Kunci Hubungan Harmonis, Ini Cara Membagi Tugas Rumah Tangga Secara Adil untuk Suami Istri

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 04 September 2026, 11:55 WIB

ringkasan

  • Beban pekerjaan rumah tangga seringkali tidak seimbang, dengan perempuan menanggung porsi lebih besar, memicu ketidakpuasan.
  • Data HILDA 2022 menunjukkan perempuan menghabiskan 18,4 jam/minggu untuk pekerjaan rumah tangga, 50% lebih banyak dari laki-laki.
  • Kedatangan anak pertama secara signifikan meningkatkan beban pengasuhan (71%) dan rumah tangga (63%) bagi perempuan.

Fimela.com, Jakarta - Pembagian tugas rumah tangga yang seimbang antara suami dan istri merupakan fondasi penting bagi kepuasan hubungan dan kesejahteraan individu. Namun, realitas di banyak rumah tangga, termasuk di Australia, seringkali menunjukkan adanya ketidakseimbangan. Perempuan umumnya menanggung porsi pekerjaan rumah tangga yang lebih besar, sebuah pola yang dapat memicu ketidakpuasan dan konflik.

Menciptakan keadilan dalam pembagian peran domestik bukan hanya tentang siapa yang melakukan apa, tetapi juga tentang komunikasi, empati, dan penghargaan terhadap kontribusi masing-masing. Dengan memahami dinamika yang ada dan menerapkan strategi yang tepat, pasangan dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan harmonis.

Di berbagai belahan dunia, termasuk Australia, beban pekerjaan rumah tangga rutin seperti menyiapkan makanan, mencuci pakaian, dan menjaga kebersihan rumah, secara tidak proporsional masih diemban oleh perempuan. Data dari Survei Household, Income and Labour Dynamics in Australia (HILDA) tahun 2022 menunjukkan bahwa laki-laki menghabiskan rata-rata 12,8 jam per minggu untuk pekerjaan rumah tangga, angka yang tidak berubah signifikan selama dua dekade terakhir. Sebaliknya, perempuan meluangkan waktu 50% lebih banyak, yakni rata-rata 18,4 jam per minggu untuk tugas-tugas domestik.

 

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Menguak Realita Beban Rumah Tangga yang Tidak Merata

Susunlah daftar lengkap semua tugas yang perlu diselesaikan di rumah, termasuk “beban mental” yang sering kali tidak terlihat. (dok. unsplash/Novi Thedora)

Ketidakseimbangan ini menimbulkan persepsi ketidakadilan. Dr. Inga Lass, salah satu peneliti di balik laporan HILDA, mengemukakan bahwa perempuan cenderung merasa pembagian kerja tidak berbayar ini tidak adil dan kurang puas dengan porsi yang mereka emban dibandingkan dengan pasangan laki-laki mereka. Kondisi ini semakin diperparah dengan kedatangan anak pertama. Bagian perempuan dalam pekerjaan berbayar menurun drastis, dari sekitar 46% tiga tahun sebelum melahirkan menjadi 16% segera setelah melahirkan. Di waktu yang sama, peran mereka dalam pengasuhan anak melonjak hingga 71% dan pekerjaan rumah tangga meningkat menjadi 63% pada tahun pertama pasca-melahirkan.

Sebuah survei lain, Families in Australia pada akhir tahun 2020, mengungkapkan bahwa meskipun sebagian besar pasangan merasa puas dengan pembagian tugas, perempuan jauh lebih sering menyatakan ketidakpuasan dibandingkan laki-laki. Ketidakpuasan ini paling menonjol di kalangan perempuan yang merasa bahwa tugas rumah tangga sebagian besar atau selalu mereka yang mengerjakannya. Lebih lanjut, laporan tahun 2024 dari Dr. Jenny Baxter dari Australian Institute of Family Studies menyoroti bahwa di 78% keluarga pasangan di Australia, beban mental secara konsisten ditanggung oleh ibu. Beban mental ini meliputi perencanaan, pengorganisasian, dan pemikiran mendalam tentang segala aspek kehidupan keluarga, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk anak-anak, pasangan, dan anggota keluarga lainnya.

3 dari 4 halaman

Membangun Keseimbangan: Strategi Efektif Pembagian Tugas Rumah Tangga

Lakukan tugas demi keuntungan bersama dalam hubungan, bukan sebagai bentuk “bantuan” kepada pasangan. /Photo by Jason Briscoe on Unsplash

Meskipun tidak ada satu pun formula yang cocok untuk semua, cara pasangan mendekati pembagian tugas rumah tangga dapat menjadi penentu antara hubungan yang harmonis atau penuh konflik. Dengan menerapkan beberapa strategi berikut, pasangan dapat mencapai pembagian yang lebih adil dan memuaskan:

  • Komunikasi Terbuka dan Negosiasi Ulang

    Pilihlah waktu yang tenang dan bebas dari stres untuk membahas kebutuhan serta harapan masing-masing. Penting untuk saling mendengarkan tanpa bersikap defensif dan mempraktikkan empati. Diskusikan bagaimana tugas dapat dibagi berdasarkan kekuatan dan kelemahan individu. Pasangan sesama jenis sering menunjukkan pendekatan yang lebih egaliter dalam pembagian kerja, yang dapat menjadi inspirasi bagi pasangan heteroseksual. Ketiadaan asumsi berdasarkan peran gender tradisional mendorong komunikasi lebih intens, menghasilkan stres dan konflik yang lebih rendah.

