Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, olahraga tidak selalu harus identik dengan gerakan yang rumit atau penggunaan banyak alat. Ada kalanya, tubuh justru perlu diajak kembali melakukan gerakan sederhana yang sudah familiar dalam kehidupan sehari-hari. Jongkok, berjalan, membungkuk, mendorong, hingga mengangkat sesuatu merupakan contoh gerakan yang sebenarnya sudah sering dilakukan tanpa disadari. Pola-pola seperti inilah yang menjadi inspirasi dari primal movement.
Dilansir dari Verywell Fit, functional strength training berfokus pada pola gerakan yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti squat, lunge, hip hinge, dan membawa beban. Pendekatan ini melatih tubuh melalui gerakan, bukan hanya mengisolasi kelompok otot tertentu, sehingga beberapa bagian tubuh dapat bekerja secara bersamaan.
Sederhananya, olahraga primal movement dapat dipahami sebagai pendekatan latihan yang menempatkan gerakan dasar sebagai fondasi. Alih-alih langsung mengejar latihan yang kompleks, tubuh diajak untuk memahami kembali cara bergerak dengan baik.
Menariknya, gerakan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Ketika seseorang mengambil barang dari lantai, misalnya, tubuh melakukan pola membungkuk dan menekuk lutut. Saat membawa belanjaan, tubuh juga perlu menggunakan kekuatan untuk menopang dan membawa beban. Bahkan ketika menaiki tangga, beberapa kelompok otot bekerja secara bersamaan untuk membantu tubuh berpindah.
Karena dekat dengan aktivitas sehari-hari, primal movement terasa lebih sederhana dan fungsional. Latihan ini tidak hanya berbicara tentang membentuk otot, tetapi juga tentang bagaimana tubuh bergerak secara keseluruhan.
Sebelum mencoba gerakan workout yang semakin kompleks, tidak ada salahnya kembali mengenali gerakan dasar tubuh terlebih dahulu.
Mengenal Gerakan dalam Primal Movement, dari Squat hingga Lunge
Salah satu hal menarik dari primal movement adalah gerakannya tidak terasa asing. Banyak pola yang digunakan sebenarnya sudah menjadi bagian dari berbagai jenis latihan maupun aktivitas harian. Bedanya, dalam primal movement, gerakan tersebut dilakukan dengan lebih sadar dan terarah.
Squat menjadi salah satu contoh yang paling mudah dikenali. Saat melakukan squat, tubuh menurunkan posisi seperti ketika hendak duduk, kemudian kembali berdiri. Pola ini juga sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat mengambil barang dari lantai atau bangkit dari kursi.
Kemudian ada lunge, yaitu gerakan dengan satu kaki melangkah ke depan atau ke belakang sambil menurunkan tubuh. Selain melatih tubuh bagian bawah, gerakan ini juga membutuhkan koordinasi dan keseimbangan.
Ada pula pola push dan pull. Push-up merupakan contoh gerakan mendorong yang cukup populer, sedangkan row atau latihan tarik dapat digunakan untuk melatih pola pull. Kedua pola tersebut memiliki kaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti mendorong pintu atau menarik benda.
Sementara itu, hip hinge merupakan pola gerakan yang berpusat pada pergerakan dari pinggul. Deadlift menjadi salah satu latihan yang menggunakan pola ini. Gerakan tersebut memiliki kemiripan dengan aktivitas ketika seseorang membungkuk untuk mengambil benda dari bawah.
Primal movement juga dapat mencakup gerakan carry, yaitu membawa beban sambil berjalan. Bentuk sederhananya dapat ditemukan ketika membawa tas belanja, koper, atau barang lainnya.
Tidak harus langsung melakukan semua gerakan dalam satu sesi. Latihan dapat dimulai dari gerakan dasar menggunakan berat badan sendiri. Setelah tubuh terbiasa, variasi atau tingkat kesulitan bisa ditambahkan secara bertahap.
Dengan pendekatan tersebut, olahraga terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tidak terlalu menakutkan bagi mereka yang baru mulai berlatih.
Manfaat Primal Movement untuk Melatih Kebugaran Tubuh
Primal movement bukan hanya tentang melakukan sebanyak mungkin repetisi. Salah satu hal yang menarik dari pendekatan ini adalah perhatian terhadap bagaimana tubuh bergerak. Gerakan yang sederhana pun tetap membutuhkan koordinasi, keseimbangan, kekuatan, dan kontrol agar dapat dilakukan dengan baik.
Misalnya saat melakukan squat. Gerakan tersebut melibatkan kaki dan pinggul, tetapi tubuh juga perlu menjaga posisi dan keseimbangan. Hal serupa terjadi ketika melakukan lunge, push-up, atau membawa beban sambil berjalan. Beberapa bagian tubuh bekerja secara bersamaan untuk menyelesaikan satu gerakan.
Pendekatan seperti ini membuat primal movement dekat dengan konsep functional training. Tujuannya bukan sekadar membuat tubuh terlihat lebih kuat, tetapi membantu kemampuan fisik yang juga digunakan ketika menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain itu, latihan dengan pola gerak dasar cukup fleksibel. Beberapa gerakan dapat dilakukan tanpa alat, sehingga bisa menjadi pilihan bagi orang yang ingin berolahraga di rumah. Bagi yang sudah terbiasa menggunakan peralatan, gerakannya juga dapat dikembangkan dengan tambahan beban sesuai kemampuan.
Namun, bukan berarti semakin sulit gerakannya maka semakin baik hasilnya. Menguasai teknik dasar dan menjaga gerakan tetap nyaman sebaiknya menjadi prioritas. Jika baru mulai berolahraga, pilih variasi yang lebih sederhana dan tingkatkan secara perlahan.
Primal movement juga tidak harus menggantikan jenis olahraga yang selama ini dilakukan. Pendekatan ini dapat menjadi pelengkap untuk membantu tubuh mendapatkan variasi gerakan yang lebih beragam.
Jadi, jika ingin mencoba rutinitas olahraga yang terasa lebih natural dan dekat dengan aktivitas sehari-hari, primal movement bisa menjadi salah satu pilihan yang menarik. Karena terkadang, kembali ke dasar adalah cara sederhana untuk lebih mengenal kemampuan tubuh sendiri.