Fimela.com, Jakarta - Sebuah fakta yang patut menjadi perhatian orangtua adalah sekitar 8 dari 10 anak Indonesia usia 4-12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah tingkat minimum yang direkomendasikan FAO/WHO. Ironisnya, kondisi ini justru sering muncul tepat ketika anak memasuki usia sekolah dasar atau masa ketika kebutuhan otak mereka justru berada di puncaknya.
Memasuki rentang usia 7 hingga 12 tahun, preferensi minuman anak umumnya berubah drastis. Minuman bercita rasa seperti minuman cokelat kemasan, teh kemasan, hingga minuman ringan mulai menggeser posisi susu sebagai pilihan utama. Padahal, susu selama ini dikenal sebagai salah satu sumber DHA yang paling mudah dikonsumsi anak-anak sehari-hari.
Ketika konsumsi susu turun, asupan DHA pun ikut merosot, perubahan yang sering luput dari perhatian orangtua karena tidak menimbulkan gejala fisik yang jelas.
Temuan ini bukan sekadar klaim tanpa dasar. Studi yang dipublikasikan dalam *British Journal of Nutrition* (2016) oleh tim peneliti dari Universitas Indonesia dan IPB, menganalisis data survei nasional RISKESDAS terhadap lebih dari 45 ribu anak usia 4-12 tahun. Hasilnya, hanya sekitar 16% anak yang memenuhi rekomendasi minimum FAO/WHO untuk asupan EPA dan DHA gabungan—artinya mayoritas anak Indonesia berada di bawah kecukupan yang disarankan, yang berkisar 150-250 mg per hari tergantung usia.
Kenapa DHA Tetap Penting Meski Fase Emas 1000 Hari Sudah Lewat
"Kecukupan asam lemak esensial Arachidonic Acid (AA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA) tetap penting bagi anak usia sekolah dan remaja untuk mendukung proses pembelajaran serta pematangan fungsi otak. Meski perkembangan otak berlangsung paling pesat pada 1.000 hari pertama kehidupan, proses mielinisasi korteks prefrontal—yang berperan dalam atensi, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls—masih terus berlangsung hingga masa remaja," ungkap dr. Shyrien Amalina MSc, SpA, Dokter Spesialis Anak.
Klaim ini sejalan dengan tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal *Nutrients* (Kuratko et al., 2013), yang mencatat bahwa mielinisasi lobus frontal otak berlangsung bertahap sejak usia 6 bulan, dengan titik perkembangan penting kembali terjadi di usia 7-9 tahun dan sepanjang masa remaja. Studi acak terkontrol DOLAB dari Oxford University pada anak usia 7-9 tahun turut menemukan kaitan antara suplementasi DHA dengan perbaikan kemampuan membaca, memori kerja, dan perilaku pada anak.
Dampak yang Sering Tak Disadari Orangtua
Defisiensi DHA pada anak usia sekolah berpotensi memengaruhi kemampuan belajar, daya ingat, konsentrasi, hingga regulasi emosi. Karena gejalanya tidak selalu tampak jelas, banyak orangtua tidak menyadari bahwa peralihan anak dari susu ke minuman lain diam-diam turut memutus asupan DHA yang penting bagi perkembangan otaknya.
"Dalam memilih minuman anak, orangtua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan rasa yang disukai, tetapi juga kandungan nutrisinya. Rasa memang memengaruhi penerimaan anak, sehingga pilihan minuman bernutrisi, termasuk yang mengandung DHA, idealnya tetap hadir dalam format yang dapat diterima dan dinikmati anak tanpa paksaan," tambah dr. Shyrien.
Masalah kekurangan DHA pada anak Indonesia bukan sekadar isu gizi individual, melainkan isu yang menyangkut kualitas generasi mendatang. Orangtua, tenaga kesehatan, dan pelaku industri pangan diharapkan dapat bersinergi menciptakan ekosistem gizi yang mendukung tumbuh kembang optimal anak—termasuk memastikan tersedianya pilihan minuman maupun makanan yang tetap disukai anak namun kaya nutrisi esensial yang mereka butuhkan.