  • Membuat Daftar Tugas dan Menetapkan Harapan Jelas

    Susunlah daftar lengkap semua tugas yang perlu diselesaikan di rumah, termasuk “beban mental” yang sering kali tidak terlihat. Tentukan secara spesifik siapa yang bertanggung jawab atas setiap tugas. Apabila ada tugas yang tidak disukai oleh kedua belah pihak, sepakati cara untuk menanganinya, misalnya dengan bergantian setiap minggu. Manfaatkan alat bantu seperti bagan tugas, papan tulis, atau aplikasi untuk melacak serta mengingatkan tugas.

  • Fleksibilitas dan Semangat Kerja Sama Tim

    Penting untuk memiliki keluwesan peran. Jika salah satu pasangan biasanya memasak, pasangan lain bertanggung jawab memastikan makan malam tetap tersedia jika yang pertama berhalangan. Lakukan tugas demi keuntungan bersama dalam hubungan, bukan sebagai bentuk “bantuan” kepada pasangan. Saling menghargai dan mengucapkan terima kasih atas setiap kontribusi akan memperkuat ikatan. Lakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan bahwa tanggung jawab masih dibagi secara adil.

  • Mempertimbangkan Preferensi dan Efisiensi

    Bagilah tugas berdasarkan apa yang disukai, dikuasai, atau lebih sesuai dengan jadwal masing-masing. Misalnya, jika satu pasangan tidak masalah dengan mencuci piring tetapi tidak suka menyapu, dan yang lain sebaliknya, mereka dapat bertukar tugas. Pendekatan ini dapat mengurangi potensi rasa dendam karena setiap orang melakukan tugas yang lebih mereka sukai.

  • Mengatasi Perbedaan Persepsi

    Pasangan mungkin memiliki definisi yang berbeda mengenai standar “bersih” atau “adil”. Oleh karena itu, penting untuk berkompromi dan mengkomunikasikan harapan secara jelas. Penelitian menunjukkan bahwa individu cenderung melebih-lebihkan kontribusi mereka sendiri dalam tugas kelompok. Dengan demikian, jangan berasumsi bahwa pasangan Anda memiliki pandangan yang sama tentang pembagian tugas.

  • Mencari Bantuan Eksternal (Outsourcing)

    Jika ada tugas tertentu yang tidak disukai oleh kedua belah pihak dan kerap memicu konflik. Misalnya, menyewa bantuan rumah tangga profesional dapat menjadi solusi yang meringankan beban dan mengurangi ketegangan.

  • Menghindari Perilaku Negatif

    Jangan menunggu pasangan meminta bantuan; ambillah inisiatif untuk membantu. Hindari mengkritik cara pasangan melakukan tugas, karena hal ini dapat membuat mereka enggan untuk membantu lagi di kemudian hari. Jangan berasumsi bahwa pasangan mengetahui apa yang Anda rasakan atau pikirkan. Hindari bersikap defensif atau menuduh pasangan “cerewet” jika mereka mengungkapkan kebutuhan akan bantuan.

4 dari 4 halaman

Konsekuensi Ketidakseimbangan Peran dalam Hubungan

Dengan mengatasi isu pembagian tugas rumah tangga secara proaktif dan melalui komunikasi yang efektif, pasangan dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih memuaskan. /Photo by Francesca Tosolini on Unsplash

Pembagian tugas rumah tangga yang tidak merata dapat menimbulkan serangkaian dampak negatif yang signifikan pada hubungan. Ketidakseimbangan ini seringkali berujung pada konflik hubungan, ketidakpuasan yang mendalam, dan bahkan dapat memengaruhi keintiman antar pasangan. Beban mental yang tidak seimbang, terutama yang seringkali ditanggung oleh perempuan, dapat berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.

Lebih jauh lagi, penelitian yang dilakukan di Australia mengindikasikan bahwa baik persepsi keadilan maupun jumlah jam yang disumbangkan laki-laki untuk pekerjaan rumah tangga merupakan prediktor penting dalam kasus perceraian. Ketidakseimbangan yang terus-menerus dan tidak terselesaikan dapat menumpuk rasa dendam dari waktu ke waktu, mengikis fondasi hubungan. Dengan mengatasi isu pembagian tugas rumah tangga secara proaktif dan melalui komunikasi yang efektif, pasangan dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih memuaskan.