Fimela.com, Jakarta - Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul selama masa menyusui adalah ketika bayi tiba-tiba lebih rewel dari biasanya. Tangisan yang lebih sering terkadang membuat ibu langsung berpikir bahwa ASI yang diberikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan si kecil.
Padahal, bayi rewel tidak selalu berarti produksi ASI ibu kurang. Ada banyak alasan lain yang dapat membuat bayi menangis, mulai dari mengantuk, merasa tidak nyaman, popok basah, hingga memang sedang lapar.
Hal tersebut disampaikan konselor laktasi Khusnul Khotimah, S.Tp., M.Gz., dalam acara Yoga & Health Talk yang digelar ProtaBumin bersama komunitas Bisa Jadi Ibu di Taman Balekambang, Surakarta, Sabtu (29/8).
Menurut Khusnul, ibu sebenarnya dapat mengenali beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kebutuhan ASI bayi terpenuhi.
Kekhawatiran mengenai kecukupan ASI merupakan hal yang cukup umum dialami ibu menyusui. Terlebih ketika bayi sering menangis atau tampak ingin menyusu berkali-kali. Namun, kondisi tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya indikator untuk menilai apakah ASI yang diberikan cukup.
“ASI itu sebenarnya selalu cukup untuk kebutuhan bayi. Bayi rewel tidak selalu berarti ASI-nya kurang, karena rewel bisa disebabkan banyak hal, mulai dari mengantuk, tidak nyaman, popok basah, sampai memang lapar,” jelas Khusnul.
Karena itu, ibu disarankan tidak langsung menyimpulkan bahwa produksi ASI kurang hanya berdasarkan frekuensi tangisan bayi.
Bayi Rewel Bukan Satu-Satunya Patokan
Ada beberapa tanda lain yang dapat diperhatikan untuk melihat kecukupan ASI. Salah satunya adalah proses menyusui yang berlangsung nyaman dan tenang, serta terdengar suara bayi menelan selama menyusu.
Frekuensi buang air kecil bayi juga dapat menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Selain itu, kenaikan berat badan bayi sesuai kurva pertumbuhan di buku KIA dapat menjadi indikator penting dalam memantau tumbuh kembangnya.
Perhatikan Proses Menyusui, Bukan Hanya Jumlah ASI
Ketika masih merasa ragu, ibu dapat mengevaluasi beberapa aspek dalam proses menyusui. Khusnul menyebut pelekatan, posisi menyusui, nutrisi ibu, hingga tingkat stres sebagai beberapa hal yang dapat diperhatikan.
Pelekatan yang kurang tepat, misalnya, dapat membuat proses menyusui menjadi tidak nyaman bagi ibu maupun bayi. Sementara itu, kondisi ibu yang kelelahan atau mengalami stres juga dapat membuat perjalanan menyusui terasa lebih menantang.
Artinya, ketika muncul kekhawatiran mengenai ASI, ibu tidak harus langsung berfokus pada seberapa banyak ASI yang dapat diperah atau seberapa sering bayi menangis. Evaluasi terhadap keseluruhan proses menyusui juga penting dilakukan.
Jika masih terdapat keraguan mengenai kecukupan ASI atau pertumbuhan bayi, ibu dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi untuk mendapatkan evaluasi yang sesuai.
Nutrisi Ibu Juga Tak Kalah Penting
Di balik proses menyusui, kondisi ibu juga menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan. Nutrisi yang cukup dibutuhkan agar ibu tetap memiliki energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari sekaligus mendukung proses menyusui.
Khusnul mengingatkan bahwa asupan nutrisi ibu perlu diperhatikan karena tubuh menggunakan cadangan nutrisi dalam menjalankan berbagai fungsi, termasuk produksi ASI.
“Nutrisi yang masuk ke tubuh ibu akan diserap dan turut menjadi ASI. Karena itu, pola makan ibu menyusui idealnya diperhitungkan untuk dua orang, yaitu ibu dan bayinya, agar ibu tidak mudah kelelahan akibat cadangan nutrisinya terus terpakai untuk produksi ASI,” ujarnya.
Pemenuhan nutrisi ini juga menjadi salah satu topik yang dibahas dokter spesialis gizi klinik, dr. Yulin Arditawati, Sp.GK, dalam acara tersebut.
Menurut dr. Yulin, protein menjadi salah satu komponen penting yang perlu diperhatikan ibu menyusui. Sementara karbohidrat dan lemak tetap dapat dikonsumsi dengan memilih jenis yang tepat dan menjaga keseimbangan pola makan.
Ibu Menyusui Tetap Bisa Aktif Berolahraga
Selain makanan, aktivitas fisik juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup ibu menyusui. Olahraga tidak semata-mata ditujukan untuk membakar kalori atau mengembalikan berat badan setelah melahirkan.
Dr. Yulin menyarankan ibu menyusui tetap aktif melalui berbagai jenis olahraga, mulai dari jalan kaki dan senam hingga latihan kekuatan menggunakan beban seperti dumbbell.
Menurutnya, latihan kekuatan penting untuk membantu menjaga kekuatan otot dan tulang. Ia menyarankan latihan beban dilakukan sekitar dua kali dalam seminggu dan diselingi latihan kardio, dengan total durasi olahraga sekitar 30–40 menit per hari pada intensitas sedang.
Tentu, jenis dan intensitas olahraga tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing ibu, terutama bagi ibu yang masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan.