Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, belakangan ini mouth taping ramai diperbincangkan di media sosial sebagai cara sederhana untuk mendorong napas lewat hidung saat tidur. Pendukungnya menyebut praktik ini bisa membuat tidur lebih berkualitas hingga berdampak baik bagi kesehatan secara umum. Di tengah antusiasme tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah mouth taping aman dan sejauh mana sains mendukung klaimnya?
Mouth taping dilakukan dengan menempelkan plester perekat di atas mulut sebelum tidur, dengan tujuan mencegah pernapasan mulut. Popularitasnya terdorong oleh konten di platform seperti TikTok serta buku laris Breath: The New Science of a Lost Art, bahkan memunculkan industri plester mulut bernilai miliaran dolar. Meski demikian, komunitas medis menekankan perlunya kehati-hatian karena bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas dan beragam.
Dari sisi fisiologi, pernapasan hidung memang memiliki sejumlah keunggulan. Hidung berperan sebagai filter dan pelembap udara, menyaring alergen, serta membantu mengatur suhu udara yang masuk. Bernapas lewat hidung juga membantu mencegah iritasi tenggorokan dan mulut kering saat tidur, serta berpotensi mengurangi dengkuran. Selain itu, aktivasi reseptor di hidung berkontribusi pada keteraturan napas dan mempertahankan tonus otot di orofaring sehingga dapat menurunkan risiko kolaps saluran napas.
Advertisement
Advertisement
Mengapa Mouth Taping Viral dan Apa Tujuannya
Di ranah gaya hidup dan kesehatan, mouth taping dipromosikan sebagai strategi untuk mengalihkan pola napas dari mulut ke hidung. Tujuan utamanya adalah memaksimalkan manfaat pernapasan hidung yang dianggap lebih ideal untuk kenyamanan tidur dan kebersihan mulut. Narasi ini menyebar cepat melalui unggahan pengalaman pribadi dan klaim manfaat di media sosial.
Ketenaran mouth taping tak lepas dari dukungan anekdotal dan eksposur luas. Selain pengaruh media sosial, referensi dari buku best-seller turut memperkuat minat publik. Dampaknya, permintaan akan produk plester mulut meningkat pesat hingga membentuk pasar komersial bernilai miliaran dolar, dengan beragam merek menawarkan plester berpori hingga varian hipoalergenik.
Meski tujuan praktik ini jelas—mendorong pernapasan hidung saat tidur—para ahli menilai penerapannya tidak boleh disamaratakan. Kondisi anatomi dan kesehatan tiap orang berbeda, sehingga menutup mulut secara sengaja perlu dipertimbangkan dengan cermat, terutama bagi mereka yang mengandalkan pernapasan mulut karena hambatan pada hidung.
Mouth taping: Klaim Manfaat Dibanding Bukti Ilmiah
Pendukung mouth taping menyebut beragam manfaat: tidur lebih nyenyak, napas lebih baik, mencegah bau mulut dan mulut kering, mengurangi dengkuran, bahkan klaim non-respiratori seperti membentuk garis rahang atau struktur wajah, kulit lebih bersih, menurunkan tekanan darah, hingga meningkatkan kadar oksigen tubuh. Daftar klaim ini luas, namun perlu ditimbang terhadap data ilmiah yang tersedia.
Menurut Dr. Faisal Zahiruddin, pulmonolog dan spesialis kedokteran tidur di Houston Methodist, data saat ini belum memadai untuk merekomendasikan mouth taping. Senada, Dr. Jessica Camacho, asisten profesor kedokteran internal di CU Anschutz, menilai bukti yang ada tidak berkualitas tinggi dan hasilnya beragam. Hingga tahun 2026, belum ada pedoman klinis resmi yang mendukung mouth taping sebagai terapi gangguan tidur apa pun.
American Academy of Sleep Medicine secara tegas merekomendasikan untuk tidak melakukan mouth taping. Beberapa studi kecil memang menunjukkan pengurangan dengkuran yang signifikan, namun dampaknya pada sleep apnea ringan masih tidak konsisten. Ada temuan yang menunjukkan menutup mulut dapat meningkatkan aliran udara pada individu dengan pernapasan mulut sedang, tetapi justru memperburuk aliran pada mereka yang pernapasan mulutnya lebih parah.
Sebuah studi percontohan pada tahun 2023 yang melibatkan 30 peserta melaporkan bahwa plester mulut berpori dapat menurunkan indeks apnea-hipopnea (AHI) pada pasien dengan sleep apnea obstruktif ringan. Meski demikian, para penulis studi tersebut menegaskan hasil ini tidak boleh digeneralisasi karena ukuran sampel yang kecil. Dengan kata lain, bukti yang ada belum cukup kuat untuk mengubah praktik klinis.
Advertisement
Risiko Kesehatan yang Diangkat Dokter Tidur
Di tengah klaim manfaat, para ahli menggarisbawahi potensi bahaya yang tidak bisa diabaikan. Salah satu risiko paling serius adalah asfiksia atau gangguan pernapasan. Dr. Zahiruddin menjelaskan, bagi sebagian orang dengan penyumbatan hidung—akibat hidung tersumbat, septum menyimpang, atau alergi—pernapasan mulut menjadi krusial untuk menjaga aliran udara memadai. Pada kelompok ini, menutup mulut justru berisiko.
Dr. Zahiruddin menambahkan, mouth taping berpotensi menyebabkan asfiksia pada individu dengan obstruksi hidung, sleep apnea, regurgitasi, atau refluks asam. Risiko lain yang disorot adalah terhambatnya aliran udara yang dapat membahayakan mereka dengan saluran napas menyempit.
