Cara Mengatasi Beruntusan di Dahi yang Membandel, Ini Langkah yang Perlu Dicoba

Eastara VigaskaDiterbitkan 02 Agustus 2026, 10:32 WIB

Fimela.com, Jakarta - Beruntusan di dahi sering kali muncul dalam bentuk bintik-bintik kecil yang membuat tekstur kulit terasa tidak rata. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari produksi minyak berlebih, penumpukan sel kulit mati, keringat, hingga penggunaan produk perawatan rambut yang mengenai area dahi. Karena penyebabnya beragam, penting untuk mengenali pemicunya sebelum menentukan perawatan yang tepat.

Dilansir dari American Academy of Dermatology (AAD), cara mengatasi beruntusan di dahi yang membandel dapat dimulai dengan membersihkan wajah dua kali sehari menggunakan pembersih yang lembut dan berlabel non-comedogenic. Selain itu, hindari kebiasaan menyentuh atau memencet beruntusan karena dapat menyebabkan iritasi dan memperparah kondisi kulit. Menggunakan produk perawatan yang sesuai dengan jenis kulit juga membantu mengurangi risiko pori-pori tersumbat. 

Sementara itu, dilansir dari Cleveland Clinic, mengetahui penyebab beruntusan di dahi juga menjadi langkah penting agar perawatan yang dilakukan lebih efektif. Jika beruntusan tidak kunjung membaik setelah beberapa minggu, terasa gatal, atau disertai kemerahan dan nyeri, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter kulit untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

2 dari 3 halaman

Kebiasaan yang Bisa Memicu Beruntusan di Dahi

Mengubah beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko munculnya beruntusan sekaligus menjaga kesehatan kulit. (Foto/Dok: Pexels)

Selain memilih produk perawatan yang tepat, memperhatikan kebiasaan sehari-hari juga penting untuk menjaga kulit tetap bersih. Beberapa kebiasaan penyebab beruntusan di dahi yang sering tidak disadari antara lain jarang membersihkan wajah setelah berkeringat, terlalu sering menyentuh wajah dengan tangan yang kotor, hingga membiarkan poni atau rambut menutupi area dahi dalam waktu lama.

Dilansir dari American Academy of Dermatology (AAD), minyak dari rambut, sisa produk styling, dan kotoran yang menempel di kulit dapat menyumbat pori-pori sehingga memicu munculnya beruntusan. Oleh karena itu, menjaga kebersihan rambut dan rutin mengganti sarung bantal juga menjadi bagian dari perawatan kulit yang tidak boleh diabaikan.

Sementara itu, dilansir dari National Health Service (NHS), cara mencegah beruntusan di dahi dapat dilakukan dengan tidak mencuci wajah lebih dari dua kali sehari karena dapat memicu iritasi, menggunakan pembersih yang lembut dengan air hangat, menghindari kebiasaan memencet beruntusan, memilih produk perawatan atau kosmetik berlabel non-comedogenic, serta membersihkan riasan sebelum tidur. Langkah-langkah tersebut dapat membantu mengurangi penyumbatan pori-pori sekaligus menjaga kesehatan kulit. 

3 dari 3 halaman

Skincare yang Bisa Membantu Mengatasi Beruntusan di Dahi

Beberapa kandungan aktif dalam skincare dapat membantu mengangkat sel kulit mati, mengontrol minyak, dan mengurangi penyumbatan pori-pori. (Foto/Dok: Pexels)

Memilih skincare untuk beruntusan di dahi sebaiknya tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga disesuaikan dengan kebutuhan kulit. Jika penyebabnya adalah pori-pori yang tersumbat akibat minyak dan sel kulit mati, penggunaan produk dengan kandungan tertentu dapat membantu memperbaiki kondisi kulit secara bertahap. 

Dilansir dari American Academy of Dermatology (AAD), kandungan seperti salicylic acid dapat membantu membersihkan pori-pori dan mengurangi penumpukan minyak, sedangkan adapalene bermanfaat untuk membantu mengatasi komedo yang menjadi salah satu penyebab munculnya beruntusan. Namun, penggunaan bahan aktif sebaiknya dilakukan secara bertahap agar kulit memiliki waktu untuk beradaptasi.

Selain itu, dilansir dari CeraVe, memilih kandungan skincare untuk beruntusan seperti niacinamide dan ceramide juga dapat membantu menjaga skin barrier tetap sehat sekaligus mengurangi risiko iritasi selama proses perawatan. Apabila beruntusan di dahi tidak kunjung membaik, sering muncul kembali, atau justru semakin parah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kulit untuk mendapatkan diagnosis serta rekomendasi perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit. Penanganan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko keluhan semakin berkembang dan mempercepat proses pemulihan kulit.

 

Penulis: Eastara Vigaska Dymiard