Fimela.com, Jakarta - Istilah friendship recession menggambarkan kondisi ketika hubungan pertemanan terasa semakin sulit dibangun atau dipertahankan. Bukan berarti kita tidak lagi membutuhkan teman. Justru, hubungan sosial tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan. Hanya saja, cara kita membangun dan menjaga pertemanan berubah ketika kehidupan semakin kompleks.
Dilansir dari Forbes, pertemanan bisa menjadi lebih kompleks ketika seseorang memasuki usia dewasa, terutama di usia 20-an dan 30-an. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan fenomena friendship recession, ketika seseorang mulai mengalami perubahan dalam hubungan sosial dan semakin sulit mempertahankan kedekatan dengan teman. Fase ini biasanya menjadi masa ketika banyak orang mulai mengambil keputusan besar dalam hidup, seperti membangun karier, menikah, pindah kota, atau mengejar tujuan pribadi. Di saat yang sama, tuntutan pekerjaan juga semakin besar sehingga waktu untuk bersosialisasi menjadi lebih terbatas.
Kalau mengingat masa sekolah atau kuliah, berteman mungkin terasa jauh lebih mudah. Setiap hari bertemu orang yang sama, makan bersama, mengerjakan tugas, atau sekadar ngobrol setelah kelas. Kedekatan terbentuk secara natural karena kita memiliki banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama.
Namun, situasinya berubah ketika memasuki usia 30-an. Teman-teman mulai memiliki kesibukan dan prioritas masing-masing. Ada yang fokus membangun karier, menjalani kehidupan bersama pasangan, pindah ke kota lain, atau mengejar impian pribadi. Akhirnya, kita mungkin masih memiliki banyak kenalan, tetapi tidak semuanya terasa dekat.
Jadi, kalau pernah merasa, “Kok sekarang susah banget punya teman yang benar-benar dekat?” mungkin kamu sedang mengalami salah satu perubahan yang cukup umum dalam kehidupan dewasa.
Bukan Tak Punya Teman, Hanya Tak Punya Banyak Waktu
Dulu, bertemu teman bisa dilakukan hampir setiap hari tanpa perlu banyak perencanaan. Sekarang, sekadar makan bersama saja terkadang harus masuk ke kalender. Masing-masing sudah memiliki pekerjaan, tanggung jawab, dan agenda pribadi yang tidak selalu bisa disatukan.
Kesibukan pekerjaan dapat membuat waktu untuk bersosialisasi semakin terbatas. Pertemuan yang dulu rutin bisa semakin jarang karena orang mulai fokus membangun karier atau mengejar tujuan hidup masing-masing.
Selain waktu, prioritas dan nilai hidup juga bisa berubah. Teman yang dulu memiliki tujuan yang sama mungkin sekarang berada di jalan yang berbeda. Ada yang ingin fokus pada karier, ada yang lebih memprioritaskan keluarga, sementara yang lain mungkin sedang mengejar impian yang mengharuskannya pindah tempat.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti sebuah pertemanan harus berakhir. Namun, hubungan yang dulunya terasa dekat bisa saja berubah karena kehidupan masing-masing sudah tidak lagi berjalan dalam ritme yang sama.
Menariknya, menjadi lebih sibuk juga membuat kita lebih sulit membangun pertemanan baru. Kita mungkin bertemu banyak orang di kantor, acara profesional, komunitas, atau lingkungan baru. Tetapi, mengenal seseorang secara sekilas tentu berbeda dengan membangun hubungan yang benar-benar dekat.
Kedekatan membutuhkan waktu dan interaksi yang berulang. Jadi, meskipun kesempatan bertemu orang baru tetap ada, hubungan yang mendalam tidak bisa terbentuk secara instan.
Itulah mengapa di usia 30-an, punya teman dekat mungkin terasa seperti sesuatu yang harus diusahakan, bukan sekadar terjadi dengan sendirinya.
Saat Kualitas Pertemanan Lebih Penting daripada Jumlah
Memasuki usia 30-an bukan berarti kita harus memiliki lingkar pertemanan yang besar. Bisa jadi, justru di fase ini kita mulai memahami bahwa kualitas hubungan jauh lebih penting daripada jumlah teman.
Tidak semua pertemanan yang sudah berlangsung bertahun-tahun harus dipertahankan selamanya. Seiring perubahan hidup, beberapa hubungan mungkin menjadi semakin dekat, sementara yang lainnya perlahan menjauh.
Yang penting adalah bagaimana hubungan tersebut terasa dan apakah kedua pihak masih memberikan usaha untuk mempertahankannya. Karena itu, jangan merasa gagal hanya karena sekarang tidak memiliki teman sebanyak saat sekolah atau kuliah.
Kalau ada seseorang yang berarti, coba luangkan waktu untuk menjaga hubungan tersebut. Tidak harus selalu bertemu setiap minggu. Bisa dengan mengirim pesan, menjadwalkan makan bersama, atau sekadar menanyakan kabar. Hubungan yang berarti tetap membutuhkan usaha dari kedua belah pihak.
Di sisi lain, kita juga tidak perlu takut untuk membuka diri terhadap pertemanan baru. Teman baru bisa ditemukan di tempat kerja, komunitas, acara, kelas, atau lingkungan lain yang kita jalani sehari-hari. Namun, membangun koneksi yang benar-benar dekat memang membutuhkan waktu dan kesengajaan.
Jadi, jika lingkar pertemanan terasa semakin kecil di usia 30-an, tidak perlu langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk. Mungkin ini hanya tanda bahwa kehidupan sedang berubah. Kita tidak lagi mencari sebanyak mungkin orang untuk diajak berteman, tetapi mulai mencari hubungan yang terasa lebih tulus, sehat, dan bermakna.
Pada akhirnya, friendship recession bukan sekadar tentang kehilangan teman. Ini juga tentang belajar bahwa ketika dewasa, menjaga hubungan yang berarti memang membutuhkan waktu, usaha, dan kemauan untuk hadir.