Dr. Brian Chen, spesialis kedokteran tidur anak, menekankan bahwa praktik ini dapat memicu kesulitan bernapas yang parah serta penurunan kadar oksigen yang signifikan. Bagi penderita sleep apnea, kurangnya aliran udara atau turunnya kadar oksigen saat tidur bisa membebani jantung, paru-paru, dan organ vital lainnya.
Selain risiko pernapasan, penggunaan plester pada area mulut berpotensi menimbulkan masalah kulit seperti iritasi, reaksi alergi, ruam, atau kemerahan—terutama ketika menggunakan plester yang tidak hipoalergenik. Plester juga bisa memerangkap keringat dan kelembapan, sehingga menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri di sekitar mulut.
Dari sisi kenyamanan, sensasi mulut yang tertutup rapat dapat meningkatkan kecemasan dan justru mengganggu kualitas tidur. Dengan berbagai potensi efek samping tersebut, praktik mouth taping tidak dianjurkan bagi siapa pun yang memiliki riwayat alergi kronis dan hidung tersumbat, sleep apnea, penyakit refluks gastroesofageal (GERD), atau kondisi jantung dan paru-paru, termasuk asma.
Langkah Aman: Kapan Harus Konsultasi dan Alternatifnya
Konsensus di antara para ahli kesehatan menegaskan bahwa mouth taping bukan solusi universal. Karena itu, penting untuk berbicara dengan dokter sebelum mencoba. Pendekatan ini membantu menilai kondisi dasar yang mungkin menjadi penyebab pernapasan mulut dan menentukan langkah yang paling aman sesuai kebutuhan individu.
Jika seseorang tetap ingin mencoba, saran dari Dr. Zahiruddin adalah menggunakan plester mikropori hipoalergenik dan menempelkan strip kecil di bagian tengah bibir yang tertutup, sehingga masih memungkinkan sedikit aliran udara. Cara ini dimaksudkan untuk meminimalkan hambatan napas total ketika kondisi hidung tidak sepenuhnya optimal.
Lebih jauh, mengidentifikasi dan menangani penyebab mendasar pernapasan mulut menjadi prioritas. Alergi, septum menyimpang, atau hidung tersumbat kronis sebaiknya ditangani terlebih dahulu. Apabila Anda mendengkur terus-menerus, mengalami tersedak saat tidur, atau merasa sangat mengantuk di siang hari, konsultasi dengan profesional kesehatan sangat dianjurkan.
Pada akhirnya, fokus pada kebiasaan tidur yang sehat dan evaluasi medis merupakan pendekatan paling aman dan efektif untuk meningkatkan kualitas tidur. Tanpa bukti ilmiah yang kuat serta adanya potensi risiko, mouth taping sebaiknya diperlakukan dengan kehati-hatian dan tidak dijadikan andalan tunggal untuk mengatasi keluhan tidur.

![[Fimela] Gangguan Tidur](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/eDujLKZOpG9Xf0dURUI9lX1Vweo=/1280x720/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2923702/original/098120700_1569563536-kinga-cichewicz-FVRTLKgQ700-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316107/original/035215600_1785913306-IMG_2377.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334263/original/099632900_1787827902-woman-doing-her-workout-home-fitness-mat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333400/original/048021400_1787752757-IMG_3988.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5235429/original/058388200_1748420140-menahan_lapar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333027/original/045499900_1787728459-IMG_2492.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7603723/original/024514100_1780387722-pexels-mehmet-altintas-392989477-31486443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7826343/original/031913400_1780645907-pexels-cottonbro-6181839.jpg)
![Bikin anak makin sehat, ini rahasia trik stimulasi grounding. [Dok/Pexels.com/Ron Lach].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/cgstAcTvTYUIV7GNtQsuPEOVcXU=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7955671/original/027065700_1780791938-pexels-ron-lach-10033218.jpg)
![Jadwal screen time anak perlu dijadwalkan oleh orangtua. [Dok/Pexels.com/Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/LK86RnhAWzlG7K1ijIgo3wL9INw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8051043/original/064727300_1780894473-pexels-thepaintedsquare-4200824.jpg)
![Sahabat Fimela, foto keluarga yang terlihat spontan justru sering terasa lebih natural dan penuh cerita dibanding pose yang terlalu formal. f[Dok/freepik.com/pchvector]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/dvcaFlLD52L-XiJszSMZSwrQzQY=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5631062/original/040957100_1778229336-12873.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5934075/original/055087900_1778831527-pexels-maksgelatin-4775196.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293366/original/017821600_1783695315-DSC09836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570303/original/045253200_1777521902-mom-daughter-making-high-five_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457158/original/075801100_1766989393-senivpetro.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542574/original/034170700_1774946838-medium-shot-people-yoga-mat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5436169/original/033702700_1765164894-medium-shot-woman-working-from-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5294924/original/059949500_1753424920-aditya-romansa-5zp0jym2w9M-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331472/original/000237400_1787545626-katsia-jazwinska-mPCaVEv-pqs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335646/original/011346500_1788009959-IMG-20260829-WA0049.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335626/original/080018000_1788008067-1000118220.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5292222/original/022875000_1753247405-efee62e2-84c3-4d97-89c6-32bf7b5f099d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335594/original/051360000_1788001267-f88a50f6-f3e5-4260-8d0d-80e85f511f82.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335585/original/092679400_1787999956-WhatsApp_Image_2026-08-29_at_16.53.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335220/original/060493400_1787922560-WhatsApp_Image_2026-08-28_at_19.50.29.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2923702/original/098120700_1569563536-kinga-cichewicz-FVRTLKgQ700-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316107/original/035215600_1785913306-IMG_2377.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5574954/original/053187100_1778013941-000_A9TT4P2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3967625/original/078291500_1647608985-pexels-liliana-drew-8554372.jpg)