Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, siapa yang setiap tanggal gajian langsung merasa ingin membuka aplikasi belanja? Rasanya ada saja yang tiba-tiba terlihat menarik. Belanja impulsif pun jadi lebih mudah terjadi karena barang yang sebelumnya tidak terpikirkan mendadak terasa seperti sesuatu yang wajib dimiliki, apalagi ketika ada promo atau gratis ongkir.
Kebiasaan tersebut bisa membuat uang cepat habis sebelum kebutuhan utama benar-benar terpenuhi. Dilansir dari NerdWallet, belanja impulsif sering terjadi ketika seseorang membeli sesuatu tanpa merencanakannya atau ketika sedang terbawa emosi. Salah satu cara untuk menghindarinya adalah memberi waktu untuk berpikir sebelum melakukan pembelian dan memastikan barang tersebut sesuai dengan kebutuhan serta tujuan finansial.
Karena itu, momen gajian sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai waktu untuk berbelanja. Justru, beberapa hari pertama setelah menerima penghasilan bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengatur keuangan terlebih dahulu.
Mulailah dengan melihat jumlah uang yang masuk dan kebutuhan yang harus dibayar. Pisahkan dana untuk tagihan, kebutuhan sehari-hari, tabungan, serta pengeluaran lain yang memang sudah direncanakan.
Setelah kebutuhan utama aman, barulah tentukan berapa banyak uang yang boleh digunakan untuk bersenang-senang. Dengan begitu, kamu tetap bisa membeli sesuatu yang disukai tanpa merasa bersalah karena sudah menghabiskan uang untuk kebutuhan penting.
Masukkan ke Wishlist Dulu, Tidak Harus Langsung Dibeli
Cara sederhana untuk mengurangi belanja impulsif adalah tidak langsung membeli barang yang menarik perhatian. Ketika menemukan sesuatu yang disukai, masukkan terlebih dahulu ke wishlist atau catatan belanja.
Kamu bisa memberikan waktu 24 jam, beberapa hari, atau bahkan lebih lama sebelum kembali melihat barang tersebut. Cara ini memberi kesempatan untuk mengetahui apakah keinginan membeli masih ada setelah rasa penasaran mulai berkurang.
Misalnya, saat melihat tas yang sedang diskon, jangan langsung memasukkannya ke keranjang dan membayar. Simpan dulu barang tersebut. Setelah beberapa hari, tanyakan kembali apakah masih menginginkannya? Apakah sudah memiliki tas dengan fungsi yang sama? Dan yang paling penting, apakah pembelian tersebut memang masuk dalam anggaran?
Jika setelah menunggu kamu masih merasa barang tersebut dibutuhkan dan dananya tersedia, pembelian bisa dilakukan dengan lebih tenang. Sebaliknya, kalau sudah lupa atau ternyata tidak terlalu menginginkannya, kamu baru saja menyelamatkan uang dari pembelian yang tidak perlu.
Selain membuat wishlist, coba kurangi pemicu belanja. Jika email promo, notifikasi aplikasi, atau konten shopping haul sering membuatmu ingin checkout, tidak ada salahnya mematikan notifikasi atau berhenti mengikuti akun yang terlalu sering membuatmu tergoda. Strategi ini juga direkomendasikan untuk membantu menciptakan jarak dari pemicu belanja impulsif.
Dengan begitu, kamu tidak harus terus-menerus mengandalkan kemauan untuk menolak godaan. Lingkungan digital pun dibuat sedikit lebih tenang sehingga keputusan belanja bisa terasa lebih sadar.
Tetap Boleh Self-Reward, Asal Sudah Ada Batasnya
Sahabat Fimela, menghindari belanja impulsif bukan berarti harus berhenti membeli barang yang disukai. Justru, terlalu membatasi diri bisa membuat pengelolaan keuangan terasa berat dan sulit dipertahankan.
Kamu tetap boleh punya uang untuk bersenang-senang. Misalnya, setelah kebutuhan, tagihan, dan tabungan sudah disisihkan, tentukan sejumlah dana yang memang boleh digunakan untuk makan di restoran, membeli makeup, menonton film, atau membeli barang yang sudah lama diinginkan.
Dengan memiliki batas yang jelas, kegiatan belanja terasa lebih menyenangkan karena kamu sudah tahu berapa jumlah yang aman untuk digunakan. Pengeluaran untuk keinginan pun tidak perlu mengambil uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain.
Cara lain yang bisa dicoba adalah menabung otomatis saat gajian. Alih-alih menunggu sampai akhir bulan untuk melihat apakah masih ada uang yang tersisa, sisihkan tabungan sejak awal. Dengan begitu, uang untuk tujuan finansial sudah diamankan sebelum digunakan untuk belanja.
Setelah itu, buat daftar sederhana untuk pengeluaran selama satu bulan. Tidak perlu terlalu rumit. Cukup catat kebutuhan utama, jumlah tabungan, dan batas uang yang boleh digunakan untuk keinginan.
Jadi, ketika tanggal gajian berikutnya tiba, kamu tidak perlu merasa harus menghabiskan uang karena baru menerima penghasilan. Ada rencana yang sudah dibuat sebelumnya.
Menghindari belanja impulsif bukan tentang tidak boleh menikmati hasil kerja keras. Justru, tujuannya adalah supaya setiap pembelian terasa lebih berarti dan tidak membuat kondisi keuangan berantakan setelahnya.