dari cara menyisir yang lebih lembut.