Rayakan Hari Kebaya Nasional 2026, Film Jalan Pulang Ungkap Makna Kebaya yang Melampaui Busana

Alfareza RamadhaniDiterbitkan 24 Juli 2026, 12:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 menjadi momen istimewa dengan peluncuran film pendek ketiga Bakti Budaya Djarum Foundation berjudul "Jalan Pulang." Jika dua film sebelumnya lebih banyak menyoroti keindahan visual dan semangat pelestarian kebaya, karya terbaru ini hadir dengan pendekatan yang lebih personal.

Kebaya tidak lagi hanya ditampilkan sebagai busana tradisional, tetapi juga sebagai simbol yang menyimpan cerita tentang rumah, keluarga, dan akar budaya yang membentuk identitas seseorang. Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan, pendekatan tersebut lahir dari respons masyarakat terhadap dua film sebelumnya.

Menurutnya, banyak orang menyadari bahwa setiap kebaya memiliki kisah yang diwariskan lintas generasi, sehingga maknanya jauh melampaui sekadar pakaian. "Melalui Jalan Pulang, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa setiap kebaya menyimpan kisah yang layak diteruskan," ujarnya saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.

"Kebaya bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tapi juga membawa jejak keluarga, kenangan, nilai, dan perjalanan hidup yang membentuk siapa diri kita hari ini."

Melalui alur cerita yang hangat, Jalan Pulang memperlihatkan bagaimana hubungan seseorang dengan kebaya sering kali bermula dari ruang paling akrab, yakni rumah. Sosok ibu dan nenek menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut, menjadikan kebaya sebagai saksi berbagai momen berharga yang terus dikenang.

Alih-alih menjelaskan sejarah kebaya secara harfiah, film ini mengajak penonton merasakan maknanya lewat kedekatan antargenerasi. Pilihan medium film pun dinilai mampu menyampaikan pesan secara lebih emosional, sehingga kebaya hadir bukan hanya sebagai warisan budaya, tapi juga sebagai bagian dari perjalanan hidup yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2 dari 3 halaman

Cerita di Balik Busana

Film pendek Jalan Pulang resmi diluncurkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation sebagai bagian dari peringatan Hari Kebaya Nasional di Cinema XXI Plaza Indonesia, 22 Juli 2026. (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Sutradara "Jalan Pulang", Bramsky, menempatkan kebaya sebagai saksi aneka kenangan tentang rumah, keluarga, dan akar budaya yang membentuk identitas seseorang. Perspektif ini menekankan hubungan emosional yang tumbuh di lingkungan terdekat, lalu beresonansi ke pengalaman hidup yang lebih luas.

"Di balik setiap lipatan kainnya, ada kenangan, ada rumah, ada ibu, ada keluarga, dan ada identitas yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika mencoba mencarinya kembali," kata dia di kesempatan yang sama.

Ia berharap film tersebut tidak hanya menginspirasi masyarakat untuk mengenakan kebaya, tetapi juga mendorong mereka menggali, menjaga, dan meneruskan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Harapan ini sejalan dengan semangat pelestarian yang berangkat dari pengalaman personal.

"Jalan Pulang" menyampaikan bahwa melestarikan kebaya tidak semata menjaga keberadaan busananya. Nilai, kisah, dan pengalaman yang menyertainya perlu dirawat agar kebaya tetap bermakna dan relevan bagi pemakainya di masa kini.

3 dari 3 halaman

Pelestarian yang Hidup dari Makna

Film pendek Jalan Pulang resmi diluncurkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation sebagai bagian dari peringatan Hari Kebaya Nasional (Liputan6.com/Alfareza Ramadhani)

Melalui "Jalan Pulang," Bakti Budaya Djarum Foundation mengajak masyarakat memaknai kebaya lebih dari sekadar busana. Kebaya dipandang sebagai warisan budaya yang menyimpan cerita tentang keluarga, kenangan, dan identitas, sekaligus menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Film ini diharapkan mendorong generasi muda tidak hanya mengenakan kebaya, tetapi juga memahami nilai dan kisah yang diwariskan lintas generasi.Renitasari berharap kebaya semakin akrab dengan kehidupan sehari-hari.

"Saya berharap semakin banyak yang pakai kebaya, karena kebaya itu harus terus hidup. Tanpa kita sadari, dengan memakai kebaya kita juga menghidupkan penjahit, penjual kain, dan banyak pelaku usaha lainnya," ujarnya.

Menurutnya, pelestarian kebaya juga berarti mendukung keberlangsungan para perajin, penjahit, hingga penjual kain yang menjadi bagian dari ekosistem budaya Indonesia.